Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 244


🌻🌻🌻🌻


"Hhuuaaaaaaaaaa, ada lolipop!!!!"


Teriak Air yang sedang berendam di bathtub bersama Bumi mengangetkannya.


"Berisik, kak!" ujar Reza yang ikut masuk kedalamnya.


"Kok papa begitu sih, punya kakak enggak" tanya Ay dengan polosnya sambil membandingkan punyanya yang masih imut imut.


"Kan kakak masih kecil, kalo badannya tinggi dan besar pasti lebih besar lagi" jelas Reza sambil menyabuni tubuhnya.


"Makanya makan sayur biar sehat" ejek Bumi yang asik bermain busa.


"Sama aja, kakak sama kamu gak beda" elaknya tak mau kalah. bocah anti sayur itu tak ingin di paksa.


"Udah.. ayo cepetan mandi kita mau pergi loh"


"Kemana?" tanya Ay dan Bu berbarengan.


"Mana aja, boleeeeeeh!" Reza tertawa, ia begitu senang menggoda kedua anak kembarnya itu.


"Boleh aja apa boleh banget?" Tanya Ay yang ikut menggoda.


"Boleh aja deh, kalo boleh banget itu namanya kakak maksa" sahut Reza.


"Maksa aja apa maksa banget?" tanyanya lagi.


"Terus aja nanya, sampe ni nupel tamat!" kata Reza mendengus kesal.


***


Usai ketiganya mandi, Reza langsung mengurus kedua buah hatinya, mengeringkan tubuh basah mereka dengan handuk, membaluri nya dengan minyak telon kemudian memakaikan baju, tentunya baju yang sama berwarna putih. Jika di lingkungan bisnis ia sangat terkenal sebagai pengusaha muda yang sangat berwibawa dan tegas lain hal jika dirumah terutama jika menyangkut dengan ketiga anaknya, ia menanggalkan semua kuasanya dihadapan para buah hatinya, tak segan Reza mengurusnya dengan kedua tangannya sendiri, ia hanya ingin menjadi sosok ayah terbaik untuk ketiga anaknya, serbuk berlian hasil semburan belalai gajahnya.


.


.


.


" Wah, udah mandi ya cucu cucu oppa" ujar pria paruh baya itu saat menuruni tangga dan melihat Bumi dan Cahaya



"Hallo, Oppa" sahut si bungsu dibalik punggung kakaknya yang sedang menghitung susunan legonya.


"Hallo juga cantik, sayangnya oppa" balas papa yang langsung menggendong Cahaya menciumi wajah imut mirip menantunya itu bertubi-tubi Sampai Chaca harus tertawa karna geli.


"Kata papa, kita mau jalan-jalan?" tanya Bumi pada oppanya.


"Hem, mungkin!, tapi kakak Ay kemana?" tanya papa bingung saat satu cucunya tak ia lihat bersama kembarannya yang lain


"Tadi abis nangis, nabrak lemari" sahut Bumi santai.


"Nabrak lemari?" tanya papa semakin bingung.


"Bukan oppa, tapi katanya lemari yang tabrak kakak, hahahaha" si cantik tertawa terbahak-bahak, tingkah kakaknya itu tak pernah berubah, masih suka menyalahkan barang yang ia tabrak dengan kecerobohannya.


"Ya, ok. Lemarinya punya kaki tapi gak punya mata sampai harus nabrak kakak ya" ucap papa ikut tertawa.


Ketiganya tertawa bersamaan sampai tak sadar jika Reza sudah ada di belakang papa sambil menggendong si sulung.


"Tukeran, pah" ujar Reza menyodorkan Ay pada papanya dan meminta Cahaya untuknya.


"Anak aja tukeran!" umpat papa sambil menyerahkan si bungsu.


"Aku udah pusing dari tadi gak berenti nangis" bisik Reza di telinga papanya.


"Iya, kata Adek kakak abis di tabrak lemari kan?"


"Kok adek udah cerita duluan, kan kakak yang di tabrak" rengeknya lagi lalu kembali menangis.


"Eh iya, papa lupa, kita kan mau jalan jalan" kata Reza mencoba mengalihkan perhatian si sulung.


"Kemana?" tanya si kembar berbarengan termasuk Air walau harus di sela Isak tangisnya.


"Hem, kita lari pagi yuk" ajak Reza.


"Yuuuuuuk" seru si kembar Antusias.


Reza pun langsung menghela nafasnya, karna si sulung mulai berhenti terisak.


"Kalian tunggu disini, papa panggil mama"


Reza menurunkan si bungsu dari gendongan ke atas sofa, tapi gadis cantik itu justru berhambur memeluk Langit yang baru keluar dari kamarnya.


"Huh....!" dengus Reza kesal, melihat putri kesayangannya bermanja-manja dengan Langit, tanduk cemburunya mulai timbul di atas kepalanya.


CEKLEK..


Reza membuka pintu kamarnya, berjalan mendekai sang istri yang sedang menyisir rambutnya agar lebih rapih setelah menutupi seluruh jejak merah peninggalan Gajah kesayangannya itu dengan foundation.


"Jalan jalan pagi yuk" bisiknya dengan tangan sudah melingkar di perut rata KHUMAIRAHnya, Reza menyesap ceruk leher Melisa dengan memainkan ujung hidung mancungnya.


"Geli, mas"


"Ayok.. mau gak? aku udah terlanjur ajak anak-anak"


"Hem, ya udah deh" ucapnya pasrah, ia tak ingin mengecewakan para buah hatinya yang pasti sudah sangat senang.


"Kita ganti baju ya"


Reza menarik tubuh istrinya itu menuju lemari, baju yang baru dua jam ia pakai kini di lepas lagi oleh suaminya, dengan senyum menggoda ia turunkan resleting dress yang di kenakan Melisa.


Dress yang jauh ke lantai tak lagi ia perdulikan, tangannya justru mencari pengait penutup dua bongkahan gunung kembar milik istrinya.


Satu tali berhasil ia lepaskan dengan sempurna, tapi...


.


.


.


.


.


" Papa kok lama sih panggil mamanya, bukaaaaaaaaaa.. kakak mau masuk!"


🌺🌺🌺🌺🌺***


Si kakak kudu di talian yeh..


Ish.. ges hareundang teu jadi deui Bae.


Like komennya yuk ramaikan kan


olah raga beneran dulu ya bang..


olah raga di Awang-awang nya tunggu gue bius dulu tuh anak cebong.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚