Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 87


🌻🌻🌻


Melisa terkejut saat suaminya tiba tiba mencium pipinya yang sedang membuat sarapan, ia menatap aneh Reza yang rapih memakai kemeja dan juga celana jeans hitam.


"Mas Reza mau kemana?" tanya Melisa Bingung.


"Aku ada urusan sebentar, ada kekacauan sedikit di kantor nanti kamu sama Langit kerumah mama ya diantar pak Agus tapi kalau mau ke panti dulu buat anter Langit gak apa apa" ucapnya tergesa-gesa.


Melisa tak menjawab, ia hanya diam saat seluruh wajahnya di ciumi Reza sebelum pergi.


"Gak sarapan dulu?" Melisa sedikit berteriak dari arah dapur.


"Gak, sayang nanti aku sarapan di Jalan"


Melisa terduduk lemas di meja makan, tangannya yang masih memegang pisau di letakkan nya begitulah saja.


"Mau kemana sih?, sampe gak sarapan dulu" gumam Melisa, kesal.


"Bunaaaa" panggil langit tiba-tiba dari dalam kamar.


Melisa yang mendengar langsung menghampirinya.


"Eh, udah bangun? mandi yuk lalu sarapan" ajak Melisa yang langsung di iyakan oleh Langit.


Bocah laki-laki itu sangat senang saat Melisa mengurusnya, mulai dari memandikan sampai memakai baju semua di lakukan Melisa dengan cekatan sambil sesekali bercanda dengan Langit membuatnya sedikit melupakan rasa kecewanya pada Reza.


"Udah ganteng, udah wangi, sekarang sarapan ya" ucap Melisa setelah menyisir rambut hitam Langit.


Langit hanya ikut saja saat Melisa menuntun tangannya menuju dapur, ia duduk manis di kursi meja makan menunggu Melisa menyiapkan sarapan untuknya.


"Ayo di makan" Melisa sudah menyodorkan sendok ke mulut mungil Langit.


"Enak gak?" kata Melisa sambil terus mengaduk nasi goreng dan telor dadar sosis di piring.


"Enak banget, Om mana?" tanya Langit menanyakan Reza.


"Omnya kerja, nanti kita kerumah mama Buna ya main sama kakak Ameera"


Langit mengangguk, dan terus melahap sarapannya sampai habis.


Drrrtttt drrttt drrrttt


Getaran ponsel di atas nakas terus bergetar membuat Melisa yang sedang mandi harus cepat menyelesaikannya.


"Siapa sih?"gumamnya sambil terus melangkah kearah sisi tempat tidur.


Diraihnya benda pipih itu dan tertera nama mama disana.


"Hallo, Mah" jawab Melisa setelah menggeser tombol hijau.


"Kamu masih dimana?, pak Agus udah jemput loh" kata mama disebrang sana.


"Aku baru mandi, habis ini aku turun ke lobby, mah"


"Ok, mama tunggu di rumah ya Sayang"


"Iya mah" jawab Melisa lalu menutup teleponnya.


Melisa duduk di tepi ranjang, mencari kontak suaminya, ingin rasanya ia menelepon namun lagi-lagi ia urungkan, Sampai akhirnya ia letakkan kembali dan meneruskan aktivitasnya.


"Langit, ayo kita jalan sekarang" ajak Melisa setelah rapih dan siap berangkat.


"Ayooooo" ucapnya antusias.


Melisa menggandeng tangan mungil itu menuju lift, masuk ke dalam kotak besi untuk membawanya sampai ke Lobby.


"Siang, pak Agus" sapa Melisa saat melihat seorang pria sedang berdiri di sisi mobil milik mertuanya.


"Selamat siang juga, Nona" jawab pak Agus.


"Mari, Non" Pak Agus langsung membuka pintu mobil bagian belakang mempersilahkan nona mudanya masuk lebih dulu.


"Terima kasih"


*********


Mobil mewah yang dinaiki Melisa dan Langit akhirnya masuk kedalam garasi mewah rumah sang mertua.


Sudah ada Ameera yang menunggunya dari tadi di teras.


"Kakaaaaaaak" teriaknya senang saat Melisa baru menurun kan kakinya.


"Hallo sayang"


"Eh ada siapa?" Ameera melirik kearah Langit yang tertunduk di belakang kakak iparnya itu.


"Ayo kenalan dulu" Melisa menarik tangan langit agar mau bersalaman dengan Ameera.


"Langit" ucapnya pelan.


"Ameera, panggil aku kakak Meera ya" sahut gadis remaja itu.


"Yuk, masuk" ajak Melisa menuntun keduanya masuk kedalam rumah.


Ia mencium punggung tangan mertuanya secara bergantian.


"Ini siapa?" tanya mama melihat bocah yang sedang di rangkul anak bungsunya.


"Ini Langit, anak panti yang kebetulan lagi nginep sama aku,Mah" jawab Melisa yang langsung duduk disisi mama.


Bocah kecil itu langsung memberi salam kemudian berlalu saat Ameera mengajaknya bermain.


"Oh, begitu. bagaimana keadaanmu apa ada keluhan sayang?" tanya mama sambil mengusap perut menantunya itu.


"Baik, Mah, aku gak ngeras apa-apa malah aku bingung banget" Lirih Melisa sedih, ia memang tak merasakan apa yang biasanya ibu hamil alami.


"Ya sudah, biarkan suamimu yang repot" kekeh Mama.


"Reza berangkat kapan, Mel?" tanya papa.


"Tadi pagi, malah gak sempet sarapan dirumah"


"Papa kira dia gak mau dateng" kata papa dengan senyum kecilnya.


"Memang kemana? aku kira ke kantor" ucap Melisa penasaran.


"Iya ada rapat dadakan disana tapi papa rasa Reza ikut kelapangan guna memantau langsung kekacauan yang dibuat anak buahnya itu" ucap papa lalu menyeruput kopinya.


Melisa menatap mama yang duduk santai, wanita paruh baya itu sangat mengerti kegelisahan istri dari anaknya itu.


Baru beberapa bulan menyandang status istri dari seorang pengusaha membuat Melisa belum paham betul pekerjaan sang suami.


"Mel, kandungan mu sudah empat bulan apa sebaiknya kita adakan syukuran"


"Iya, mah mel juga mau begitu,"


"Bagaimana menurut papa?" tanya mama pada Suaminya.


"Lakukanlah, apapun itu jika menurut mama baik" kata papa dengan nada lembut.


"Ya sudah kita kedapur yuk, ada eyang disana katanya mau buat Makanan" ajak mama langsung meraih tangan Melisa.


Kini kedua wanita itu beranjak menuju dapur dimana eyang sedang membuat brownies keju kesukaan Ameera.


"Eyang," sapa Melisa pada wanita yang sudah terlihat banyak keriput di wajahnya.


"Ya ampun, Nak" eyang langsung memeluk Melisa dan tak lupa mengusap pelan perut yang membuncit itu.


"Eyang, aku akan adakan syukuran empat bulanan kandungan Melisa, bagaimana menurut eyang?" tanya mama setelah ketiga nya duduk melingkar di meja makan bundar.


"Bagus itu, kapan?" tanya eyang sangat antusias.


"Secepatnya ya mah" sahur Melisa menoleh kearah mama mertuanya.


Mama mengangguk, lalu tersenyum.


"Nanti kita adakan pengajian, dan undang anak Yatim piatu" ucap eyang.


"Kita bisa undang adik adik asuhmu, Mel" kata mama.


"Iya, Mah. nanti aku bicarakan dengan Umi"


_____


Makan malam selesai, semua berkumpul di ruang tengah seperti biasa, Ameera yang tak mengizinkan Langit pulang akhirnya masih sibuk bermain.


Berkali-kali Melisa melirik jam dinding yang terus berputar sampai jarumnya kini tepat pukul delapan malam.


"Reza belum pulang juga?" tanya mama, mertuanya itu sangat peka dengan kegelisahan Melisa.


"Iya,Mah mana ponselnya mati" ucap Melisa khawatir.


"Tadi Robby bilang, semua urusan selesai jam enam" kata papa yang membuat Melisa dan mama saling pandang


"Lalu kemana anak itu selama dua jam ini?" dengus mama kesal, tak mungkin perjalanan pulang memakan waktu selama itu.


"Coba kamu hubungi lagi" titah papa.


"Iya,Pah"


Melisa langsung meraih ponselnya kembali, mencari kontak bernama HUBBY dan langsung memencetnya.


Tuuut...tuuut...tuuuuuuut


"Iya, Hallo"


DEG....


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Halo... halo Bandung kota kenang kenangan...


ih si othor malah nyanyi 🤭🤭🤭...


Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️❤️❤️