Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 180


🌻🌻🌻


Ana..


Gadis cantik dengan balutan baju khas keperawatan itu duduk termenung di halaman samping klinik tempat ia bekerja sambil memegangi ujung jari manisnya yang terbalut plester berwarna coklat, entah apa yang ia pikirkan hatinya kini berkecamuk seakan ingin marah namun entah kepada siapa!


"Adek Abang yang cantik kenapa melamun sendiri disini?" Rafka yang tiba tiba datang duduk disebelah Ana langsung merengkuh bahunya.


"Abang kagetin aja"


"Ngapain disini?, gak jagain pria tampan di dalam?" goda Rafka dengan menaik turunkan alis tebalnya.


"Dia sedang berbicara dengan anak istrinya melalui telepon" jawab Ana lirih.


"Apa kamu tak ingin mendengarnya, makanya sampai kabur kemari?" tanya Rafka serius.


Ana langsung menoleh, kini kedua mata adik kakak tersebut saling bertemu dan menatap.


"Abang bicara apa, mana mungkin Ana begitu" elaknya langsung membuang pandangan.


"Hahaha, kamu sudah sebesar ini belum pandai berbohong ya" ejek Rafka dengan mencubit pipi putih mulus Ana


"Jika kalian bertemu lebih awal, Abang akan senang sekali dengan perasaan mu, tapi sayangnya dia sudah punya ikatan yang sah"


"Abang, Ana tak punya fikiran begitu"


"Baguslah, buang perasaanmu yang baru tumbuh itu jangan biarkan terus berkembang yang justru akan menjadi duri dalam hatimu sendiri" ujar Rafka.


Ana hanya diam, Matanya kosong menatap pohon Pinus yang tinggi dan kokoh di hadapannya.


Ana seakan merasakan jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan!


"Pria itu terlihat sangat baik, bukankah sangat beruntung wanita yang menjadi istinya disana?"


Pertanyaan Rafka tak di jawabnya, ia hanya mengangguk dengan mata yang mulai memanas siap menumpahkan air bening yang sudah tergenang sedari tadi.


"Kamu pun wanita yang baik, Abang yakin kau pun akan mendapatkan pria yang baik, mungkin waktunya yang belum ada"


Rafka menarik nafasnya dalam-dalam dan ia hembuskan secara kasar sambil menegak kan duduk nya.


"Sebaik apapun kamu, jika harus bersama dengan pria yang dicintai wanita lain kau akan tetap menjadi bayangan, An"


Ana kembali menoleh dengan senyum kecil di sudut bibirnya yang seakan di paksa kan.


"Ana masih punya hati bang, Ana tak pernah ingin berbagi masalah pasangan" jawabnya serius.


"Bagus, carilah yang belum termiliki, maka kamu akan bahagia saat menjadi satu-satunya"


"Terima kasih, bang. Abang menyadarkan Ana sebelum Ana semakin jauh terluka"


Ana langsung berhambur dalam pelukan Rafka, satu-satunya keluarga yang ia miliki selama ini sepeninggal orang tua nya beberapa tahun lalu.


"Cinta pertama ku ternyata menyakitkan!".


****


Reza


"Kawin makanya sono, gila Lo nonton begituan disini" dengus Reza kesal saat Ardi terus mempertontonkan video dewasa padanya..


"Biar kita senasib, anggap aja Lo di sini jomblo kaya gue, lagi begini gak bisa apa-apa kan Lo, ckck" goda Ardi.


"Sialan.. temen laknat!" gerutu Reza.


Ardi hanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reza yang mulai memerah dan gelisah, ada sesuatu yang mengusik naluri kelelakian nya


"Mau gue anter ke kamar mandi gak?, buang calon cebong Lo, hahaha"


"Bibit gue unggul semua, Rugi gue di buang gitu aja, lagian sorry ya gue udah punya wadah pribadi " sahut Reza dengan mencibir.


"Wadah Lo lagi di segel empat puluh hari" Ardi terus saja menggoda Reza yang semakin uring-uringan, sebab sebulan ini ia tak bermain di lahan rimbun milik Istrinya.


"Hah..." Reza membuang nafas kasarnya ke udara dengan kasar, bayangan wajah Melisa selalu menari di peluk matanya.


Bahkan untuk saat ini bukan hanya wajahnya tapi seluruh lekuk tubuhnya yang selalu menjadi candu baginya.


"Ya elah, bini Lo ganggu gue aja" oceh Ardi saat ponsel yang ia gunakan untuk menonton hal yang menyenangkan harus terhenti saat Melisa menelpon.


"Nih, jangan lama-lama, gue lagi nanggung" kata Ardi sambil menyodorkan ponselnya pada Reza.


"Thanks, ya!" kekeh Reza.


Reza yang masih tersenyum Langsung mengangkat telepon dari sang istri yang berada dirumah.


"Halo, Ra" sapa Reza.


"Hallo, by. gimana udah enakkan belum?" tanya Melisa langsung menanyakan kabar suaminya.


"Mendingan, se egaknya aku udah bisa ngomong" sahut Reza.


"Syukur kalau gitu" balas Melisa dengan penuh rasa syukur.


"Kamu udah makan belum?" tanya Reza saat melirik jam di dinding.


"Makan sama apa?, aku bosen makan bubur terus" ucap Reza sedih.


"Sabar ya, Mas. nanti kalau udah sembuh aku masakin apapun yang mas Reza mau"


"Aku mau susu sama apem aja" goda Reza sambil tergelak dengan tawanya sendiri.


"ish, itu sih lain lagi, Mas"


"Ya udah, kamu makan apa tadi?" Reza mengulang pertanyaan nya


"Pepes ayam, Mas" sahut Melisa.


"Ayam terus, lama-lama kamu kaya musang" Reza kembali terkekeh.


"Biarin deh, adanya itu"


"Aku punya tebakan, jawab ya!" kata Reza


"Apa?, jangan susah susah, aku lagi males mikir"


"Kamu tau gak AYAM apa yang paling manis?" tanya Reza dengan senyum menggoda.


"Ayam semur, semur ayam, terus ayam di kecapin, hahaha" jawab Melisa sambil tertawa.


"Salah, Raaaa" sahut Reza.


"Apa dong, bener kan?, kan mas Reza tanya ayam apa yang manis?" protes Melisa tak ingin disalahkan


"Salah.. jawabannya tuh!" Reza menjeda ucapnya sesaat membuat Melisa kesal sambil memanyunkan bibirnya karna tak sabar menunggu jawabannya.


"Apa ih, cepetan!"


"Jawabannya adalah....."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"AYAM FALLING IN LOVE WITH YOU, Ra"


.


.


dibaca:


( *I'm falling in love with you,Ra)


(Aku jatuh cinta pada mu,Ra)


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦*


plesetin aja terus bang...


otak masih seger ya buat ngegombal 😘


Melisa hutan aman kan?


Gak becek kan🀭🀭🀭🀭


Senjata Laras panjang nya masih jauh


jadi belom bisa. Dooooooorrr!!!


si othor mulai makin gaje ngomongnya πŸ™„


Like komen nya aja deh yuk ramaikan ❀️❀️