
🌻🌻🌻
"Aku mau disini" rengek Melisa saat bayinya kembali dimasukan kedalam inkubator.
"Ay sama Bu gak bisa di tinggal lama, Ra"
"Aku udah stok ASI banyak tadi, gak apa-apa"
"Ra.. Chaca ada yang jagain, percaya sama aku, Ok"
"Gak, aku mau disini dulu boleh ya? sampai Chaca tidur"
Perdebatan terus berlanjut karna tak ada yang mau mengalah, Melisa yang memohon agar tetap tinggal namun Reza memaksa untuk pulang.
Akhirnya keduanya diam tenggelam dalam fikirannya masing-masing.
Masih ada isak tangis kecil yang Reza dengar Sampai akhirnya ia hanya menoleh dan menghembuskan nafas beratnya.
"Ayo pulang, dua hari lagi kita jemput Chaca buat pulang kerumah, aku janji" ucap Reza sungguh sungguh.
"Bener, mas Reza janji?" tanyanya polos namun penuh pengharapan.
"Iya, Ra. aku janji, makanya kita pulang dulu, kita siapin keperluan Chaca dirumah"
Melisa mengagguk cepat, dengan senyum mengembang di wajahnya.
Reza langsung menghapus jejak kebasahan di wajah Melisa dengan ujung ibu jarinya.
"Sabar ya, Chaca anak yang kuat, kita akan pulang sama sama nanti" kata Reza sambil menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya.
lalu menciumi pucuk kepala sang istri berkali-kali.
Setelah memutuskan untuk pulang, Kini keduanya sudah berada di mobil, mereka mampu membelah kemacetan jalanan ibu kota sore hari dengan obrolan kecil dan candaan ringan..
"Ada siapa ya?" gumam Reza saat mobil sudah berhenti di garasi rumah milik orangtua nya.
"Umi, itu kaya mobil panti asuhan, Mas"
"Masa?," sahutnya ragu.
Melisa langsung membuka pintu mobil dan berjalan cepat kearah pintu masuk utama.
Langkahnya berhenti di ruang tengah saat ia melihat Ameera sedang bermain ponsel di atas sofa
"Dek," panggilnya dengan nada tercekat.
"Eh, iya kak" sahutnya sambil menoleh.
"Ada siapa?" tanya Melisa.
"Yang dari panti asuhan itu loh"
"Oh, Umi ya?" dan Ameera hanya mengangguk.
"Ok, makasih ya dek"
Kakinya kini berbelok kearah lift tak ingin menggunakan tangga karna ingin segera sampai kekamarnya.
CEKLEK..
"Umi....."
Melisa langsung berhambur memeluk wanita paruh baya berhijab berwarna hijau daun itu dengan erat, hingga tak terasa lelehan air mata sudah membanjiri kedua pipinya.
"Umi, gak bilang mau kesini?" tanyanya setelah mengurai pelukannya.
"Maaf, Umi datang mendadak" Jawab Umi sembari menghapus air mata Melisa, anak asuhnya sejak sepuluh tahun lalu.
"Aku seneng umi datang, terima kasih. Umi kesini sama siapa?"
"Sama Ilham, mampir kemari sepulang dari bank mencairkan uang untuk anak-anak"
"Lalu kak Ilham mana?" tanyanya bingung, karena tak melihat sosok laki-laki itu dirumahnya semenjak datang.
"Tadi keluar untuk menerima telepon"
Rengekan baby Ay mengalihkan fokus Melisa pada Umi. Ia langsung beranjak dari sofa menuju box bayi tempat dimana Ay menangis sedangkan mama sedang menimang baby Bu di balkon.
"Haus ya?"
Dengan cepat ia membuka tiga kancing baju dress nya dan mengeluarkan bongkahan daging kenyal wadah kehidupan sang buah hati.
"Mah, Bu kenapa?" tanya Melisa saat mama masuk Kembali, karna Bu anak yang tenang jarang menangis jika bukan lapar atau haus.
" Gak apa-apa, tadi kaget kayanya pas Ay bangun" kekeh mamah sembari menciumi Bu yang sudah kembali tenang.
"Emang nih ya, kalo nangis suka bikin kaget orang orang udah kaya di digigit harimau" ujar Melisa yang langsung membuat Umi dan Mama tertawa bersama.
"Bagaimana Chaca?" tanya mama saat sudah menidurkan Bu di box nya.
"Jari dan bibir semua biru, nafasnya juga tersengal mah, gak bisa nyusu ke aku" jawabnya lirih, air mata mulai berjatuhan lagi bahkan sampai terkena pipi Ay yanh sedang menyusu padanya.
"Sabar ya, Chaca pasti sembuh dia akan pulang kesini" ujar mama memberi kekuatan pada sang menantu dengan cara mengusap punggungnya.
"Banyak berdoa untuk kesembuhan anak bungsu kalian, jangan putus harapan apalagi berhenti Berikhtiar" kali ini Umi ikut menimpali membuat Melisa semakin terisak, dua wanita di sisi kanan dan kirinya bagai malaikat baginya.
" Iya, semoga lusa Chaca udah boleh pulang, mas Reza udah janji sama aku mah"
"Aamiin, semoga ya sayang"
Usai petang akhirnya Umi berpamitan, karna Ilham ada urusan yang tiba-tiba mendadak harus ia selesaikan saat ini juga.
Meski Melisa berat melepas kan Umi namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain meminta janji Umi untuk datang lagi menemaninya lebih lama di lain hari.
"Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan yang banyak ya" pesan Umi sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Iya, Umi hati-hati dijalan"
"Kak Ilham, makasih ya. Jangan lupa bawa Umi kesini lagi" pintanya memohon.
"Iya, Mel. nanti kami kesini lagi" jawabnya dengan senyum yang langsung memperlihatkan lesung pipinya.
***
Setelah mengantar kepulangan Umi dan Ilham, kini Melisa dan Reza sudah kembali berada dikamar, masing masing diantara mereka memangku satu bayi dan menimangnya.
Ay yang selalu rewel masih sibuk merengek walau sudah kenyang menyusu terbalik dengan Bu yang justru sedang di ajak mengobrol oleh papanya.
"Aku kalo kaya gini inget kalo lagi maen maen ma kamu, imut imut merem melek, haha" goda Reza pada istrinya yang sedang berdiri menimang Ay.
"Liat tuh mirip banget sama kamu, Ra" kekehnya lagi sambil memainkan bibir mungil Bu.
Melisa hanya diam, ia tak berniat meladeni suaminya yang sedang bergeser arah fikirannya.
"Bu, mirip mama ya? gemes deh papa jadi pengen buka puasa."
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tahan bang, liat anak sendiri aja otaknya Travelling 😂😂😂😂..
Like komennya yuk ramaikan ❤️❤️❤️