Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 226


🌻🌻🌻


"Demam!!"


Reza Langsung beranjak kembali ke lantai bawah saat dirasa ada yang tak beres ditubuh anak sulungnya, langkah panjangnya yang tergesa saat menuruni anak tangga membuat istri dan kedua anaknya yang lain menoleh ke arahnya.


"Raaa!" pekiknya ketika memasuki dapur.


"Apa?, mas Reza kenapa?" Tanya Melisa yang bingung melihat kepanikan suaminya.


"Kakak Demam!" jawab Reza yang langsung meraih tubuh mungil si cantik saat gadisnya itu sudah merentangkan kedua tangannya.


Melisa yang terkejut tak sempat menjawab justru langsung berlari ke arah kamar di lantai atas.


CEKLEK.


"Kakak" serunya pelan saat sampai di tepi tempat tidur putra kesayangannya.


"Ya tuhan! beneran demam" ujarnya saat telapak tangannya menyentuh kening Ay.


EUGH..


Air yang menggeliat membuka matanya sedikit, wajahnya sedikit memerah dengan tatapan sayu.


"Kakak demam, sayang!" ucapnya lirih dengan genangan air mata yang sudah menumpuk.


"Mah"


"Mama disini sayang, kakak mau apa?" tanya Melisa yang sudah hampir tak kuasa menahan air matanya.


"kakak mau tidur, mah.. kepala kakak sakit, kepalanya kaya mau lepas sih?" ujarnya sambil memegang pucuk kepalanya.


"Mama ambil obat dulu ya" Melisa yang baru bangun langsung menoleh saat mendengar pintu kamar dibuka dengan lebar, terlihat suami dan kedua anaknya yang lain sedang berjalan mendekat ke arah nya.


"Mas Reza Antar kakak sama adek aja, ini


udah siang" titahnya ketika melirik ke arah jarum jam.


"Ya udah, aku anter ke sekolah dulu nanti aku balik lagi"


"Gak ke kantor?"tanya Melisa.


"Kamu gimana?" Reza balik bertanya


"Gak apa-apa, mas Reza kerja aja, Aku mau minumin kakak obat"


"Kakak cuma demam, mas Reza gak usah khawatir ya" tambahannya lagi pada sang suami.


"kakak sama adek sekolah ya, kakak Ay sakit gak apa-apa kan kalian berangkat berdua dulu ?" ujarnya pada si tengah dan si bungsu yang masih dalam gendongan Reza.


Cahaya dan bumi mengangguk kan kepalanya tanda paham


"Ok, kalau ada apa-apa cepet telepon aku, nanti aku suruh mang Udin selalu buat standby di bawah ya"


"Iya, mas" sahutnya sambil mencium kening dan kedua pipi merah Bumi dan Cahaya.


"Kak, Ade berangkat ya" pamit si cantik di depan Kakaknya yang hanya mendapat balasan anggukan kepala.


"Aku berangkat ya" kini si tengah yang mendekat untuk berpamitan.


"Jagain adek ya" pesannya pada Bumi untuk menjaga adik perempuannya.


"Hem!"..


Melisa yang juga ikut turun ke bawah selain untuk mengantar anak dan suaminya berangkat ia pun sembari mengambil sarapan yang tadi belum tersentuh sama sekali oleh si sulung berserta obat demam penurun panas.


"Makan sedikit ya sayang, terus minum obatnya habis itu kakak bobo lagi"


Air yang terlihat lemas akhirnya bangun di bantu Melisa untuk sarapan.


"Gak mau banyak banyak, ngantuk"


"Iya, sayang asal buat kakak minum obat aja, ok"


"Ok, mah" sahutnya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Selesai menyuapi Ay, Melisa segera mengganti baju seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya dengan baju rumahan yang bisa menyerap keringatnya setelah meminum obat.


"Kakak istirahat ya, mama mau kebawah dulu beresin ini" ujarnya sambil menunjukkan nampan berisi piring dan gelas kotor juga baju bekas ia pakai tadi.


"Iya, mah. tapi jangan lama-lama ya" pintanya yang sudah kembali terbaring.


"Ntar mama balik lagi ya"


Ay yang tak suka sepi dan sendiri kembali meminta mamanya untuk segera kembali meski saat itu Melisa baru saja memegang knop pintu kamarnya.


Tak sampai sepuluh menit, wanita yang akan menginjak umur dua puluh sembilan tahun beberapa bulan lagi itu pun kini sudah berbaring di samping anak yang pertama kali ia lahirkan tujuh tahun silam dengan penuh perjuangan.


"Kok gak bobo?, katanya ngantuk" tanya Melisa yang dengan sabar mengusap air bening di sekitaran kening si sulung yang mulai membanjir.


"Inget adek di sekolah mah" jawabnya sedih.


"Sebentar lagi juga pulang, kak"


"Masih lama banget, mama" protesnya saat melihat jam kecil berbentuk Spongebob di atas nakas sisi ranjangnya.


"Ya udah, Kakak bobo nanti pas udah bangun adek udah pulang sekolah semua"


"Hem, ok! tapi ada syaratnya" Ujar Ay dengan wajah imutnya.


"Wah, apa tuh" kekeh Melisa sambil mencium pipi Air.


"Sini kakak bisikin"


Dengan sisa gelak tawa Melisa pun semakin meringsek lebih dekat dengan tubuh si sulung, Ia yang tak kuasa menahan geli saat Ay membisikik kan sesuatu akhirnya tertawa lepas.


"Iya sayang, ya udah ayok bobo" ajaknya sambil mengeratkan pelukannya.


****


Reza yang fokus pada layar laptop di ruangan kantornya tiba-tiba mengingat Tania, wanita yang ingin bekerja sebagai sekertaris pengganti Viana nanti.


Jarinya mengetuk-ngetuk meja kerjanya sambil terus berfikir, Kebersamaannya dengan Viana yang sudah hampir sepuluh tahun ini membuat ia sangat berat melepasnya, ada rasa tak rela saat harus menyetujui keputusan Viana yang terasa sangat mendadak baginya.


.


.


Tok tok tok


lamunannya buyar saat mendengar ketukan pintu ruang kerjanya.


"Masuk"


"Permisi, Pak" ujar Viana saat masuk bersama seorang wanita di belakangnya yang sedari tadi menjadi bahan pertimbangan di dalam fikirannya.


"Ada apa?" tanya Reza saat kedua wanita itu kini tepat berdiri di depannya.


"Begini, pak--_" Viana yang baru mau memulai pembicaraannya harus terpotong saat pintu ruangan presdirnya kembali ada yang membuka, semua menoleh kearah yang sama.


"Papanya kakaaaaaaaaak.. kakak ganteng dateeeeeeeng!" teriaknya sambil berlari kearah Reza yang duduk di kursi kebesarannya.


"Loh, kakak kan sakit, kenapa kesini?" tanya Reza yang bingung dengan kedatangan si sulung yang tadi pagi demam.


"Udah sembuh dong, gak boleh lama-lama, kasian mama" jawabnya yang sudah ada di pangkuan Reza.


"Anak pintar" Reza menciumi seluruh wajah anak kesayangannya itu


"Siang, Bu" sapa Viana yang lalu di ikuti oleh Tania, wanita berkemeja putih dengan kerah yang terbuka tanpa memakai blazer.


"Siang" sahutnya dengan mata fokus pada Tania yang sudah bisa ia kenali.


"Pah, kakak takut" ujar Ay setelah membuang pandangannya dari Tania.


"Kakak takut kenapa?" tanya Reza yang bingung Karna si sulung bukan tipe anak yang takut dengan orang-orang baru di sekitarnya.


"Kakak takut BALON di dada Tante itu betus Pah!"


💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Balonnya warna apa kak Ay 🤭🤭


Nih Mak othor punya tusuk sate banyak ,ayo kita tusuk biar meledak 😂😂😂😂...


Baru up setelah kemaren libur..


like komen nya yuk ramai kan..


nanti klo rame nambah 😘😘..