
π»π»π»π»π»
"Kalian sedang apa?"
Teriakan Melisa sambil menggebrak pintu membuat pasangan yang sedang berpelukan itu harus terlonjak kaget, Air yang menoleh sejenak malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepas, Ay. Ada Mama kamu tuh!" sentak Hujan sambil meronta.
"Gak apa-apa, asal jangan Pak RT sama polisi yang liat, lebih bahaya" bisiknya sambil tersenyum menyeringai puas.
"Sama aja, kan malu!"
"Mang lo pikir saat bunda Lo liat kita di kamar, gue gak malu?, kita impas sayang!" bisiknya pelan namun penuh penegasan.
"Kakak!" Teriak Melisa lagi diambang pintu, tubuhnya yang mulia limbung ditahan oleh Bumi yang ikut dengannya.
"Mah...." Sahut si sulung setelah mengurai pelukannya.
Melisa yang sudah geram datang mendekat kemudian langsung melayangkan aksinya pada Air yang berdiri berdampingan dengan Hujan yang ketakutan.
"Dasar anak nakal!" ujar wanita tiga anak itu sambil menjewer telinga kanan anak pertamanya.
"Dua hari gak kuliah taunya disini, kamu mau jadi apa sih, kak! bikin malu keluarga bawa anak gadis orang ke kos'an" oceh Melisa dengan terus memelintir telinga Air dengan keras.
"Ampun, mah" jerit Ay merintih kesakitan karna kali ini sakitnya berbeda dan luar biasa.
"Masih bisa bilang ampun!"
"Iya, mama, kakak minta ampun!" mohonnya lagi, ia yakin pasti telinganya kini memerah.
"Siapa yang ngajarin, hah?, tadinya mama gak percaya sama semua tuduhan yang mengarah ke kamu, tapi kali ini mama liat sendiri, kak"
Melisa melepaskan tangannya dari si sulung, karna anak itu sudah merengek menahan sakit.
"Gak gitu ceritanya, mah!" elak Air.
Melisa di tarik Bumi untuk duduk di sofa Single, anak tengahnya itu langsung memberikan satu gelas air putih pada Melisa agar mamanya bisa sedikit tenang dan yang paling penting jangan sampai jatuh pingsan.
"Mamah yang sabar, dengerin alesan kakak dulu ya" ujar Bumi.
"Mah, kakak ngapa-ngapain, cuma pelukan aja" Air mendekati Melissa bersimpuh di pangkuan sang Mama.
"Cuma kamu bilang?, kalau mama gak dateng entah apa yang kalian akan lakukan di tempat ini" balas Melisa memukul bahu anaknya itu berkali kali.
"Tante, aku bisa jelasin" Hujan yang sedari tadi diam kini mencoba ikut bicara.
"Sudahlah, kalian sama saja. Jika baru sekali tentu masih bisa mama maafkan tapi ini sudah tiga kali kalian ketahuan bersama seperti ini" sentak Melisa, kesal.
"Dan mungkin esok kalian akan melakukan hal yang lebih dari ini" lirih Melisa, kini satu tetes air mata jatuh di pipinya.
Bumi yang tahu mamanya menangis sambil terisak kecil langsung meraih bahu Melisa.
Melisa mengangguk dalam dekapan si tengah sambil menghapus air matanya, ia mencoba menahan cairan bening itu keluar lagi karna takut suaminya tahu jika ia habis menangis.
"Mah, kakak gak bohong" Seru Air kembali meyakinkan mamanya, Niat iseng nya ternyata membuat wanita Kesayangannya itu malah menangis tersedu-sedu.
"Udah kak, nanti lagi jelasinnya, Adek ada di mobil sendirian kita mau kerumah oppa karna papa dan Abang sudah disana" jelas Bumi.
"Ada apa?" tanya Air.
"Entahlah, dari tadi kita teleponin kakak susah banget sampe harus telepon Mang Jajang buat nanyain kakak" cetus Bumi yang ikut kesal.
" Ya udah, kita ke sana sekarang" Air bangkit, kemudian meraih jaketnya untuk Hujan.
"Pake, gue anter Lo pulang dulu" ujarnya pada gadis yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.
"Ajak dia sekalian, kak" titah Melisa sambil beranjak keluar meninggalkan anak-anaknya.
Bumi langsung menyusul sedangkan Air ambruk di sofa tempat tadi dimana mamanya duduk, pemuda itu mengacak rambutnya sendiri sambil berkali-kali membuang nafas kasar.
"Lo kenapa?" tanya Hujan, perasannya antara takut dan khawatir.
"Gue pasti bisa!" ucapnya penuh keyakinan.
"Bisa apa?" tanya gadis itu lagi yang kini sudah mengenakan jaket yang diberikan Air.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bisa ijab kabul di depan wali hakim Lo nanti"
ππππππππππππ
Sweet Gimana gitu kak πΊπΊπΊ
Cebong cengengku..
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ