Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 89


🌻🌻🌻


Melisa mengedarkan pandangannya ke seisi kamar mencari sosok pria yang belum selesai menjelaskan apa pun padanya, dengan tangan masih menuntun Langit Melisa berjalan ke tepi ranjang untuk memakai kan bocah kecil itu baju setelah mandi.


"Buna nangis?" tanya Langit dengan polosnya.


"Enggak, sayang" Dengan cepat ia menghapus air mata yang masih menggenang di sudut matanya.


"Kamu lapar? kita turun ke bawah ya" ajak Melisa setelah selesai mengurusnya.


Tangga demi tangga Langit lewati dengan cara meloncat membuat Melisa terkadang tertawa bahkan sesekali berteriak karna khawatir bocah kecil itu terjatuh.


"Reza mau kemana tadi, Mel?" tanya mama saat ibu hamil ini mendekat kearah meja makan.


Melisa menggeleng, wajahnya pucat dengan mata merah jelas terlihat sehabis menangis.


Papa yang baru datang dari arah kamar langsung menarik kursi meja makan menegak air putih yang sudah di sediakan mama.


"Pulang jam berapa anak itu?"


"Aku gak tau, katanya jam satu, Pah" jawab Melisa yang sudah duduk di hadapan mama juga Ameera.


Mama menatap lekat kedua netra milik suaminya seakan mencari tahu tentang anaknya yang tak biasanya pulang larut malam.


*****


BRAAKK


Reza membuka kasar pintu sebuah rumah di sebuah kompleks perumahan elit di pinggiran kota.


Ada seorang wanita yang terkejut dengan kedatangannya yang secara tiba tiba.


"Reza" gumamnya dengan mata membelalak.


"Kenapa? kaget liat gue dateng?" ucap Reza dengan nada dingin.


"Jelas dong, ada apa?" tanyanya ramah sembari berjalan menghampiri.


"Apa yang Lo lakuin pas gue tidur?" Reza mendekat kearah wanita yang kini sudah diam berdiri mematung di hadapannya.


"Aku_"


"JAWAB!" teriak Reza sambil mencengkram bahu gadis cantik dengan rambut bergelombang itu.


"Aku gak ngapa-ngapain, Za" jawabnya dengan suara bergetar.


"Bohong!, Lo kemanain semua pesan dari istri gue, hah?" Reza Kembali berteriak, emosinya kian memuncak.


"Aku mana tahu" ucapnya terbata dengan tangan ingin meraih bahu Reza namun segera di tepis olehnya.


"Lo gak usah macem macem, sekali lagi Lo bertindak diluar batas gue pastiin lo gak akan hidup tenang terlebih kalau Lo mau ganggu rumah tangga gue" ancam Reza tak main-main.


"Aku mencintaimu, Za" teriak gadis itu histeris setelah Reza membalikan badannya hendak pergi.


__ Dirumah__


PRAANG..


"Mel, hati hati dong" eyang yang kaget mendengar suara pecahan beling langsung menghampiri Melisa yang sedang berjongkok memunguti serpihan gelas yang terjatuh begitu saja dari tangannya.


"Maaf eyang, gelasnya pecah"


"Sudah sudah, kamu bangun biar eyang yang bereskan.


Melisa memilih duduk di sebuah kursi bundar di sisi lemari pendingin sembari mengusap perutnya, hatinya resah dan tak tenang fikirannya terus melayang pada sang suami yang entah berada dimana.


"Kamu kenapa?" tanya eyang membuyarkan lamunan Melisa.


"Gak, aku gak apa-apa" sahutnya dengan kepala menunduk.


"Jangan menyembunyikan apapun, ceritakan apa saja yang mengganjal dihatimu"


"Aku cuma takut, aku takut terluka lebih dari ini"


"Terimakasih, eyang. Aku mau anter Langit pulang dulu ke panti asuhan sekalian ingin membicarakan tentang syukuran kandunganku." pamit Melisa pada wanita paruh baya itu.


"Baiklah, hati hati dijalan"


****


Mobil mewah sang mertua kini menepi di depan gerbang panti asuhan, dengan cekatan sang supir membuka pintu belakang agar memudahkan Nona mudanya turun bersama Langit.


"Gak usah di tungguin, pak Agus pulang aja" pinta Melisa pada pria setengah baya yang selalu mengantarnya kemanapun.


"Baik nona" jawabnya dengan sangat sopan.


Langit langsung melepaskan pegangannya saat mba Asih membuka pintu, bocah kecil itu langsung berhambur ke taman belakang bersama teman temannya.


Melisa terus berjalan mencari sosok ibu pengganti baginya namun setelah semua ruangan ia cari Umi tak juga ia temukan.


"Umi kemana sih?" tanya Melisa pada Ilham yang berada di perpustakaan.


"Eh, kamu,Mel. Umi lagi ada acara pengajian bulanan" sahut Ilham dengan tangan masih menyusun buku buku ke rak yang berjejer.


"Lama gak?"


"Hmm, katanya sih jam dua minta di jemput"


Melisa hanya mengangguk, dan pergi kearah dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.


Tangannya sibuk memotong beberapa buah namun fikirannya melayang jauh ke Suaminya, terlebih ia sengaja tak membawa ponselnya malah justru meletakkannya diatas nakas sisi tempat tidur.


_______


"Ra.." panggil Reza saat memasuki kamar.


Sepi, mungkin itu yang dirasakannya kini.


"Kemana sih?" gumamnya setelah membuka pintu kamar mandi yang terlihat kosong.


Ia kini beranjak keluar kamar menuju lantai bawah arah dapur untuk menanyakan keberadaan istrinya.


"Eyang, Melisa mana?" tanyanya dengan tergesa.


"Katanya mau antar langit pulang, kalian kenapa?" tanya eyang yang sudah sangat penasaran.


"Melisa sepertinya salah paham, dia ada cerita pada eyang?"


Wanita tua itu menggeleng, menarik nafas dan meraih tangan Reza.


"Cepat selesaikan masalahmu, jangan biarkan salah paham berlarut-larut kasihan istrimu sedang mengandung anak kalian itu sangat berpengaruh sekali" pesan eyang pada Reza, pria yang kini jauh lebih tinggi darinya padahal dua puluh tujuh tahun lalu masih dalam gendongannya.


"Eyang tenang aja, aku akan bawa istri ku pulang" ucapnya mantap.


Reza mengemudi kan mobilnya dengan begitu kencang di atas rata-rata, ingin rasanya ia cepat merengkuh tubuh sang istri yang kini membawa buah hatinya pergi darinya.


"Assalamu'alaikum" sapa Reza saat di depan pintu utama panti asuhan.


"Waalaikum salam"


Reza tersenyum saat melihat remaja perempuan membukakan pintu untuknya.


"Cari teteh ya?"


Reza mengangguk sambil tersenyum membenarkan ucapan gadis itu.


"Tunggu ya" ucapnya lagi kemudian masuk kedalam tanpa mempersilahkan Reza masuk membuatnya hanya menunggu kursi teras.


"Maaf, Om. teteh nya gak mau keluar terus omnya disuruh pulang aja" kata gadis itu ketakutan, ia menyampaikannya dengan nada bergetar dan menunduk


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Nah kan KHUMAIRAHnya pundung🀭


like komennya yuk ramaikan β™₯οΈπŸ€—