Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 75


,🌻🌻🌻🌻🌻


"Loh, kakak mana?" tanya Melisa pada Bumi yang menghampirinya di dapur.


"Gak tau, Mah" jawab si tengah sambil menjatuhkan kepalanya di bahu sang mama.


"Kenapa?, Mama bikinin cemilan ya"


"Enggak, aku mau tidur aja" tolak Bumi yang kembali berdiri tegak.


"Ada masalah, ayo cerita"


Melisa membawa anak keduanya itu ke kursi meja makan, keduanya duduk berdampingan kini Melisa sudah siap mendengarkan keluh kesah sang anak.


"Akhir akhir ini perasaan aku gak enak banget, gak pernah tenang kaya yang resah gitu, Mah"


"Ada yang mau aku ungkapin tapi aku masih bingung dan gak tau itu apa" Tambahnya lagi.


"Aku ngerasa deket, tapi aku gak tau ke siapa"


Ada nada emosi, kesal, kecewa dan marah juga harapan yang Melisa dengar dari si buah hati yang sedang mencurahkan perasaannya.


"Aku lagi nunggu seseorang, Mah"


Akhirnya Bumi mau berterus terang juga setelah tiga tahun ia pendam sendiri


Melisa menautkan kedua alisnya, bingung


"Kamu nunggu siapa?" tanya Melisa yang juga penasaran.


"Entahlah, aku juga gak kenal. Aku sering ke toko buku tempat pertama kali aku lihat dia cuma berharap bisa ketemu lagi, tapi nyatanya sampai hari ini aku gak pernah ketemu dia"


Melisa memeluk Bumi penuh sayang, di balik diamnya ia tahu sang anak punya masalahnya sendiri. si tengah memang berbeda dengan dua saudaranya yang lain ia lebih senang menyimpan dari pada berbagi, hanya pada Melisa dan Langit ia mau bercerita itupun jika sudah tak sanggup lagi bisa ia pendam sendirian.


"Apa ada petunjuk lain agar kalian bisa bertemu?"


Bumi mengangguk dalam pelukan mamanya.


"Aku punya kalungnya ,Mah" ucap Bumi dengan suara parau, sepertinya remaja pendiam itu sudah menitikan air matanya.


"Kalung?" gumam Melisa sambil mengusap punggung Bumi.


Melisa yang terharu dan takut mulai nampak khawatir, perasaan ini tak pernah ia rasakan untuk si sulung.


"Kak, jangan terlalu menutup hatimu" pesan Melisa.


"Kamu boleh menunggunya, tapi bukan berarti kamu tak bisa menerima gadis lain dalam masa penantian mu itu" kali ini ia benar-benar merasa khawatir, bagaimana jika nanti sang anak semakin terpuruk dengan hati yang ia jaga begitu ketat demi hanya untuk satu gadis yang entah siapa dan dimana.


"Mama gak mau hal buruk terjadi padamu, kak"


"Mah, kakak cuma mau dia" tukas Bumi yang seakan sudah sangat mantap dengan pilihannya.


"Jangan bikin Mama takut, kak"


Bumi bangkit dari duduknya, dengan sedikit berlari ia meninggalkan Melisa menuju kamarnya sendiri di lantai dua, mengunci pintunya rapat-rapat agar tak ada satupun yang menganggu, dengan langkah gontai ia terus berjalan ke arah tempat tidurnya duduk di tepian ranjang lalu membuka laci kecil yang tepat berada di sisi tempat tidurnya.


Tangan bergetar Bumi mengeluarkan benda kecil dari dalam kotak kecil, sebuah kalung yang ia simpan selama tiga tahun dengan sangat baik, benda itu seakan mengikat hatinya agar tak menoleh pada siapapun.


Bahkan hanya untuk sekedar mencoba pun ia tak ingin, fokusnya selalu pada nama yang tertera di kalung itu.


Kamu dimana?


harus segiat apa lagi aku mencari mu..


tunjukkan dimana keberadaan mu dan akan ku pasti aku tak akan melepas mu apapun yang terjadi.


💕💕💕💕💞💞💞💞💞


Kakak ganteng yang sabar ya..


nanti ketemu kok , othor janji ✌️✌️


Tapi nanti ya ,😪😪😪 biar yayang main main dulu sama kakak Ay 🤣🤣🤣


Si playboy cap cebong keturunan gajah mesum itu biar tau rasa jagain jodoh orang 😆😆😆😆


Kabooooooooooooorrrr


Like komen nya yuk ramai kan ♥️