
🌻🌻🌻🌻🌻
Hujan yang memang berniat untuk pulang lebih pagi tentu sudah bangun sedari tadi, ia membersihkan dirinya kemudian turun ke lantai bawah.
Langkah nya langsung menuju dapur tempat dimana itu adalah area favorit calon mertuanya.
"Pagi, Mah" sapa Hujan.
Ia juga tersenyum pada asisten rumah tangga yang setiap pagi datang membantu Melisa membersihkan apartemen.
"Pagi sayang" Wanita yang masih nampak cantik itupun tak lupa mencium pipi kanan Hujan, ia memperlakukan gadis itu layaknya anak sendiri, sama seperti dulu mama menerima ia dengan begitu baik dirumah utama saat hari pertama ia dan Reza menikah.
"Ada yang bisa ku bantu?" tawarnya.
"Sudah hampir selesai, buatkan susu saja untuk Air" titah Melisa.
"Hanya untuknya?" tanya Hujan memastikan yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Melisa.
Hujan bergegas menuju lemari pendingin yang sangat besar, mengambil satu kotak susu dan menghangatkan nya di panci kecil, sambil menunggu panas matanya tak lepas dari tangan Melisa yang begitu cekatan menyiapkan sarapan pagi.
"Mama bangunkan papa dulu ya sebentar "
"Iya, Mah" sahut Hujan sambil meletakan segelas susu keatas meja.
Melisa berjalan menuju kamarnya, senyum langsung tersungging saat sang suami ternyata sudah bangun dari tidurnya, wajah yang masih sedikit berantakan itu tersenyum menggoda.
"Kangen" Ujarnya manja seperti biasa sambil merentangkan kedua tangannya.
"Udah siang, By"
Reza yang tak perduli langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri yang sedang memeluk tubuh polosnya.
"Hari ini mau kemana?" tanya Reza.
"Harusnya sih kemana-kemana, tapi aku belum cek keadaannya ChaCha" jawabnya sambil menghela nafas.
"Biar Abang yang nemenin dirumah" kata Reza yang malah bermain-main dengan hidung istrinya.
"Mas Reza gak ke kantor kan?, dirumah aja kalo gitu temenin adek" ucapnya begitu polos namun mampu membuat pria posesif itu naik darah.
"Enak aja kamu! terus kamu keluar tanpa aku, gitu?!"
"Nanti kalau banyak yang liat, gimana?, kalo kamu di ikutin gimana?, kamu pikir aku izinin kamu pergi sendiri , iya? Enggak, Ra! Enggak pokonya. Enggak akan! aku ikut kamu hari ini!"
"Aku akan ikut denganmu kemanapun! inget ya ke ma na pun!!" ucapnya dengan tegas tak ingin di bantah apalagi ditolak.
Melisa yang tak ingin berdebat dan meladeni omong kosong suaminya itu justru memilih bangun meninggal kan Reza yang masih mengoceh tak jelas.
"Ra.. kamu mau kemana?"
"Aku belum selesai bicara"
"Jangan pergi!"
"Ra.... KHUMAIRAH!" sentaknya kesal karna sang istri sudah memegang knop pintu
"Apa?" tanya Melisa sembari membalikkan tubuhnya.
Aku cinta kamu, kamu tau itu kan?
[ Gue sleding lu bang, bawel banget!, ]
********
Semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi termasuk Langit dan Cahaya, pria itu dengan sangat sabar menyuapi gadis cantiknya dengan penuh ketelatenan.
"Habiskan dikit lagi" ujar Langit.
"Aku kenyang, cukup" jawabnya sambil menggeleng.
Langit yang sedikit kecewa akhirnya mengangguk pasrah, iapun menikmati sarapannya sendiri.
"Hujan mau pulang?" tanya Melisa saat gadis itu usai meneguk setengah gelas air putihnya.
"Iya, Mah"
"Kita bertemu saat acara akad nanti ya" timpal Reza sambil menggeser piring kosongnya.
"Iya, Pah" Sahut Hujan malu-malu, bagaimanapun ini kali pertamanya ia menyebutkan kata papa pada pria dewasa.
.
.
Usai berpamitan keduanya langsung menuju ke lobby apartemen dengan mengendarai mobil milik Air.
Pemuda itu menjalankan kereta besi mewahnya itu dengan kecepatan sedang.
"Kalau butuh sesuatu bilang ya, Keluarga gue udah nyiapin semuanya, nanti bakal ada orang kerumah Lo buat jelasin dari awal sampe akhir acara" ucap Air dengan mata tetap fokus pada jalanan di hadapannya itu.
"Kita langsung ketemuan di sana kan?" tanya Hujan, gadis itu menunduk, ia sedang menekan gejolak dalam dadanya.
Hujan menoleh ke arah Air yang masih fokus, ada satu hal yang sangat ingin ia tanyakan namun sangat ragu ia utarakan.
"Ada apa?" tanya Air yang sadar dengan tatapan lain calon istrinya itu.
"Gue mau tau satu hal, boleh?" Akhirnya Hujan berani bertanya walau dengan perasaan takut.
"Tau apa?, bukannya selama ini gak ada satupun yang gue sembunyiin dari Lo!" tukas Air.
Hujan kembali menunduk setelah mengangguk kan kepalanya, memang benar yang dikata pria di sisinya itu, Air selalu memberinya banyak kabar dimana pun ia berada saat itu.
"Lo mau tau apa?,. sebelum Lo tanya pun sebisa mungkin gue kasih tau. Gue dimana sama siapa dan lagi apa bahkan setelahnya pun gue selalu bilang sama Lo!" cetusnya sedikit kesal.
"Meskipun Lo cuma bilang IYA . tanpa balik tanya ke gue lagi, dan justru malah Lo yang sering ilang gada kabar"
Hujan semakin tersudut dengan perkataan Air yang memang benar adanya, Ia memang jarang menanggapi semua bentuk perhatian dan keterbukaan Air selama ini.
"Gue tau kita lakuin ini terpaksa, tapi gue bakal lakuin layaknya seorang pasangan. Meskipun itu hal kecil menurut Lo, Jan"
"Maaf.. maaf kalo mungkin Lo risih sama sikap gue yang terlalu over sama Lo. Gue cuma gak mau nutupin apapun dari Lo. Lo wajib tau gue dimana dan sama siapa. Gue harap Lo juga bisa kaya gitu" pinta Air.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang kini nampak ramai tak seperti biasanya, ada beberapa orang yang terlihat hilir mudik menyiapkan banyak hal.
Keduanya belum turun meski Air telah menyudahi semua keluh kesahnya pada Hujan yang menurutnya sering mengabaikan dirinya.
"Kita turun ya, Lo ketemu dulu sama Bunda" ajak Hujan setelah melepas setbelt.
Air tak menjawab, wajahnya terlihat sedikit kesal walau hatinya begitu lega sudah mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
Hujan langsung bergelayut di lengan calon suaminya, Sikapnya menjadi bahan godaan para kerabat yang ada di dalam rumah, meski gadis itu terpaksa melakukannya tapi Air tetap menyukainya.
"Bun, Hujan pulang" bisiknya pelan tak ingin orang lain tahu.
"Iya, maaf ya Bunda justru meninggalkanmu"
setelah dua wanita itu melepas pelukannya, Air langsung meraih tangan Bunda untuk bersalaman, ia mencium punggung tangan itu dengan takzim.
"Bun, Aku langsung pulang ya" pamit Air.
"Kok buru-buru banget?"
"Iya, mau anter mama" jawabnya dengan senyum terbaik walau ia masih menyimpan dendam pada dokter di hadapannya itu.
"Baiklah, memang begitu banyak yang harus kita Persiapkan untuk pernikahan kalian besok" ucap Bunda sambil mengusap lengan Air.
"Iya, Bun"
Bunda memberi kode pada Hujan agar gadis itu mengantar Air sampai mobilnya, dan Hujan hanya mengangguk paham.
"Ay..." panggilnya saat Air hendak membuka pintu mobil.
" Apa?"
"Gue minta sama Lo, cukup gue satu-satunya ya" pinta Hujan yang akhirnya mengungkapkan keinginannya.
Karna ia sadar dah tahu siapa calon suaminya itu
Air tersenyum kecil, menarik tubuh langsing Hujan untuk ia peluk tak perduli dengan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka, ia mendekapnya dengan begitu erat sambil berbisik...
.
.
.
.
.
.
.
Jangan khawatir, istri cukup satu.
yang banyak tuh pacar!!!!
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Astagfirullah kak..
kirain udah tobat 🙄🙄🙄🙄
Itu pacar belom di putusin ya 😂😂
Kaya yang kondangan para barisan pacar tuh bukan barisan mantan 😋😋
Like komennya yuk ramaikan...