Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 193


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Jangan pernah panggil calon suami ku dengan sebutan Abang!!


Nana langsung tertunduk menutupi rasa malu dan tak enak hatinya saat di tembak dengan satu permintaan tanpa basa basi seakan menyadarkan tentang posisinya saat ini.


"Yuk, Bang" ajak Cahaya menarik tangan Langit.


Langit sangat mengerti dengan sikap si bungsu, Ia paham jika gadis kecilnya itu pasti kurang nyaman dengan apa yang ia dengar terlebih Nana adalah orang baru baginya.


"Abang tuh jangan terlalu baik, bisa gak sih! "


"kita kan emang harus baik sama semua orang, Dek" Langit menjawab sambil terkekeh saat keduanya berjalan beriringan menuju lift.


"Tapi ya liat-liat dulu orangnya, Di panggil pake sebutan Abang malah iya aja! seneng ya?"


Gadis kecil itu menunjuk wajah Langit dengan jari telunjuknya, matanm yang biasanya lentik dan sendu berubah bulat sempurna ditambah tak ada senyum sama sekali disudut bibirnya.


Langit yang melihat tingkah Cahaya malah tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat lucu dengan ekspresi si bungsu jika sedang cemburu.


Semunya terlihat sangat menggemaskan karna hal seperti ini jarang terjadi. Langit memang selalu menjaga hati dan pandangannya pada wanita lain di luar sana tapi kali ini tentu lain dari biasanya sebab wanitanya justru berada dalam satu atap dengan ibunya, mau tak mau suka tak suka Langit akan selalu bertemu.


"Adek tuh masih gak percaya aja sama Abang" ujar Langit saat keduanya kini sudah berada di dalam kotak besi


"Sama Abangnya percaya, tapi sama penggodannya aku tuh yang gak percaya" balas Cahaya dengan nada ketus.


"Dia bukan penggoda, Sayang. Dia hanya belum tahu harus memanggil Abang dengan sebutan apa. Dirasa hanya itu" jawab Langit memberikan pendapatnya.


"Bela aja terus!"


Langit meraih tubuh mungil si bungsu untuk ia dekap sambii mencium pucuk kepalanya berkali-kali.


"Buang pikiran buruk tentang hal yang akan membuat hubungan kita berakhir dengan pertengkaran, Ok"


.


.


.


Langit dan Cahaya kini sudah berada di apartemen milik Reza, ia mengantar Cahaya pulang kembali kepada orang tuanya yang saat ini sedang bersantai berdua di ruang tengah, tak adanya dua jagoan Rahardian membuat apartemen terasa begitu sepi dan lengang.


"Buna masih marah sama Abang?" tanya Langit.


Drama rajukan Melisa pada anak angkatnya itu tentu diketahui oleh semua orang yang ada dalam apartemen jadi Langit tak perlu berbicara empat mata saat ingin meminta maaf yang entah ini keberapa kalinya.


"Hem" Jawab Melisa hanya berdehem dalam dekapan sang suami.


"Abang janji gak akan bikin Buna kesel lagi" kata Langit dengan penuh keyakinan, meski Ia kini sudah dewasa tapi jika di hadapan Melisa Langit akan selalu bersikap manja bagai bocah sekolah dasar yang merengek minta uang jajan.


Hal seperti itulah yang membuat wanita cantik itu ketakutan jika Langit yang sudah ia besarkan dengan penuh kasih sayang melakukan hal serupa dengan ibu kandungnya juga.


"Janji Abang terlalu manis!" sindir Melisa.


"Masa sih, Ra?, kalo manis banget boleh tuh buat di jadiin takjil" timpal Reza yang bermaksud menggoda KHUMAIRAHnya yang masih saja merengut kesal.


"Gak usah macem-macem, aku lagi marah!" tegas sang istri.


"Sama aja, kalian tuh Nyebelin" balas Melisa yang langsung membuat Reza memutar bola matanya malas.


Langit yang kebingungan harus bagaimana lagi hanya bisa duduk bersandar di sofa dengan tangan memainkan jari-jari Cahaya.


Tapi gadis itu seolah acuh bahkan tak bicara sepatah katapun. Biasanya si bungsu akan menjadi orang pertama dan paling depan membela Langit.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Reza pada anak perempuan satu-satunya itu.


"Gak ap-apa, Pah" jawab si bungsu.


"Kalian bertengkar? " kini Melisa yang bertanya.


Cahaya dan Langit menggeleng kan kepalanya secara bersamaan.


"Terus? " Reza dan Melisa pun turut bertanya berbarengan.


"Cuma lagi kangen aja sama Abang" Jawab Cahaya sekaligus menyindir pria di sisinya itu.


"Ya udah mumpung Adek lagi kangen, Abang akan kasih laporan buat Buna sama Om! " Ucap Langit sambil membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak.


"Apa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


Adek tuh sama Abang kalo pagi kangen


Siang kangen


Sore kangen


Malem kangen


Jadi biar gak kangen terus kayanya harus secepatnya satu kamar deh....


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Mintanya udah bukan serumah lagi ya, Bang.🤣🤣


Karna dari orok udah serumah 😍😍


Like komennya yuk ramaikan.