
🌻🌻🌻
Jika lima tahun lalu ia akan turun dari mobil hanya seorang diri berbeda dengan akhir-akhir ini, tubuh tinggi tegapnya akan berjalan berdua dengan bocah kecil berusia tiga tahun yang tak kalah tampan darinya sambil berpegangan tangan.
Bumi...
Anak kedua Reza yang lahir selang dua menit dari kakaknya yang bernama Air atau semua orang sering menyebutnya kakak Ay..
Anak yang selalu nyaman dalam kesendirian dan selalu menghindar dari keramaian yang terdapat banyak orang yang tak di kenalnya.
Si tengah yang selalu menyelesaikan apapun dengan tenang dan rapih karna ia tak pernah suka mengulang sesuatu, semua harus selesai saat itu juga, dari sifat dan sikapnya tampak terlihat Bumi sosok yang berambisi kuat
"Kakak tunggu disini, sebelum makan siang baru kita pergi ya sayang" ujar Reza saat sampai di dalam ruangannya di lantai teratas sebuah gedung mewah pencakar langit.
"Iya, pah" sahut Bu yang sudah duduk di sofa, tangan mungilnya langsung mengeluarkan beberapa mainnya dari dalam tas yang sengaja ia bawa dari rumah untuk mengusir rasa bosannya selama menunggu Reza menyelesaikan pekerjaannya.
Sesekali Reza melirik sambil tersenyum ke arah Bumi yang asik bermain tanpa tak sedikitpun terganngu dengan adanya beberapa panggilan lewat sambungan telepon yang mengharuskan Reza lama berbicara.
"Kak sini" pangggil Reza pada Bumi yang langsung menoleh lalu bangkit dari duduknya menghampiri Reza di kursi kebeserannya
" Ada apa?" tanya Bu yang sudah duduk di pangkuan Reza.
" kakak suka di sini?"
Bocah kecil itu hanya mengangguk dengan ekspresi biasa membuat Reza tersenyum kecil, berbicara dengan Bu bagai berbicara dengan pantat wajah menurutnya.
"Kalo kakak suka disini, semua ini akan jadi milik kakak, kakak mau?" Reza kembali bertanya, bagaimana pun ia harus memberitahukan dan mengajarakan semuanya sejak dini kepada anak-anak nya seperti apa yang sudah papanya juga lakukan padanya dahulu, dan jika saatnya nanti tiba anak-anaknya tak terlalu terkejut dengan semua hal yang berbau bisnis.
"Untuk apa?" kini dengan raut wajah bingung ia pun bertanya.
"Untuk kakak semua" jawab Reza sebelum mencium pucuk kepala anak kebanggaannya itu.
"Caranya?"
"Kakak harus rajin belajar supaya pintar, Ok"
Bumi hanya mengangguk tanda paham, meski usianya baru menginjak tiga tahun lebih namun ia memiliki daya tangkap dan daya ingat yang kuat, Bumi adalah si bocah cerdas.
"Sebentar lagi waktunya, rapihkan mainnya kita bersiap" kata Reza sambil menurunkan tubuh bocah kecil itu dari pahanya.
Bu dengan sedikit berlari langsung menuju sofa dimana ia tadi menggelar beberapa mainnya, di masukannya kembali kedalam tas punggung miliknya.
"Ayo, kak" ajak Reza yang sudah siap setelah merapihkan kembali kemeja dan jasnya..
Keduanya keluar dari ruangan menuju loby kantor, beberapa asisten pribadinya sudah menunggu di area parkiran siap menuju tempat cabang baru kantornya di buka.
Sampai di tempat tujuan semua mata tertuju pada Reza yang menuntun Bumi, keduanya bagai pinang di belah dua beda generasi.
Bumi hanya mengikuti kemanapun Reza melangkah, bertemu dengan beberapa kolega dan rekan bisnis sampai harus menemani Reza naik keatas podium untuk memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasih.
Bumi memperhatikan semuanya dengan seksama bagaimana Reza bersikap dan berbicara seakan semua kini terekam dalam otaknya.
"Kita langsung pulang atau beli sesuatu dulu?" tanya Reza saat sudah memasuki mobil.
"Terserah papa" sahutnya sambil memasang setbelt.
"Papa telepon mama dulu ya, tanya kakak sama adek mau apa"
Bumi mengangguk sambil duduk manis disebelah Reza yang sudah meraih ponselnya.
"Hallo, Ra.."
"Anak-anak lagi apa?, aku sama kakak mau pulang kalian mau apa?" tanya Reza .
"Kakak tidur, nanti aku tanya Adek dulu ya" jawab Melisa di sebrang sana.
"Adek mau popcorn manis, kakak samain aja deh" ujar Melisa setelah beberapa saat beralih kepada si bungsu.
"Ok, kamu mau apa?" kini pertanyaan tertuju untuk istrinya tercinta.
"Gak, aku gak pengen apa apa"
"Ya udah, aku sama kaka otewe rumah ya"
Setelah memutuskan panggilan kini Reza menyala kan mesin mobilnya menuju jalan raya pinggiran kota, dengan kecepatan sedang ia melajukan mobilnya ke arah sebuah mall kecil untuk membeli dua popcorn pesanan kedua buah hatinya dirumah.
" kakak, mau rasa apa?" tanya Reza setelah berada di stand jajanan area food court.
"Aku mau jagung manis aja susu coklat"
"Popcorn nya?"
Bumi hanya menggeleng, Meski kembar ia jarang sekali menyamakan keinginannya.
"dua popcorn manis dan tiga cup jagung manis" pesan Reza pada pelayanan wanita berbaju kuning.
"Ada lagi?" tanya si wanita tadi.
"Itu saja"
Si pelayan wanita mengangguk, dan tak lama memberikan dua bungkus pesanan Reza.
Reza memberikan dua lembar uang pecahan merah dan menunggu struk beserta kembaliannya.
"Yuk pulang"
Selama perjalanan pulang kerumah orang tuanya Reza dan Bumi hanya sedikit terlibat obrolan ringan, tak ada yang terlalu penting untuk keduanya bahas.
Mobilnya kini sudah terparkir di garasi bersama deretan mobil mewah orang tuanya yang berjejer, nampak melisa dan cahaya sudah menunggu di teras rumah.
"Wah nungguin papa atau nungguin popocorn nih" goda Reza sambil meraih tangan si bungsu yang meminta di gendong.
"Papa dong, tapi mau popcornnya juga" tawa Cahaya membuat Reza gemas dan menciumi seluruh wajah bulat si bungsu.
Melisa meletakkan bungkusan yang di bawa suaminya itu ka atas meja ruang tengah, tangan mungil Cahaya langsung membongkar isi bungkusan pertama yang lebih besar.
"Asiiiiiiiiiiiiiikkkkk" teriak antusias putri kesayangan tuan Rahardian.
"Mamaaaaaaaaaaaa"
Semua mata langsung menoleh kearah tangga, ada si sulung yang sedang berlari menuruni tangga
"Kakak jangan lari nanti jatuh" teriak Reza khawatir.
"Papa bawa apa?" tanyanya dalam pelukan Reza.
"Bawa popcorn sama jagung manis buat kakak sama adek"
"Mauuuuuu, kakak mau!"
"Ini udah masing-masing jangan rebutan"
Melisa memberikan satu cup jagung manis dan satu cup jumbo popocorn pada ketiga anaknya
"Kakak Bu gak beli pocorn" tanya Melisa karna hanya dua popcorn dalam plastik.
"Enggak, Kakak jagung aja" sahut Bu sambil membuka tutup cup.
"Kok papa tau sih kakak mau popcorn" celoteh si sulung menggemaskan.
" Tadi papa telepon mama, tapi kata adek mau popcorn sama kaya kakak" jawab Reza sembari membuka dua kancing kemejanya.
"Oh jadi adek yang bilang papa buat beli pop corn"
"Iya dong, hihihi" sahut si bungsu tertawa dengan mulut terisi penuh makanan
CUP..
"Makasih ya dek" ujar Ay mencium pipi kanan adik perempuannya.
"Sama sama kak"
CUP...
"Satu lagi, takut yang kiri iri gak dapet cium"
.
.
.
GUBRAK....
.
.
.
.
.
.
"Ya ampun, Ra.. itukan kata kata aku, kenapa Ay bisa ikutin?" kata Reza menatap bingung dan keget pada anak sulungnya, Air
.
.
💦💦💦💦💦💦💦💦💦
Wah bang, lu di Plagiat si Ay 😂😂
itukan kata2 pas sehari abis nikah..
Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗🤗