
🌻🌻🌻🌻
K.U.A
"Ngapain?" tanya Hujan.
"Belom permen karet!" jawab Air yang sudah menyalakan mesin mobil Hujan dan kini kereta besi itu sudah meninggal kan area minimarket beserta motor besarnya.
"Ay, mau kemana sih?, gue lagi ada urusan banget"
Air tak menjawab ia masih fokus pada jalan di depannya sampai akhirnya Hujan pun tau arah kemana mereka pergi.
"Mau ngapain?" tanya Hujan lagi
"Mengulang adegan kita di grebek bunda Lo!" jawab Air ketus.
pemuda itu keluar dari mobil bergegas membuka pintu belakang untuk mengambil semua belanjaannya, ia masuk tanpa mengajak Hujan ikut bersamanya.
Kedatangannya tentu di sambut oleh dua wanita yang memang begitu dekat dengannya ada mbak Aish juga Nisa
"Tumben, suara motornya gak kedengeran, kak" tanya Nisa sambil menyuapkan satu biskuit coklat ke mulutnya.
"Iya, Bareng Hujan" jawabnya santai.
"Terus Hujannya dimana?, kok gak masuk?" timpal Mbak Aish.
Air menengok ke arah pintu, masih terlihat mobil gadis itu terparkir disana.
"Kamu liat dulu sana, kali aja nungguin kamu" titah Nisa.
Air mengangguk kemudian berlalu ke luar panti lagi menghampiri Hujan yang masih didalam mobil.
"Lo kenapa gak turun?" tanya Air di luar kaca yang terbuka.
"Mana kunci mobil gue, gue mau pulang!" ocehnya dengan wajah kesal
"Ntar pulang sama gue, gue lagi nunggu orang dulu sebentar" ucap Air.
"Tapi gue mau pulang sekarang" sentaknya lagi.
"Ribet banget sih Lo"
Air kembali masuk kedalam panti untuk berpamitan pada dua wanita yang sedang sibuk menghabiskan makanan yang di bawa Air
"Mau kemana?" tanya Mbak Aish
"Anter Hujan pulang, dia gak mau turun katanya"
"Oh, ya udah hati-hati ya" pesan Nisa.
"Nanti kalo ada om Iwan suruh Dateng Lusa ya, gak jadi sekarang gitu"
"Siap, kak" sahut keduanya berbarengan
Air Langsung masuk kedalam mobil Hujan, tanpa berkata apa-apa ia kembali melajukan kereta besi itu meninggal kan panti menuju rumah Hujan.
Tak ada obrolan apapun diantara keduanya, Air hanya mendengar Hujan sedikit merintih seakan menahan sakit di bagian perut.
"Lo kenapa?" tanya Air yang mulai curiga jika gadis di sisinya itu benar-benar merasa sakit.
"Gak apa apa" sahutnya dengan suara parau, Air sampai mengernyitkan dahinya saat melihat kening Hujan sudah di banjiri keringat dingin.
"Lo sakit, Jan?" Dengan rasa panik Air Langsung menepikan mobilnya.
"Enggak, cepat bawa gue pulang" titahnya semakin merintih.
"Jan, kita kerumah sakit ya"
Air mengusap buliran keringat yang semakin membasahi wajah gadisnya itu, ia langsung ingat dengan Cahaya jika sedang mendadak sesak nafas.
"Kuat ya, Jan! kita kerumah sakit ya"
Air kembali menjalankan mobil menuju rumah sakit terdekat lebih dulu, ia yang terlanjur Panik hanya butuh pertolongan pertama untuk Hujan saat ini
Sampai di rumah sakit biasa, Hujan langsung di bawa ke ruang pemeriksaan, ia di periksa oleh dokter wanita sesuai permintaan Air.
Pemuda itu tak melepaskan sedetikpun tangannya dari tangan Hujan yang masih meringis sakit.
"Sakit apa dokter?" tanya Air setelah dokter sudah merapihkan lagi alat periksanya.
"Hal biasa sebagai seorang wanita setiap bulannya pasti mengalami hal ini" jawab dokter wanita tersebut sambil tersenyum.
"Tiap bulan gimana?" tanya Air.
"Tamu bulanan, Ay" timpal Hujan, gemas.
Air yang memang mengerti karna memiliki adik kembaran perempuan langsung paham, ia membuang wajahnya karna malu pada sang dokter yang masih tersenyum simpul.
"Lo kenapa gak bilang dari tadi!" ucapnya kesal saat mereka kini hanya tinggal berdua di ruang perawatan karna Air belum tega melihat Hujan bangun dari tidurnya.
"Gue malu, apalagi liat Lo panik banget tadi" jawab Hujan memainkan ujung selimut dengan tangan kirinya karna tangan kanannya masih di genggam Air.
"Panik lah gue liat Lo begitu!" desahnya sambil membuang nafas kasar.
" maaf " Ujar Hujan
"Ya udah Lo istirahat ya, kalo udah enakkan baru Kita pulang"
Air merapihkan kembali selimut yang menutupi tubuh Hujan meski hanya sebatas pinggangnya.
Sambil menunggu Hujan terlelap Air memilih memainkan game di ponselnya sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Laper!!
Air melepaskan tautan tangan mereka untuk sekedar merenggangkan otot yang beberapa jam hanya duduk disisi ranjang Hujan.
"Gue kedepan dulu ya, mau cari makan" ucapnya pelan sambil mengusap pipi putih gadis itu yang sudah mengarungi mimpi.
Air beranjak keluar kamar menuju area depan rumah sakit untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal rasa lapar di perutnya.
Pilihannya jatuh pada warung kecil di sebrang jalan
"Rotinya tiga sama Air mineralnya ya, Bu"
Air menyodorkan satu lembar uang berwarna biru pada wanita penjaga warung.
"Terima kasih" ucapnya lagi setelah menerima kembalian.
CEKLEK
Air membuka pintu kamar tempat dimana Hujan beristirahat.
"Dari mana?" tanya gadis itu dengan wajah sedikit masam
"kok udah bangun?" Air justru balik bertanya.
"Jawab dulu, kamu darimana?" sentak Hujan.
Air teersenyum tipis sambil kembali duduk disisi Gadis itu.
Ia tahu Hujan sedang merajuk padanya saat ini.
"Abis dari luar liat bulan" jawab Air dengan senyum menggoda.
"Ngapain liat bulan, ada apa sama bulan" Rajuk Hujan.
"Bulannya ada tiga loh, Jan" seru Air antusias.
"Tiga? banyak banget!"
Iya, satunya di langit sedangkan yang dua ada Dimata Lo!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Cie baru ngegembel lagi 😂😂😂
eh salah...🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan ❤️