Suami Dadakan

Suami Dadakan
Letak Surga


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Duh.. kakak ngapain pada ribut sih? karna yang adil itu sekarang mama sama papa ikut Adek!" tegas Cahaya pada kedua kakak kembar laki-lakinya.


Mata Air dan Bumi begitu tajam menatap adik perempuannya yang justru terkekeh sambil memeluk Reza.


"Papa ikut adek, kan?" ucapnya lagi santai, sebagai little princessnya Rahardian tak salah jika si bungsu sering seenaknya terlebih saat ada Reza disana.


Saat si kembar terus berdebat, ada sosok pria tinggi meringsek mendekati Melisa sambil terus menciumi punggung dan telapak tangan wanita itu, siapa lagi jika bukan Langit, anak angkat yang kini merangkap menjadi menantu kesayangan Nyonya besar Rahardian.


"Abang baru sempet tengokin, Buna. Maaf"


Pelukan itu semakin erat mana kala Melisa mengusap lengan suami putrinya itu, keduanya saling melempar senyum dengan tatapan mata yang sama-sama teduh. Rasa sayang itu masih tetap sama, Langit masih menjadi yang paling berharga bagi Melisa yang sudah cukup puas mengurus putranya itu dengan tangannya sendiri.


"Abang sibuk, Buna cukup paham hal itu" sahut Melisa. Suara lembut yang selalu di rindukan Langit saat ia lelah penuh masalah.


"Tapi Abang kangen, telepon Buna ratusan kali sehari itu rasanya gak cukup"


Melisa terkekeh, tak hanya Air dan Bumi karna Langit juga termasuk yang paling rajin menghubunginya meski hanya bertanya kabar dan itu kadang tak cukup sekali atau dua kali dalam satu waktu.


"Kamu pikir Buna tak merindukanmu? datang lah sesuka hatimu, tangan Buna akan selalu siap memelukmu kapanpun itu, Bang" balas Melisa.


Hey.. kami cemburu!


Suara Reza dan Cahaya yang mulai protes membuat semuanya tertawa bersama. Kedekatan keduanya memang membuat siapa pun akan merasa iri, tak peduli Langit sudah kembali pada keluarganya kasih sayang Melisa tetap utuh tak berkurang. Begitu pun dengan Langit, sedekat apapun ia kini dengan ibu kandungnya Sang Buna tetap memiliki tempat khusus dalam hatinya yang tak mungkin tergeser posisinya.


"Tukeran!" Kini si Bungsu perpindah pelukan pada suaminya, hal tersebut menjadi kesempatan untuk. Air dan Bumi merebutkan papah mereka.


Lalu bagaimana dengan Hujan dan Kahyangan?


Dua wanita sesama menantu itu saling menggenggam tangan dengan perasaan haru, tinggal dan menjadi bagian dari keluarga yang begitu hangat adalah impian bagi semua perempuan karna mereka tak hanya di cintai tapi juga selalu di jadikan Ratu oleh pasangan masing-masing. Keduanya kini kompak menghampiri Melisa, mereka tak mau kalah tentunya dengan para suami yang terus memperebutkan Reza.


"Mama juga punya kami" ucap Kahyangan, menantu solehah Rahardian yang selalu memberi keteduhan dari setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya.


"Tentu, kalian putri mama" sahut Melisa sambil mengusap kedua pipi menantunya yang kini duduk di sisi kiri dan kanannya.


Melisa yang selalu adil dalam memberikan kasih sayang dan perhatian membuat hubungan Hujan dan Kahyangan selalu baik tanpa adanya selisih paham. Semua sudah mendapat porsinya masing masing dalam takaran yang sama meski harus di akui itu sangat sulit di lakukan oleh Melisa yang keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.


"Hujan sayang mama, akan selalu begitu, iya kan, Yang?" timpal sang menantu pertama sambil melirik kearah adik iparnya.


Jika tadi para wanita yang terharu kini bergantian dengan para prianya. Air dan Bumi begitu bangga karna berhasil mendidik istri istri mereka untuk menganggap pasangan baya itu layaknya orangtua sendiri tanpa ada batasan.


"Kalian tahu?" tanya Reza pada kedua putranya.


"Tahu apa, pah?" jawab Air dan Bumi berbarengan.


.


.


.


Perempuan adalah napas dunia yang perannya tak akan bisa di ganti dengan pangkat Laki-laki sekalipun. Bahkan ratusan Bait puisi tak juga mampu mengalahkan keistimewaan dan keindahannya. Saking begitu agungnya seorang makhluk bernama perempuan hingga SURGA yang banyak di harapkan semua orang justru di titipkan di telapak kakinya...