
🌻🌻🌻🌻🌻
Hari yang di tunggu tiba, Semua keluarga sudah datang ke kampus Langit sejak pagi tadi untuk menyaksikan anak angkat Rahardian itu di wisuda hari ini.
Tiga tahun sudah mereka berpisah, membentangkan jarak demi masa depan yang jauh lebih baik.
Ambisi dan tekad kuat seorang anak yang kini tumbuh dewasa di usia dua puluh dua tahun itu membuahkan hasil yang sempurna.
Menyandang gelar sarjana manajemen di ujung namanya, Langit menjadi mahasiswa terbaik dengan predikat Summa cum laude dengan nilai IPK 4.
Tentu itu membuat Reza dan Melisa sangat bangga, kedua orang tua itu menerima pelukan Langit dengan rasa bahagia dan terharu.
"Selamat ya, Bang. Buna bahagia banget" bisik Melisa, ia bingung harus berkata apa karna setiap tahun selalu terjadi hal yang sama.
Wanita yang membesarkan Langit dengan kasih sayang yang tak terkira hanya bisa menitikan air mata sambil terus mengusap punggung lebar anak angkatnya
"Berkat doa Buna, gak ada Buna mana mungkin aku begini" jawab Langit, pemuda tinggi itu pun ikut menitikan air mata haru bercampur senang
"Terimakasih, terimakasih karna tak pernah mengecewakan Buna ya, Bang"
"Pasti, Abang akan lakuin apapun untuk Buna"
Pelukan kini beralih pada Reza, pria itu menepuk anak yang dulu pernah ditabrak oleh temannya saat mencari sang istri yang menghilang beberapa hari, sempat berdebat dia awal bertemu karna Langit kecil begitu bergantung pada sang istri hingga akhirnya mereka resmi secara hukum mengadopsi Langit.
LANGIT RAHARDIAN WIJAYA
Sebuah nama keluarga yang diberikan Reza belasan tahun silam, berharap ia akan tumbuh menjadi bagian dari keluarga tanpa membedakan dari anak-anak kandungannya yang lain.
Langit, Air , Bumi dan Cahaya memiliki nama yang sama, kasih sayang yang sama dan mendapat fasilitas yang sama.
Mereka tumbuh bersama sedari kecil namun siapa sangka, Langit dan Cahaya memiliki rasa lebih dari rasa sebagai kakak dan adik.
Itu membuat Reza semakin berambisi menjadikan Langit pegangan untuk putri satu-satunya.
"Tugasmu sudah di depan mata, bersiaplah"
"Pasti, Om. aku akan melakukan yang terbaik"
Usai acara wisuda dan berfoto, mereka melanjutkan makan siang kemudian kembali ke apartemen Langit untuk beristirahat karna hari sudah petang.
"Mau disini dulu, atau langsung pulang, Bang?" tanya Melisa setelah makan malam.
"Pengennya sih disini dulu, Bun. Ada acara sama temen-temen, boleh gak?" izin Langit.
"Boleh, Kita pulang duluan kalo gitu ya besok"
Ada raut kecewa di wajah tampan Langit, sebenarnya ia ingin Kelurganya tetap disini bersamanya tapi ia sadar diri dengan kesibukan Reza di kantor.
"Hem, iya, Bun" jawabnya dengan senyum malu.
"Adik-adikmu masih sekolah, mereka cuma izin dua hari, nanti disana kita kumpul lagi kan" ucap Melisa.
"Iya, Bun. Makasih banget ya udah urusin Abang sampe hari ini. Abang ketemu orang orang baik kaya kalian" Meski kalimat itu sudah ribuan kali ia ucapkan tapi tetap saja rasanya tak pernah puas.
"Sama-sama, Buna cuma lakuin apa yang seharusnya seorang ibu lakuin, jadi berhenti berterima kasih karena kami sudah membalasnya dengan menjadi anak baik dan jujur, itu sudah lebih dari cukup untuk Buna"
"Abang sayang kalian".
Langit berhambur memeluk Melisa sambil berjanji tak akan pernah mengecewakannya untuk hari ini esok lusa dan selamanya.
"Abang boleh minta sesuatu?" pinta Langit.
"Mau apa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
" Abang mau ngenalin Chaca ke temen-temen Abang, mereka penasaran sama calon istri Abang!"
🔥🔥🔥🔥🔥
Abang lulus berarti tiga cebong otewe kuliah ya.
bakal loncat Loncat ceritanya biar cepet masuk konflik masing masing. 🤣
Tenang... teteh mah tetep
#,No pelakor 😪😪
Yuk di like sama di komen biar up lagi.🙏🙏🙏