
π»π»π»π»π»π»
kecelakaan!!
Langit mengusap wajahnya kasar, Kekasih hatinya saja belum sadar kini ia di hadapkan dengan masalah lain yang sama juga berat baginya.
"Bang.." Melisa datang, ia mengusap punggung Langit yang tertunduk di sisi Cahaya.
"Bun, aku keluar sebentar ya" pamitnya langsung.
"Mau kemana?" tanya Melisa, biasanya Langit tak pernah sedetikpun meninggalkan Cahaya tapi justru berpamitan ingin pergi.
" Aku ada urusan bentar" ucapanya lagi, lalu menciumi seluruh wajah sibungsu.
Langit keluar dari dari kamar rawat inap menuju lobby rumah sakit lewat lift khusus untuk keluargannya, langkahnya begitu tergesa sampai ke mobil yang terparkir.
Ia menjalankan kereta besi itu dengan kecepatan tinggi, pikirannya kini bercabang ke banyak hal meski kesehatan Cahaya tetap yang paling utama baginya.
.
.
.
.
.
"Permisi, korban kecelakan satu jam lalu ada di ruangan apa ya?" tanya Langit pada salah satu perawat di balik meja resepsionis.
"Masih di ruangan UGD, Tuan" jawab salah satunya dengan sangat ramah.
"Terima kasih"
Langit menuju ruang UGD yang memang ada di bagian depan dekat pintu utama , rumah sakit umum yang tak terlalu besar membuatnya mudah mencari ruanagan tersebut.
Ia sedikit berlari saat melihat wanita yang sangat ia kenal sedang duduk tertunduk lesu di kursi besi, bahunya terguncang menandakan kini ia sedang menangis pilu.
"Mami...
Diana menoleh saat ia mendengar suara yang kini sangat ia hafal ada begitu jelas di telinganya.
"Mam, gimana keadaannya?" tanya Langit yang ikut panik saat tangis ibu kandungnya itu pecah dalam pelukannya.
"Semakin kritis, Nak. Mami gak mau sesuatu menimpanya, Mami takut" lirih wanita itu denagn nada bergetar.
"Nana pasti selamat, kita doakan yang terbaik" ucap Langit.
Hampir satu jam Langit dan Diana menunggu dokter keluar, namun belum ada juga kabar yang mereka dapatkan sedang Melisa berkali kali menanyakan keberadaannya.
"Abang lagi sama Mami, nunggu Nana abis kecelakaan di rumah sakit, Nanti kalau udah dapet kabar dari dokter, Abang langsung balik kesana ya, Bun"
Langit bicara dengan sangat hati-hati, bagaimanapun wanita yang sedang bertanya padanya itu Ibu angkat yang juga calon mertuanya. Salah sedikit saja Langit berkata sudah bisa di pastikan Melisa akan mengamuk lagi padanya.
Pemuda tampan itu menghela nafas, Hari-harinya kini tak setenang dulu, Jika dulu ia hanya fokus pada keluarga Rahardian kini lain halnya saat Diana datang.
"Tapi, Mam. "
"Tak apa, Dia lebih membutuhkanmu, karna Cahaya tanggung jawabmu lain halnya dengan Nana yang tanggung jawab Mami" ucap Diana sambil meraih tangan putranya.
"Aku cuma gak mau Mami sendiri, aku mau ada buat Mami" lirih Langit yang bingung, karna kini ia sedang ada dalam pertigaan jalan yang sulit ia putuskan harus kemana dulu.
"Ini sudah cukup, pergilah! Nanti Mami kabari kamu lagi ya"
Langit berhambur memeluk Diana, Wanita yang melahirkannya itu memang memiiki rasa sabar yang luar biasa, ia masih rela untuk selalu menjadi yang ketiga bagi Langit setelah Cahaya dan Melissa karna bagaimanapun dua wanita itu selalu menjadi penghuni tahta tertinggi dalam hidup Langit.
"Aku kerumah sakit lagi ya, nanti Kalau Adek sadar Mami harus janji mau kesana" pintanya setelah mengurai pelukan.
"Pasti, Mami pasti akan menjenguknya, Cahaya calon menantu Mami" godanya pada Langit agar anak itu tak merasa berat meninggalkannya.
"Terima kasih, Abang sayang Mami" tegasnya meyakinkan.
Diana hanya mengangguk, ia tahu itu meski Langit tak mengatakannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan keluarga pasien?
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Aku kenapa sih?
Butuh mie ayam di baso an kayanya ππ
Cuci mulut sama somay terus ngemil cilok π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.