Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 149


🌻🌻🌻


Minggu di ujung bulan di gunakan pasangan suami istri ini hanya bersantai di rumah, tak ada kegiatan di luar seperti sebelum sebelumnya karena akhir akhir ini Melisa sering mengeluh cepat lelah dan sakit di bagian pinggang, Seringnya sulit tidur di malam hari membuatnya kurang fit saat siang, atau karna buang air kecil yang teramat sering ia rasakan sepanjang malam.


Duduk bersantai setelah sarapan pagi di gazebo halaman belakang hal yang tepat untuk di lakukan sambil menikmati sinar matahari yang belum begitu terik.


Reza sedang sibuk memberikan makan ikan koi jumbo peliharaannya sedang Melisa hanya memperhatikan sambil terkadang meringis nyeri.


"Udah mulai panas, masuk yuk"


Melisa menggeleng, ia meraih ponselnya Untuk melihat jam pada layar benda pipih itu.


"Masih pagi, baru jam sepuluh" jawabnya, lalu kembali meletakkannya asal.


"Tuh kamu keringetan" kata Reza sambil mengusap kening sang istri yang terdapat buliran air bening.


"Gak apa apa, sehat loh gerah jam jam segini"


"Iya tapi jangan lama lama juga di luar, nanti kamu gosong" kekehnya sambil menciwil hidung Melisa yang sudah tenggelam di kedua pipinya yang semakin bulat.


"Mas, aku mau es krim"


"Mau ikut masuk apa tunggu disini?"


"Aku tunggu disini aja, tapi jangan lama-lama"


Reza hanya mengangguk sambil membelai pucuk kepala sang istri, kemudian berlalu masuk kedalam rumah lewat pintu dapur bersih.


Semua ART Langsung menepikan diri saat tuan mudanya masuk begitu saja, memang bukan hal aneh karna Reza terbiasa berada di dalam dapur terlebih jika dua wanita tercintanya Melisa dan Mama sedang heboh menyiapkan makanan kecil untuk cemilan ataupun hanya sekedar masak untuk makan bersama.


Ia terdiam di depan freezer besar di sudut dapur, matanya terus menatap satu persatu es krim di box besar yang sengaja ia sediakan untuk sang istri, yang kapanpun jika ia inhjn tak perlu repot-repot ke minimarket hanya untuk menikmatinya.


"Duh, gak nanya mau yang mana?" gumamnya , lalu mengambil beberapa untuk ia bawa kembali ke gazebo belakang tempat KHUMAIRAHnya menunggu.


"Lama ih,"


"Aku bingung mau bawa yang mana tadi, aku bawa semua rasa buat kamu, tinggal pilih"


Melisa sibuk memperhatikan satu persatu, ia ambil lalu meletakkannya lagi begitu seterusnya sampai akhirnya ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Reza, meski ia tahu maksud dari wajah masam istrinya.


"Gada yang kacang hijau" ucapnya.


"Iya, gak ada. cuma itu"


"Mau aku beli dulu?" Reza menawarkan diri.


"Enggak, aku makan ini aja"


Ia menggambil satu bungkus ice cream mochi yang lembut.


"Aw" tiba-tiba ia meringis dan sedikit menjerit.


"Kenapa?" raut panik jelas terlihat di wajah Reza.


"Sakit perut" jawabnya setelah menghembus nafasnya pelan pelan.


"Aku telepon Caca bentar"


"Sayang, Kamu sakit." ujar Reza gemas.


"Udah enggak, masuk yuk aku mau tiduran" ajaknya kemudian.


Reza dengan sigap memapah bahu Melisa, berjalan dengan perlahan masuk kedalam rumah langsung menuju lift.


TRIIIIIIIING


Bunyi lift berbunyi menandakan mereka sudah berada dilantai atas.


"Mau lagi?" tanya Reza sambil menggoda.


"Ish, apa sih!" kekehnya sambil memukul dada Reza berkali kali.


"Aw, iya kan aku nawarin. kali aja mau enak kali denger bunyi TRING, kan kata kamu babynya mau lebih dari lima kali"


"Enggak, kali ini cukup sekali" jawabnya tegas.


Rsza masih tergelak dengan ucapan sang istri hanya mengiyakan walau dengan nada mencibir membuat Melisa mendengus kesal.


"Pelan pelan, Ra"


"Duh, sakit, Mas" lagi lagi Melisa meringis.


"Duduk dulu, aku ambil air putih"


Setengah gelas sudah habis Melisa minum, ia menghela nafas dalam-dalam dan di hembuskan secara perlahan.


"Ke rumah sakit ya sayang"


"Gak perlu, udah enggak ko' tadi cuma keram ada pergerakan disisi kanan tiba tiba"


"Ya udah, sekarang tiduran dulu"


Reza langsung membaringkan tubuh istrinya dengan posisi miring ke kiri dengan tiga bantal sebagai penyangga.


"Mau tidur?" tanya Reza pelan karna si cantik sudah memejamkan matanya.


"Iya, sebentar aja" jawabnya tak kalah pelan.


Reza kini duduk bersimpuh di sisi ranjang, dengan tangan saling mengegenggam satu sama lain, ia hanya fokus pada wajah wanita di depannya kini, wanita yang ia nikahi secara mendadak setahun silam tanpa mengenal lebih dulu.


Wanita yang kini berstatuskan Istri dan ibu dari calon anaknya kelak, wanita yang sembilan bulan ini berjuang bersama buah hati mereka.


"Aku mencintaimu, jangan pergi. ku mohon!"


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Gak bang, paling pergi ke alam mimpi doang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


sini sama neng, kalo bete🀭🀭


biar di temenin sambil dangdutan πŸ™„πŸ™„..


Like...like....like.. yuk di likeπŸ‘πŸ‘


jangan lupa komennya juga ya🍁