
🌻🌻🌻
"Oh, ante Susi yang suka kasih adek susu coklat kan, yang suka panggil-panggil papa ya, iya kan Pah?" kini gantian si bungsu yang berceloteh membuat Reza diam tak berkutik, melihat sorot mata istrinya yang tajam penuh tanda tanya saja ia kini tak mampu.
"Mama mau ambil minum dulu, kak " ujar Melisa memberi alasan agar kedua jagoannya segera turun dari pangkuannya.
"Biar kakak ambilin" seru Ay yang susah bersiap berlari, namun di cekal oleh Bumi.
"Jangan, gak sampe!" kata Bumi mencegah Ay untuk kedapur.
"Kalian tunggu disini, apa mau mama buatkan susu?" tanya Melisa sebelum bangkit dari duduknya.
"N'Da, kakak kenyang" jawab si sulung
"Kakak, mau gak?" Melissa melirik ke arah si tengah yang hanya di jawab gelengan kepala.
"Adek mau susu?" pertanyaan yang sama ia tanyakan pada si bungsu.
"N'Da, adek mau jus apel" sahutnya masih memeluk Reza dengan manja.
Melisa Langsung bergegas kearah dapur tanpa bertanya apapun pada suaminya, membuat Reza akhirnya serba salah dan salah tingkah.
keberadaan ketiga anaknya membuat ia sulit menjamah sang istri meski hanya memberinya penjelasan singkat, belum lagi si bungsu yang tak mau lepas darinya.
"Kalian jemput Abang sana, udah jam dua sebentar lagi pulang" kata Melisa yang baru keluar dari dapur , langkahnya terhenti sejenak sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.
"Papa ambil kunci mobil dulu, kalian tunggu disini" pesan Reza pada ketiga anaknya, ia langsung bergegas menaiki tangga dengan sedikit berlari, ia tak kuat lagi dengan sikap acuh istrinya selama dua jam ini.
"Raaaa" panggilnya saat membuka pintu.
Tok..Tok..Tok..
"Raaaa, buka sayang!" panggilnya lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Ada apa?" sahut Melisa dari dalam.
"Kamu lagi apa?" tanya Reza penasaran, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Jemput Abang sana, kasian kalau nunggu lama" teriak Melisa dengan nada tak biasa.
"Tapi kamu keluar dulu, kita harus bicara"
"Jemput Abang dulu!" sentak Melisa kesal, sungguh ia sedang menahan air matanya agar tak jatuh ke pipi.
"Ya udah, aku jalan ya kamu jangan macem-macem ya sayang" ujar Reza yang dengan berat harus meninggalkan istrinya di dalam kamar mandi.
Dengan langkah gontai ia pun menghampiri ketiga anaknya yang sudah menunggu sedari tadi di lantai bawah ruang tengah.
"Ready?" tanya Reza meski tak seantusias biasanya.
"Readyyyyyyyy" jawab ketiga sambil berjingkrak, menjemput Langit selalu menjadi hal paling menyenangkan bagi mereka bertiga.
Reza Langsung menggendong si bungsu dengan tangan kanan menuntut Ay, anak sulungnya yang terlalu aktif, karna Reza akan lebih percaya pada Bumi yang tidak akan menjauh darinya.
Semua sudah masuk kedalam mobil kini saatnya ia menyalakan mesinnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang, Si bungsu yang duduk di kursi depan samping papanya pun sudah menyanyikan dua buah lagu kesukaannya, sedang kakaknya Ay sibuk berceloteh dan bertanya apapun yang ia lihat, jangan tanyakan soal Bu, bocah tampan itu selalu tenang dan diam mengacuhkan keramaian di sekelilingnya.
"Itu Abang, pah" seru Chaca sambil menunjuk bocah berseragam rapih itu dengan tas punggungnya yang melekat.
"Abaaaaaaaang" teriak ketiganya saat mobil menepi tepat di hadapan Langit yang berdiri di depan gerbang sekolah elit bertaraf internasional.
"Lama ya?" ujar Reza Sambil menyambut uluran tangan Langit seraya memberi salam.
"Enggak, om. aku baru keluar" sahutnya sambil melepas tasnya.
"Kakak mau jajan coklat, Pah" pinta si sulung tak sabar.
"Adek mau susu stobelly" celoteh si bungsu dengan tawa manjanya.
"Ok, kita berangkat Sekarang" ujarnya langsung melajukan kembali mobilnya.
Selama perjalanan pulang, ketiga bocah di kursi belakang saling heboh bertukar cerita, namun obrolan tetap di kuasai oleh Air, Langit yang hanya menjadi pendengar dan penengah saat Ay dan Bu mulai adu argumentasi.
"Adek, diem dulu ya" bisik Langit pada Bumi saat Air memaksanya untuk ikut bermain scooter nanti di apartemen padahal Bumi sudah lebih dulu meminta Langit untuk membantunya menyusun Lego menjadi kapal pesiar.
"Main sama kakak dulu" sentak Air lagi tak mau mengalah.
"Terserah!" sahut Bu sambil membuang muka, Langit Langsung merengkuh bahu adik keduanya itu agar bisa bersandar padanya, terlihat oleh Reza lewat kaca spion bagaimana anak angkatnya itu selalu bisa menenangkan kedua adiknya.
"Siapa yang mau ikut turun?" tanya Reza saat mobil sudah terparkir di depan minimarket pinggir jalan.
"Adek..adek ikut papa"
"Ok, kalian diem disini" titah Reza pada ketiga bocah yang duduk di kursi belakang.
Reza masuk kedalam minimarket bersama si bungsu, mengambil tiga keranjang yang berwarna kuning, Chaha dengan sesuka hatinya memasukkan apapun kedalam keranjang yang ia bawa, setumpuk wafer Snack dan susu sudah memenuhi tiga keranjang tersebut.
Usai pembayaran kini keduanya kembali masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai di apartemen, Reza meminta semua anak anak untuk mencuci tangan dan kaki dan untuk Langit tanpa di perintah bocah tersebut sudah mengganti pakaiannya.
"Abang, jaga Adek dulu ya, Buna lagi gak enak badan" pinta Reza pada Langit saat semuanya sudah berkumpul di depan tv dengan makanan yang terhampar di atas karpet berbulu.
"Buna sakit?" tanyanya khawatir
"Enggak, cuma gak enak badan, nanti juga turun kok kesini" jawab Reza memberi pengertian.
Langit mengangguk paham, ia akan siap siaga menjaga ketiga adiknya.
Reza dengan langkah berat, hati berdebar badan tangan yang sudah basah akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar setelah menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya secara kasar..
CEKLEK..
.
.
"Raaaaaaaa"
.
.
***PRAAAAAAAANG.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Nah kan apa tuh bang 🤭😀
tadi mah bawa panci dari dapur buat jaga jaga 🙈🙈
perang dah lu situ, othor sama anak ayam siap ngetawain sambil nonton, eh salah ngebayangin 🤣🤣🤣..
Like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗🤗