
🌻🌻🌻
Reza membuang nafas kasar lalu kembali membawa bungkusan yang berisi kue itu keluar kamarnya.
Ia menuruni tangga dengan langkah malas sampai ia bertemu lagi dengan Aby yang sedang mematikan seluruh lampu di lantai bawah.
"Belum tidur?" tanya Reza saat sudah dekat dengan Aby.
"Belum, apa ada perlu yang lain, Den"
"Gak, ini!" Reza menyodorkan bungkusan kue yang tadi dibeli Aby.
Pemuda itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Makanlah, Melisa gak mau katanya" kata Reza lagi.
"Kenapa gak mau? apa gak enak atau--"
"Udah tidur" jawab Reza cepat.
Aby mengangguk tanda paham, lalu menerima bungkusan tersebut dari tangan Reza.
"Ini, gue gantiin duit Lo tadi" Reza kembali menyodorkan dua lembar pecahan uang berwarna merah.
"Gak usah, Den. gak apa-apa cuma dua puluh ribu tadi, ini terlalu banyak" aby menolak dengan nada halus.
"Ambil, atau gue akan bilang eyang buat buang Lo lagi" ancam Reza dengan sorot mata serius.
"Baiklah, terima kasih"
Keduanya terdiam di tengah ruang tamu yang gelap hanya ada lampu meja yang masih menyala.
"Mau makan kue ini bersama?" ajak aby walau ragu dengan nada terbata.
"Hem, boleh deh, gue juga laper" jawab Reza.
"Saya buatkan kopi atau teh?" tanya aby sambil tersenyum.
"Kopi susu ya"
Aby mengangguk, kemudian bergegas ke dapur dengan Reza berjalan di belakangnya.
Kini keduanya duduk berhadapan di meja makan dengan sepiring kue klepon dan dua gelas kopi susu.
"Lama kenal Melisa?" tanya Reza setelah menyuapkan satu buah kue klepon ke mulutnya.
Aby mengangguk, ada senyum diwajahnya.
"Sepuluh tahun lalu" jawabnya, lalu menghela nafas berat.
"Selama itu kah?"
"Ya, saat itu dia kelas lima sekolah dasar. Dia datang dengan luka di ujung bibirnya" Aby mengawali cerita bagaimana ia dan Melisa bertemu.
Reza tersentak kaget, ia menatap tajam kearah Aby yang belum meneruskan ceritanya.
"Kenapa bisa begitu?, siapa yang melukainya?" tanya Reza penasaran.
"Ibunya!"
DEG
Reza mengepalkan kedua tangannya geram.
"Hari itu saya pulang dari sekolah bersama dengan yang lain, saat masuk ada Melisa yang sedang di obati oleh Umi" Aby tersenyum getir saat menyebut nama Umi.
"Hanya sedikit yang saya dengar dari perbincangan Umi dengan kak Hesti, anak Umi yang pertama" kata Aby.
"Jadi saat itu juga Melisa tinggal di panti?" tanya Reza lagi, Sungguh ia sangat penasaran dengan masa kecil istrinya.
"Melisa hanya datang setelah pulang sekolah, jika petang dia kembali pulang kerumahnya, begitu seterusnya sampai tujuh tahun terakhir kami bersama"
Aby menoleh kearah Reza, ia menatap kedua mata pria itu dengan tatapan teduh.
"Saya hanya ingin mandiri" jawabnya, lalu menunduk.
Keduanya kembali terdiam, Reza menyeruput kopi susunya yang sudah hangat, terlihat dari tidak adanya asap yang mengepul.
"Apa Lo Deket sama Melisa?" pertanyaan yang sangat Reza ingin tahu jawabannya.
"Ya, Kami semuanya dekat, Melisa anak baik dan pintar membuatnya mudah bergaul dengan siapapun" sahut Aby, tangannya sibuk mengaduk minumannya.
"Lo ada rasa? tatapan mata Lo Laen saat pertama kali liat dia siang tadi" kini nada bicara Reza sudah lain, tak setenang tadi.
Aby terkekeh, ia sedikit membuang pandangannya sekilas
"Siapapun akan menyukainya, tapi sayang tak ada satupun yang bisa menaklukkan hatinya termasuk kak Ilham"
Reza tersentak kaget saat nama Ilham di lontarkan Aby, rasa curiganya kini semakin kuat bahwa anak pemilik panti itu menaruh hati pada istrinya.
"Lo yakin dia suka Melisa?"
Aby hanya mengangguk kan kepalanya.
Reza mendengus kesal lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
"Berbahagialah, Den, karna bisa memilikinya secara utuh, dicintai untuk yang pertama kali olehnya" ujar Aby pelan namun sangat terasa di dada Reza.
"Gue tau itu"
"Jangan lukai hatinya, karna terkadang ia mudah mengalah, ia tak pandai berbohong dan tak bisa egois" tambah aby.
Reza hanya diam, memang benar kata Aby dirinya lah yang pertama untuk Melisa, semua yang ada dalam diri gadis itu hanya Reza yang menikmatinya.
"Kelemahannya hanya sang ibu yang tak pernah perduli padanya, saya mohon limpahkan ia dengan kasih sayang" pinta aby, matanya seraya memohon.
"Hah, dunia aja bakal gue Kasih ke dia" jawab Reza dengan bangganya.
Aby terkekeh, entah ekspresi apa yang ia tunjukan di wajahnya kini.
"Udahlah, gue mau balik ke kamar. Lo abisin tuh si klepon" ucap Reza yang bangun dari duduknya, ia berjalan menuju tangga, menaikinya satu persatu hingga ujung.
Ceklek
Reza kembali membuka pintu, melangkah kan kakinya sepelan mungkin sampai tak menimbulkan suara yang bisa menggangu tidur sang istri.
"Kesayanganku"
Kini keduanya sudah berada di balik selimut, Reza memeluk tubuh Melisa dengan sangat erat, Reza menghujani wajah istrinya dengan banyak kecupan.
Walau kini terhalang Perut besarnya namun tak mengurangi kemesraan mereka.
***Hidupmu sungguh rumit.
Aku akan mempermudah segalanya.
Maaf belum bisa menjadi yang terbaik untuk mu, Ra..
Selama ini aku sering melukai hatimu.
Tapi tak sedikitpun terbersit niat untuk meninggalkan mu apapun alasannya.
pegang tanganku terus, Ra....
Karna mungkin masih banyak kerikil kecil didalam rumah tangga kita.
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉***
Hari ini otak aman ya, GK traveling ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Gak bosen deh Minta Like sama komennya