
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Apa jadinya jika Cahaya tak ada Langit?
Atau Langit tanpa Cahaya?
Apa yang bisa mereka lakukan, tentu pasti akan hilang keseimbangan karna keduanya saling melengkapi.
Sosok gadis rapuh itu hanya bisa berpegangan pada tangan pria mandiri yang memiliki rasa sabar tanpa batas bahkan sepertinya Langit tak pernah punya rasa marah pada gadis kecilnya itu.
"Bang...."
"Hem.. kenapa?, apa Abang terlalu keras menyisir rambutmu?" yang Langit yang masih duduk di belakang kekasihnya.
"Aku.. Aku mimisan!"
Deg...
Sisir yang di pegang Langit jatuh ke pangkuannya, bagai tersambar Petir dunianya bagai berhenti sekian detik sebelum akhirnya ia memutar tubuh Cahaya.
"Sayang.. ya ampun!" pekiknya terkejut.
Langit langsung bangun dari duduk meraih kotak tissue diatas meja, dengan sangat hati-hati dan pelan ia menyeka darah segar yang keluar dari hidung si bungsu
"Sakit?" tanya Langit dengan nada bergetar, hatinya begitu sakit.
"Enggak, Bang. Cuma sesek dikit" jawabnya pelan sambil terus mencoba menarik nafas.
"Pelan-pelan sayang, jangan di paksa. Abang ambil minum dulu sebentar ya"
Tubuh tingginya langsung beranjak ke dapur yang memang bersebelahan dengan ruang tengah, ia mengambil gelas kaca kemudian di isinya dengan air putih hangat.
"Di minum dulu, sedikit sedikit ya, Abang ambil obat"
Langit menyenderkan tubuh Cahaya ke sofa agar gadis itu bisa bernafas lebih leluasa, buliran keringat di kening dan telapak tangannya sudah sangat membanjiri.
Dengan langkah cepat bahkan sedikit berlari, Langit langsung masuk kedalam kamar untuk mengambil obat yang rutin di konsumsi si bungsu, ia mengusap air matanya sebelum kembali keruang tengah.
Gak.. Abang gak akan biarin itu terjadi.
Ia terus bergumam dalam hati yang sedang merasakan ketakutan luar biasa.
.
.
Usai meminumkan obat, kini tubuh lemah itu beralih dalam dekapan Langit, ia tak ingin sejengkal pun jauh dari pria yang selalu menjaga nya itu.
"Jadi pergi kan, Bang?" tanya Cahaya dengan suara sangat pelan
"Enggak! Abang gak mau kamu kenapa kenapa, ini pasti gara-gara kamu nunggu Abah tadi, iya kan!"
Cahaya terkekeh, ia selalu senang jika Langit memarahinya Karna rasa Sayang pria itu seakan berkali-kali lipat padanya.
"Jangan begitu lagi, Janji ya?" punya Langit.
"Iya, Abang. aku saking senengnya mau pergi jadi gak sabar mau cepetan, di tambah kita gak ketemu dua hari aku kan kangen" ujarnya dengan begitu manja seperti biasa.
"Anak nakal!" Balas Langit dengan mencubit pipi putih mulus Cahaya.
Ia menciumi pucuk kepala gadis itu berkali-kali, menikmati aroma rambut panjang si bungsu yang kian hari kian menipis karna rontok efek obat yang ia minum, semakin lama dosis obat itu kian bertambah seiringnya turunnya kesehatan Cahaya.
"Ayo, Bang" ajak si bungsu.
"Enggak. Kamu harus istirahat"
Gadis itu merengut kesal, di lipatnya tangan di depan sebagai tanda ia kini sedang merajuk marah.
"Besok deh berangkat nya ya, kalau kamu udah gak lemes Abang janji pagi pagi kita pergi, Ok" rayu Langiy yang hanya di balas anggukan.
Cahaya pun tak bisa memaksa karna memang badannya benar-benar terasa begitu lemah, ia hanya pura-pura merajuk agar prianya itu merayu.
"Yuk, Abang gendong ke kamar"
"Siap?" tanya Langit saat sudah berdiri.
"Let's goooooo" kekeh Cahaya.
keduanya tertawa sambil menaiki anak tangga sampai akhirnya kini sudah berada di depan pintu kamar Cahaya.
"Buka, Dek" titah Langit, ia tak bisa melakukannya karna tangannya sedang menompang tubuh mungil si bungsu.
CEKLEK..
Cahaya langsung membuka pintu, suara gelak tawa mengiri langkah pria dua puluh tahun itu masuk kedalam kamar.
"Adek mau sesuatu?" tanya Langit saat si bungsu sudah duduk bersandar di punggung ranjang.
"Enggak. Adek cuma mau tidur ditemenin Abang" pinta Cahaya dengan senyum yang membuat ia nampak lebih cantik.
"Itu tanpa kamu pinta pasti Abang lakuin, sayang"
Langit membantu Cahaya untuk berbaring kemudian menyelimuti gadis itu sampai sebatas pinggang.
"Abang jangan pergi ya"
"Iya, Abang disini sampe kamu tidur"
Langit menarik kursi kecil dan duduk di sisi ranjang, tangan keduanya saling menggenggam erat, jika sudah seperti itu Langit akan dengan lembut memainkan jari jemari Cahaya hingga gadis kecilnya itu benar-benar terlelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAAAAAAKKKKK
Bang, ikut om sekarang juga!!!!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dasar gajah Laknat!!!
Ngagetin gua aj Lo 😠😠😠
Ada apa sih, bang?
Sengaja ya mau bikin gue jantungan!!
Sini gue cium dulu bibirnya 🤭🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan ❤️