Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 150


🌻🌻🌻


"Eugh"


Melisa menggeliat tanpa membuka matanya, hanya mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, seakan tak sadar ada sosok pria yang dicintainya sedang fokus memperhatikan dengan mata yang merah menahan tangis.


"Kamu wanita kuat, kamu yang terhebat aku yakin itu" gumam Reza sambil menyeka keringat di ceruk leher istrinya.


"Mas, lagi apa?" tanya Melisa setelah mengerjapkan matanya.


"Nemenin kamu, eh liatin kamu" kekehnya setelah menjawab.


"Gak ikutan tidur?"


"Aku gak ngantuk, lagi pengen aja liatin kamu lama lama"


"Bantu aku bangun, Mas"


Reza langsung bangun dari duduknya membantu Melisa agar bisa duduk bersandar di punggung ranjang dengan beberapa ganjalan yang bisa membuatnya lebih nyaman.


"Masih sakit gak?, masih keram?"


"Enggak, Mas. cuma pinggang agak panas, kenapa ya?"


"Aku telepon Caca, sebentar ya"


Melisa mengangguk, kini ia tak mencegah suaminya yang hendak menghubungi dokter yang menangani kehamilannya itu, Melisa diam sambil memejamkan matanya merasakan rasa panas dan pegal yang menjalar di daerah pinggangnya saat ini.


"Lo dimana?" tanya Reza saat panggilannya sudah tersambung.


"Bisa kesini?" tanyanya lagi.


"Ok, gue tunggu setengah jam lagi, awas kalo telat" ucapnya sebelum menutup telepon.


Melisa hanya menoleh sambil meringis menahan nyeri, bulir keringat kembali membanjiri kening sampai leher putihnya.


"Sabar ya, nanti Caca kesini buat periksa kamu"


"Gak kita yang kesana, kerumah sakit?" tanya Melisa sambil tercekat.


" Biar periksa disini dulu, aku udah hubungi Ambulance kalau keadaan kamu mendesak"


Tok tok tok


keduanya kini mengalihkan pandangan kearah pintu yang terketuk yang entah siapa.


"Sebentar, aku buka pintu dulu"


Dengan langkah gontai Reza menapaki lantai marmer menuju pintu kamarnya yang bercat putih bersih.


CEKLEK..


"Za, Melisa mana?" tanya mama saat pintu terbuka.


"Ada, mah" jawabnya sambil menyingkirkan tubuhnya karna mama langsung menyerobot masuk.


"Mel, kenapa sayang?" Mama langsung berhambur menangkup wajah menantunya setelah menghempaskan bokong di sisi ranjang.


"Gak tau, Mah. tadinya cuma sakit perut terus mules tapi sekarang pinggang ku panas Sama pegel" keluh Melisa pada mama mertuanya.


"HPL nya kapan, Za?" kini pertanyaan beralih pada putra sulungnya.


"Sebelas hari lagi, Mah"


"Caca tau? udah kamu hubungi dia belum?"


Mama terlihat panik dan khawatir, ia yang sudah berpengalaman dua kali tentu sudah paham keadaan dan kondisi yang di rasakan Melisa.


"Sabar ya sayang, tunggu Caca datang sebentar lagi"


TOK TOK TOK


pintu kembali di ketuk, kali ini Reza berharap Caca lah yang datang.


"Tunggu," kata Reza sambil melangkah mendekati pintu.


CEKLEK


"Huft, akhirnya Lo dateng juga" Reza membuang nafas lega.


"Kenapa, masih sakit banget memangnya?" Caca berbicra sambil terus berjalan kearah ranjang.


"Siang Tante, Mel" sapa Caca.


"Siang sayang"


"Siang, Dok"


"Gimana..gimana, apa yang kamu rasain" tanya Caca yang sudah duduk di tepi tempat tidur bergantian dengan Mama.


"Dari kemarin suka sakit tapi cuma beberapa kali, tapi hari ini mulai pagi aku lebih cepet"


"Sakit atau mules?"


"Kadang sakit kadang mules" jawab Melisa.


"Ok, cek tekanan darahnya dulu ya, karna Kamu punya riwayat hypertensi Gestasional"


Melisa mengangguk sambil mengulurkan tangan kanannya setelah Caca mengeluarkan alat medisnya.


"Masih sakit gak?"


"Enggak, tapi sedikit agak keram"


"Ok" jawab Caca sambil terus memeriksa.


"Hallo de'.. apa kabar sayang" ujar dokter cantik sambil mengusap usap perut Melisa, terlihat sedikit pergerakan yang membuat Reza menyunggingkan senyumnya.


"Anak Lo, responnya cepet banget" kekeh Caca pada si calon ayah.


"Sama gue mana pernah begitu" dengus Reza kesal.


"Haha, Lo banyak dosa kali, Za"


"Masih sama ya, Mel. HPL nya masih sebelas hari lagi tapi gak tau bakal mundur atau maju tapi kayanya dede nya mau cepet cepet ketemu momy sama Daddy nih"


"Udah 38 minggu lebih, kalau mau sekarang sekarang gak apa apa ko' "


"Gimana baiknya aja, Ca" ujar mama masih Khawatir.


"Aku cek PD dulu ya"


"Apaan tuh?" tanya Reza.


"Cek pembukaan" sahut dokter Rissa.


Melisa dan Reza saling menatap, meski keduanya mengerti maksud dari Caca tapi untuk memperaktekkan tentu belum pernah.


"Buka dalemannya, Za" titah Caca sambil mengulum senyum.


"Dengan senang hati"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗🤗