Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra Bab 197


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Cahaya yang sedang duduk di ayunan rotan nampak kebingungan saat membaca ulang isi pesan yang di kirim Langit padanya. Berkali-kali mencoba membalas namun urung ia kirim dan berakhir di hapus kembali.


Ia terus melakukannya sampai akhirnya Langit malah justru menelepon


"Iya , Bang" jawab Cahaya saat menerima panggilan dari kekasihnya itu.


"Tumben lama, kamu lagi apa?" tanya Langit karna merasa heran Cahaya lama sekali tak membalas pesannya.


"Ini juga lagi aku ketik, Abangnya aja gak sabaran!" oceh Cahaya untuk menutupi rasa bimbangnya.


"Cukup nunggu kamu sampe gede aja yang sabar, jangan sampe nunggu balesan chat juga Abang harus sabar, sayang" kekeh Langit menggoda gadis kecilnya itu.


"Gak lucu!" Rutuknya kesal.


"Hem, Abang tahu kok, karna yang lucu itu cuma Cahayanya Langit" godanya lagi yang kini berbarengan dengan gelak tawa.


Cahaya hanya bisa tersenyum simpul, hanya dengan begitu saja ia sudah sangat bahagia.


"Gimana, Dek?"


"Abang kesini aja dulu, nanti aku jawabnya pas Abang udah dateng, Ok!"


"Perasaan Abang kok gak enak ya?"


.


.


.


Setelah mengobrol panjang lebar melalui sambungan telepon akhirnya Cahaya memilih untuk masuk kedalam kamarnya, ia melempar ponsel keluaran terbaru yang di belikan papanya minggu lalu ke tengah ranjang, sedangkan ia malah berjalan menuju jendela besar yang tertutup gorden putih warna kesukaannya.


Cahaya menyibakkan gorden tersebut sampai ke ujung, kini ia bisa melihat pemandangan kota dibawah langit senja yang menguning.


"Semoga apa yang kita harapkan segera terlaksana, aku hanya ingin menyandang status sebagai istrimu walau hanya satu detik."


"Itu akan membuat ku tenang jika harus menghembuskan nafas terakhirku nanti, karna tak ada yang ku inginkan selain itu, Bang"


Cahaya meremat baju bagian dadanya, buliran keringat membasahi telapak tangannya yang lembut.


Detak jantungnya mulai lemah karna nafasnya kini sedikit tersengal karna sesak.


Abang...


********


Semua anggota keluarga kini tengah panik di depan rawat inap yang biasanya Cahaya di rawat, sudah hampir satu jam belum ada satu dokterpun yang keluar.


Melisa yang sedari tadi histeris terus saja di tenangkan oleh para pria terbaiknya. Suami dan tiga anak lelakinya.


"Sabar, Ra" bisik Reza yang sambil menciumi pucuk kepala istrinya.


"Mah.. mama jangan gini, kasian adek" ucap si Salung yang juga ikut menangis, sedangkan Bumi hanya bisa menghela nafas beratnya sembari terus menggenggam tangan sang mama.


Langit yang terlihat begitu Frustasi berkali-kali membenturkan kepalanya ke dinding rumah sakit, belum ada satu jam ia mengakhiri obrolannya lewat sambungan telepon dengan si bungsu namun ia justru di kejutkan dengan kabarnya Cahaya masuk rumah sakit.


.


.


Hujan langsung keluar sambil berteriak meminta tolong.


****


"Bang.. jangan sakitin diri kamu sendiri" ucap Reza, meski ia merasa khawatir tapi ia harus bisa menenangkan istri dan anak-anaknya.


"Abang takut" jawabnya yang kini duduk bersandar di lantai dengan menjambak rambutnya sendiri.


Cek lek


Suara pintu terbuka membuat semua orang menoleh dan bangkit dari duduk mereka masing-masing, mereka secara bersamaan mendekat ke arah dokter yang baru saja keluar usai memeriksa putri bungsu Rahardian.


"Bagaimana keadaan Anak saya?! " tanya Reza, masih dengan memeluk KHUMAIRAHnya.


"Maaf, Tuan. kondisinya semakin melemah" jawab sangat dokter sambil menundukkan kepalanya.


Pernyataan pria baya berjas putih itu bagai petir yang menghantam keluarga Rahardian.


Semua diam membisu bagai terhipnotis dengan kenyataan yang luar biasa mengejutkan itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buna.. om..


Abang minta izin buat nikahin adek sekarang ya?


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Cedih πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί


permintaan Abang segera di ACC. mohon tunggu mak othor cari gamis dulu ya πŸ˜„πŸ˜„ buat jadi saksi 😘😘


Like komennya yuk ramaikan.