Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 86


🌻🌻🌻


Pertemuan untuk pertama kali setelah sebulan lebih Melisa tak berkunjung membuat Langit tak ingin lepas darinya, wanita yang memeluknya di pinggir jalan yang kemudian membawanya ke panti asuhan.


Dalam dekapan Melisa Langit terlelap dengan mudahnya, ia menyandarkan kepalanya di ceruk leher milik pria yang sedari tadi merengut kesal.


"Ayo pulang" ajak Reza serasa hari mulai gelap.


"Tunggu sebentar, aku bawa langit kekamar dulu"


Melisa bangkit dari duduknya di ruang tengah meninggalkan suaminya yang sedari tadi mengobrol dengan Ilham juga Umi.


Reza tak lepas menatap punggung wanita yang semakin lama semakin menjauh hilang dari pandangannya.


"Loh ko balik lagi?" tanya Reza yang bingung saat sang istri datang menuntun Langit.


"Langit gak mau di tinggal, kita pulang ke apartemen ya ajak langit" pinta Melisa seakan memohon lewat sorot matanya.


Reza membuang nafas kasar, tak ada pilihan kecuali menuruti keinginan sang istri, setelah di izinkan suaminya akhirnya ibu hamil itu membereskan beberapa baju langit untuk salinnya di apartemen, setelah semuanya siap ketiganya berpamitan dan langsung bergegas masuk kedalam mobil.


Didalam mobil langit tak hentinya berceloteh apapun yang ia lihat ia tanyakan dengan antusias Melisa sangat menikmati hal itu sedangkan Reza hanya sesekali melirik walau kadang ada senyum kecil di sudut bibirnya saat langit bersikap menggemaskan.


Sampai di lantai dua puluh delapan, mereka langsung masuk kedalam apartemen, Reza mandi dan Melisa segera ke dapur membuat makan malam sedangkan bocah laki-laki itu duduk manis di kursi meja makan.


" udah wangi banget masak apa, Ra?" tanya Reza yang ikut bergabung di meja makan.


"Cuma ada bakso di kulkas, Mas" jawab Melisa dengan tangan yang masih sibuk memegang spatula.


"Wangi banet, kan?" celoteh anak itu yang membuat Reza meliriknya.


"Ngomong aja belom bener" ledek Reza mencebikkan bibirnya.


"Benel, om!" sahut langit polos, walau Reza terus meledek juga menjahilinya namun bocah itu tak sedikitpun marah padanya.


"Sudah-sudah, ayo makan"


Melisa memberikan mangkuk dan gelas pada dua pria yang sedari tadi hanya berdebat.


Mengisinya dengan mie dan juga sayur tak lupa bakso a ini omyam, telur rebus beserta kuahnya.


"Mas Reza sambelnya lagi gak?"


"Udah ah, takut sakit perut"


Langit yang sulit memotong bakso akhirnya meminta Melisa untuk membantunya, namun karena nalurinya akhirnya tak hanya memotong Melisa pun akhirnya menyuapinya juga.


Reza tak tinggal diam, ia pun melayangkan aksinya.


"Aaawww"


Melisa langsung menoleh kearah suaminya, dilihatnya Reza merintih kesakitan memegang tangan kanannya.


"Mas Reza kenapa?" tanya Melisa bingung, ia letakkan kembali sendok yang belum ia sodorkan pada Langit.


"Gak tau tangan aku keram mendadak" jawabnya sambil memijit pelan pergelangan tangannya.


"Tadi gak apa-apa kan?"


"Iya, kan tadi aku bilangnya ngedadak sakit"


Melisa langsung meraih tangan suaminya, di pegangnya dengan pelan.


"Aku ambil obat oles dulu ya"


Belum Melisa bangkit, tangannya sudah di cekal lebih dulu.


"Nanti aja, aku udah laper banget"


Melisa mengernyitkan dahinya, dan kembali duduk menghadap sang suami.


"Mau aku suapi?" tanya Melisa dengan senyum menggoda.


Reza langsung menganggukkan kepala berkali kali mengiyakan ucapan sang istri.


"Ya udah, buka mulutnya"


Kini tangannya harus sibuk menyuapi dua pria sekaligus yang berada di sisi kanan kirinya, Reza sesekali menjulurkan lidahnya pada Langit, Langit yang tak mengerti justru terkekeh melihat tingkah Reza.


Memang tak ada perdebatan lagi, namun tangan jahil Reza terus saja menggoda Langit.


"Udah, ih" rengek Langit saat Reza terus melemparnya dengan serpihan kerupuk pangsit.


"Mas udah dong" ucap Melisa yang sudah mau merapihkan meja makan.


"Langit mau langsung bobo?"


"Nda ah, tadi udah bobo"


"Heh, anak kecil jangan tidur malem malem, liat tuh udah jam berapa?" ucap Reza menunjuk jam dinding di atas TV 42 inch yang tergantung di tembok.


"Iya, nanti" jawabnya santai dengan tangan terus mewarnai selembar kertas.


"Tapi jangan malem malem ya" kata Melisa yang kini duduk di sebelah langit, ia usap kepala bocah itu penuh kasih sayang.


Melisa menggandeng tangan Langit saat bocah itu menguap berkali kali, Melisa tak mengizinkan Langit untuk meneruskan mewarnai gambarnya.


"Langit bobo disini ya" ucap Melisa saat membuka pintu kamar tamu.


"Cendilian?" tanya langit menatap bingung Melisa.


"Sama Buna, yuk masuk" ajaknya lagi.


Langit lebih dulu merangkak naik keatas kasur berukuran sedang itu, menarik selimut dan meminta Melisa cepat mendekatinya.


"Jangan di matiin ya" pintanya saat Melisa memegang remote kecil.


"Ok, kamu takut ya?" kekeh Melisa yang langsung mengusap punggung Langit sampai terlelap.


Ceklek.


Melisa menoleh ke arah pintu, terlihat Reza berdiri di ambang pintu, meski tak berbicara apa-apa tapi Melisa tau maksud kedatangan suaminya, di rapihkan nya kembali selimut tebal itu agar menutupi tubuh kecil Langit.


"Ayo," ajak Melisa sambil bergelayut manja di lengan sang suami.


"Gak ngapa-ngapain kan?" tanya Melisa yang sudah berada di pelukan Reza.


"Kamu tuh maunya aku apa-apain aja deh"


"Aku nanya loh, bukan ngajakin!"


"Sama aja, itu tuh kode, aku juga tau" kekeh Reza menggoda sang istri yang tak terima.


"Gak! aku cuma nanya" ucap Melisa dengan tegas.


"Tapi kalo di ajakin mau kan?"


"Ya udah ayo cepetan" Melisa malah tertawa sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Usai sudah tugas keduanya.


Reza membenarkan selimut dan mengambil pakaiannya yang berserak di lantai, kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Reza memilih keluar dari kamar saat kantuk belum juga ia rasakan, duduk di sofa panjang ruang tv di temani beberapa cemilan.


****


Pagi ini Melisa bangun dengan perasan aneh, tak biasanya sang suami bangun lebih dulu darinya, ia meraih piyama dan bergegas mandi.


"Mas Reza kemana ya?" gumamnya saat TV menyala namun tak ada siapapun disana.


Langkahnya kini tertuju pada kamar tamu yang di tempati Langit semalam.


CEKLEK.


Pintu ia buka dengan pelan, senyum kini mengembangkan di wajah cantiknya..


"Eh, Buaya lagi meluk kadal rupanya"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kan kalo aku enak bang 😂😂😂


Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️❤️