Suami Dadakan

Suami Dadakan
Bab 46


🌻🌻🌻


"ish, siapa sih?" dengus Reza kesal saat dering ponselnya berbunyi diatas nakas.


"Angkat dulu,Mas" titah sang istri yang berada di pelukannya.


"Males!"


"Kali aja penting"


"Lebih penting ini, terusin dulu!' Reza tetap berada di posisinya, tak ada niatan untuknya mencoba menerima panggilan itu.


"Angkat dulu"


Melisa berusaha mendorong tubuh suaminya yang semakin liar bermain di tebing atas puncak gunung.


"Aku gak mau ya ikut piknik ke kebun bintang!" ancam Melisa kemudian.


Dengan malas Reza akhirnya beranjak dari tubuh istrinya, hanya dengan membalikan badannya ia sudah bisa meraih benda pipih itu yang masih terus saja berbunyi.


"Mama?" gumamnya.


"Iya, Mah" jawab Reza setelah panggilan terhubung.


satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit sampai lima menit akhirnya panggilan berakhir, kini wajah Melisa berubah menjadi sendu ia sangat yakin mama mertuanya tengah membahas tentang rajukan Ameera yang ditinggal kan hari ini.


"Mama marah ya?" tanya Melisa setelah suaminya kembali meletakan ponselnya.


"Marah kenapa?" Reza justru balik bertanya.


"Soal Adek?"


"Haha, gak lah!"


Reza justru terkekeh dengan ucapan istrinya yang sepertinya sangat ketakutan, ia menikmati raut cemas yang jelas terlihat di wajah yang biasanya memerah itu


"Udah ah, lanjutin lagi, tanggung!" dengan cepat Reza menarik tubuh istrinya, ia melanjutkan tugas patrolinya yaitu memberikan jejak petualang.


***


Pagi ini semua berkumpul dimeja makan, ada Reza, Melisa, Rossa dan juga si bungsu Ameera.


Semuanya menikmati sarapan pagi tanpa obrolan apapun hanya Rossa yang masih sibuk membujuk Ameera untuk menyiapkan bekal makan siang.


"Mau ya?"


"Enggak,Aku gak mau!" tolak Ameera masih enggan menerima tawaran dari kakak sepupunya itu.


"Nanti kakak ke sekolah adek ya? bawain bekal kue, mau?" ucap Melisa yang ikut membujuk.


"Aku gak mau!, ayo kak cepetan" ajak Ameera pada Reza untuk mengantarnya pergi ke sekolah.


"Iya, nanti dulu"


Reza menyuapkan irisan roti terakhir kedalam mulutnya kemudian berpamitan pada sang istri.


"Aku berangkat ya sayang, hati-hati dirumah kalau ada apa apa cepet hubungi aku ya, termasuk kalau ada serangga yang ganggu kamu karna rumah mama belum di bersihin lagi" pesan Reza sebelum menciumi wajah istrinya yang terlihat sangat sedih.


Melisa hanya mengangguk pasrah, dipeluknya pria tinggi itu dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu"


Melisa mengurai pelukannya setelah Reza mengecup pucuk kepalanya berkali kali.


"Hati-hati dijalan,Mas"


"Hatiku selalu di kamu,Ra" sahut Reza sambil membuka pintu Mobilnya.


BUGH


Melisa yang ditarik secara mendadak dan disandarkan di tembok hanya menatap tajam mata Rossa yang berada tepat dihadapannya.


"Mau apa lagi?" tantang Melisa.


"Mau gue? mau gue lo pergi dari sini"


"Hah, kamu ngusir saya? tanpa di usir pun suami saya akan membawa saya pergi dari sini" balas Melisa masih menahan emosi.


"Pergi dari kehidupan keluarga Rahardian Wijaya" ucap Rossa penuh penekanan.


"Gue gak suka di keluarga gue ada hama busuk kaya Lo" ucap nya lagi sambil menunjuk bahu kanan Melisa dengan telunjuknya.


"Saya juga gak suka kalau ada serangga pecicilan di dalam rumah tangga saya, paham?" jawab Melisa dengan membalas menunjuk kening setan kecilnya.


Rossa yang sudah sangat geram akhirnya tak kuasa menahan emosinya, tangan kanannya sudah hampir menyentuh pipi kanan istri dari kakak sepupunya itu.


"Jangan pernah menyentuh bagian tubuhku meski itu hanya Ujung rambutku" ucap Melisa yang masih memegang tangan Rossa yang hampir menamparnya.


"Jika kamu tak suka, silahkan bicarakan pada keluarga Rahardian Wijaya dengan terbuka mintalah keluargamu untuk mengusir ku, bukan bermain drama receh dihadapan kami semua"


Melisa meninggalkan Rossa menuju kamarnya dengan gemuruh didalam dadanya, rasa sesak dan amarah ia tumpahkan di atas tempat tidurnya, tangisnya kembali pecah saat ia mengingat bagaimana ia harus mempertahan kan rumah tangganya.


Baru sesaat ia merasakan manisnya sentuhan sang suami namun ia juga harus merasakan pahitnya lidah orang orang disekitar sang suami.


Kepalanya yang terasa berat akhirnya membawa ia terlelap ke alam mimpi.


***


"Ya, tuhan! jam berapa ini?"


Melisa tersentak kaget saat ia mengerjapkan kedua matanya.


"Aku janji mau bawain makan siang buat mas Reza"


Dengan langkah cepat ia memasuki kamar mandi untuk mencuci mukanya,setelah itu ia beranjak kelantai bawah menuju dapur, tempat favoritnya.


Dibantu beberapa ART akhirnya ia bisa menyelesaikan masakannya sebelum jam makan siang, masih ada waktu untuk diperjalanan nanti, fikirnya.


Kini ia sudah bersiap, dengan menggunakan dress biru muda selutut ia berjalan menuju garasi mobil menemui pak Agus yang akan siap mengantarnya kemanapun


"Pak, kekantor suami saya ya" pinta Melisa pada supir pribadi keluarga mertuanya.


"Baik, Non" jawab pak Agus sambil mengangguk.


Selama perjalanan, Melisa tak hentinya menghubungi Reza. tak satupun pesannya yang terbalas, berkali-kali mencoba menghubungi hanya nada tunggu yang terdengar.


"Mas Reza kemana sih?" dengus Melisa kesal, ia menaruh kembali Ponselnya kedalam tas kecil yang ia bawa.


Sampai di gedung tinggi milik suaminya, Mobil pun berhenti, namun belum sempat ia turun dari mobil matanya menangkap bayangan mobil silver mewah suaminya yang berjalan hendak keluar kantor, kereta besi itu berjalan menuju jalan raya ibu kota.


"Mau kemana dia?"


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


kemana bang?


othor gak di ajak sih...🀭🀭🀭🀭


Like komennya yuk banyak2..


Follow juga vote yukβ™₯️β™₯️


sehat trs ya buat kalian yang udah klikπŸ‘