
π»π»π»
" Yayang?"
"Nama yang lucu, mungkin dia anak bungsu kaya Chaca!" gumamnya pelan dengan senyum di ujung bibirnya yang merah alami.
"Akan aku simpan, mungkin lain kali bertemu lagi" entah kenapa ia berharap dan mengatakan itu sambil menyimpan Kalung tersebut di saku celananya.
"Lama banget dah ah.." gerutu Ay saat adiknya itu mendekat.
Reza menyerah kan sebuah kartu pada Bumi untuk membayar semua buku yang sudah di pilih anak-anaknya, entah berapa buku yang dibeli Cahaya karna satu keranjang penuh dengan novel kesukaannya.
"Kamu mau beli apa?" bisik Reza saat menunggu Bumi dan Langit melakukan transaksi di kasir.
"Gak mau apa apa, semua masih ada di dapur!" jawab Melisa polos apa adanya
"Dapur Mulu yang di pikirin!" dengus Reza kesal.
"Ya aku mikirin apa lagi?, kan semua udah di atur mas Reza, aku kan taunya cuma urusan dapur"
"Kasur... kamu butuh sesuatu gak buat di kasur"
Melisa menggelengkan kepalanya.
"Seprei aku masih ada banyak yang belum di pake, abis enakan yang udah lama, hahaha" sahutnya sambil tertawa.
"Udah tua, anak udah empat masih aja gak ngerti kode-kodean, ampun!" gerutu Reza menahan kesal.
*****
Keluar dari toko buku, semuanya kembali ke mobil untuk melanjutkan makan siang, pilihan kali ini tentu rumah makan lesehan seperti biasanya, keluarga konglomerat itu lebih suka makanan lokal di banding harus makan di sebuah restauran bintang lima.
"Gak kenyang!!!"
Itulah yang selalu di keluhkan saat perut berasa kurang di manjakan.
"Kakak mau ini.. ini.. ini...ini.. ini juga!" tunjuk si sulung seperti biasa, semuanya sudah hafal dengan kebiasaan buruk cucu pertama keluarga Rahardian itu, memesan semua menu lauk yang ia sukai tanpa nasi.
"Aku mau ini aja" ucap Bumi pada pelayan yang masih mencatat pesanan kakaknya.
"Abang mau apa?" tanya Cahaya pada Langit.
"Samain aja sama kamu, dek" jawabnya.
"Ughhh, so sweet!!!" goda Air sambil tertawa.
"Abang tuh gak punya pendirian, nanti Adek nyebur juga Abang ikutan nyebur, ckckck" ejekan Ay didepan mama dan papanya kadang membuat Cahaya harus ikhlas menahan marah.
kenapa Ay meledek?
"Awas ya!!" ancam si bungsu dengan sorot mata mematikan.
"Mas Reza pesan apa?" Melisa mencoba mengalihkan pertengkaran si sulung dan si bungsu.
"Aku mau sop Iga aja, kayanya seger banget"
"Kamu mau apa?" Reza balik bertanya karna istri tercintanya itu belum memilih menu makan untuknya sendiri.
"Aku berdua aja nanti sama kakak, paling juga gak habis"
Melisa tetap seorang ibu dan wanita biasa walau ia di takdir kan menjadi istri dari seorang pengusaha kaya raya terkenal di negri ini, dan tentunya juga menjadi seorang ibu yang sudah berhasil melahirkan dan mendidik tiga orang anak para pewaris harta kekayaan keluarga Rahardian Wijaya yang tak sedikit tentunya.
Tiga remaja yang usianya masih belia namun sudah memiliki harta yang luar biasa.
"Nanti suapin ya, mah" pinta Ay dengan manja.
"Iya, tapi pake sayuran, ok ?"
Ay langsung memutar bola mata malas, jangankan memakan mendengar kata sayur saja membuat ia jengah dan ingin muntah.
"Biar sehat, kak!" goda Bumi dengan senyum mengejek
"Aku udah sehat lahir bathin" sahutnya dengan nada jengkel.
.
.
.
.
" ya Tuhan, berikan jodoh Air seorang dokter ahli gizi biar dia tahu pentingnya memakan sayuran!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ**
Panik gak?
panik gak?
panik lah masa enggak πππππ
amiin in yuuuuuuk πππππ
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈβ₯οΈ