
🌻🌻🌻
TIIIIIIIINNN
Reza terus menekan klakson jika ada pengendara lain menghalangi jalannya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tak perduli orang lain yang mungkin akan terkena imbasnya. Yang ada di otaknya adalah bagaimana caranya agar cepat sampai pada orang yang ingin ia habisi saat ini juga.
"Siang Tuan" sapa seorang penjaga saat mobil mewahnya berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.
"Buka!" titahnya tegas tanpa senyum ramah yang biasa ia tunjukan.
"Baik, Tuan" jawab satpam segera, ia bingung dengan sikap keponakan majikannya.
Setelah di buka kan pintu gerbang, mobil Reza segera masuk ke area garasi samping rumah mewah itu.
Langkahnya semakin cepat saat terlihat pintu rumah terbuka lebar.
"Tan..Tante!" teriaknya di ruang tamu.
"Den, Reza" sapa wanita paruh baya dari arah belakang.
"Mana Tante Desy, bi?" tanya Reza.
"Ada, mungkin di kamar, biar bibi panggilkan"
"Tidak usah, Bi" ujar Tante Desy sambil terus menuruni tangga.
"Ada apa mencari Tante dengan berteriak? apa seperti ini adalah keponakan Tante, Reza?" ucap Tante Desy dengan angkuhnya.
"Mungkin kemarin masih iya, tapi untuk hari ini,TIDAK!" sahut Reza dengan penuh amarah.
"Den, ada apa?tidak baik bicara begitu" bibi mengusap lengan Reza, wanita paruh baya itu ketakutan.
"Kenapa, Bi? apa bibi fikir Reza akan diam saat istri Reza di usik olehnya?" tunjuk Reza pada Tante Desy yang kini tepat di hadapannya.
"Hey, berani kamu?" Tante Desy yang tak terima menepis tangan Reza dari wajahnya.
"Kenapa? Tante saja berani terhadap istriku" ucap Reza penuh penegasan.
Tante Desy mendengus kesal, ia tak habis fikir keponakan tersayangnya akan melakukan hal kurang ajar padanya.
"Istri macam itu kenapa selalu kalian banggakan?" kata Tante Desy dengan tangan sudah melipat di dada.
"Apa maksud Tante!"
"Ya tuhan, Za. apa yang mau di banggakan dari gadis itu, Tante yakin dia hanya pura pura-pura polos" ejek Tante Desy.
PRAAANG...
Sebuah guci berukuran sedang berhasil Reza lempar ke lantai membuat Tante Desy dan bibi terkejut hebat. pecahannya berserakan kemana-mana
"Reza!" sentak Tante.
"Apa? Tante mau marah?" tanya Reza yang sudah mengepalkan tangannya, geram.
"Lalu apa Karna ini rumah Tante, Tante bisa menganggu istriku yang datang baik-baik untuk menjemput adikku?"
"Tante sudah bicara omong kosong padanya, sampe ia harus mengalami stress!" teriak Reza, ya benar-benar hilang kendali.
"Den, bibi mohon tenang" bibi menarik tangan Reza yang hendak mendekat kearah tantenya.
"Bi, Istriku masuk rumah sakit karna lidahnya"
"Tante hanya menasehati, mungkin istrimu yang terlalu terbawa perasaan"
"Cukup Tante, aku masih diam saat Rossa menggangu istriku dirumah karna aku tahu itupun akal akalan Tante menyuruh Rossa menginap dirumah mama, tapi kali ini aku gak akan diam lagi"
Prok..prok..prok..
Tante justru bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak suaranya Sampai menggema ke seisi ruangan.
"Rasa sakit hati Tante karna kamu menolak Rossa tak sebanding dengan sakit hati istrimu wahai Tuan muda Rahardian"
Reza yang yang marah semakin tak bisa menguasai emosinya lagi, jika saja satpam tak memegang tubuhnya mungkin wanita di hadapannya itu sudah terbanting di lantai.
"Kalian menolak Rossa mentah mentah malah justru membawa gadis yang tak jelas asal usulnya untuk menikah denganmu" sungut Tante Desy mengeram kesal.
"Melisa lebih baik dari Rossa, asal usulnya jelas! dia anak yang punya orang tua" kini nada bicara Reza pelan namun sangat melukai hati tantenya.
"Meski Tante mengubah Rossa menjadi berlian tetap saja, dia anak seorang pembantu yang hanya Tante urus sejak bayi"
"Cukup Reza!"
"Dengar Tante, keturunan Rahardian akan lebih jelas jika ia lahir dari seorang wanita yang jauh lebih bermartabat dari pada lahir dari pada seorang gadis yang sudah tercuci otaknya hanya untuk menguasai harta keluargaku!"
"Kamu!" kini telunjuk Tante tepat di hadapan Reza.
"Nikmati hidupmu, jangan selalu jadikan Rossa obsesimu untuk mengejar harta"
Setelah mengatakan itu Reza berlalu pergi namun langkahnya terhenti dan ia membalikan tubuhnya, di raihnya lagi vas bunga diatas bufet dekat pintu utama.
PRAANG
Suara pecahan kembali terdengar, kini pecahan itu tepat di depan kaki Tante Desy.
"Jangan harap aku akan memaafkan mu!"
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥..
sayang banget bang di pecah-pecahin..
othor Ampe kaget loh😂😂 .
cukup guci aja sama vas yang di pecahin hatiku mah jangan ya ♥️♥️
Like komennya yuk ramaikan