Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 182


🌻🌻🌻


Terkadang kita tak tahu akan kemana cinta dan hati kita berlabuh atau bermuara tapi jika kita tahu cinta itu mulai melawan arus yang bukan semestinya bukankah sebaiknya kamu menepi?...


Ana menitikan air mata saat mengingat ucapan terakhir Reza sebelum meninggalkan klinik siang tadi, kini tak ada lagi pria tampan yng sudah menyita waktunya belakangan ini, tak ada yang harus ia suapi makan atau sekedar membantu bersandar untuk minum, pria tampan itu pergi meninggalkan kenangan terindah untuknya, namun juga memberinya luka dihati sebelum ia merasakan keindahannya.


Ia masih duduk termenung di atas ranjang dimana reza selama ini terbaring lemah tak berdaya, ia seperti merasakan separuh jiwanya hilang entah kenapa.


"Yang pergi jangan di pikirin, anggap aja itu cuma iklan di dalam hdup kamu, An.." seloroh teman satu profesinya yang akan mengganti selimut kotor.


"Aku bagai kalah sebelum berperang!!!"


*****


" Lo mau pulang dulu apa langsung ke rumah sakit?" tanya Ardi saat keduanya dan beberapa bodyguard telah berada di dalam pesawat pribadi.


" Rumah lah, gila aja lo gue udah nahan kangen begini lo pake nyuruh gue milih segala!" oceh Reza.


"Ya, kali nemu suster baperan lagi di sana, ckckck" goda Ardi dengan senyum kecil namun penuh arti.


"Lo awas ya, bikin laporan macem-macem sama bini gue" ancam Reza dengan menunjuk hidung sahabatnya itu.


" Asal ada buat tutup mulut sih gue mah ok aja" kata Ardi yang sudah menegakkan duduknya ingin bernegoisasi.


"Asal lo diem entar juga ada yang ngalir" sahut Reza santai.


"Napa?, lo takut juga sama bini, haha" ejek Ardi dengan tawa terbahak-bahak.


"Gue bukan takut, gue cuma males ribut hal yang gak penting, lagian gada yang harus di bahas juga, itu urusan dia sama hatinya"


Ardi hanya mengangguk lalu Kembali bersandar, ia akan menikmati waktunya selama penerbangan dengan berisitirahat.


"Apa rumah tangga sebegitu rumitnya ya?" tanya Ardi tiba tiba memecah keheningan mereka.


"Tergantung Lo jalaninnya, mau dibikin gampang apa ribet" sahut Reza santai.


"Enakan yang mana?" Ardi kembali bertanya.


"Gue sih milih yang santai, fokus ke tujuan rumah tangga gue maunya apa?"


"Lo mau apa emangnya?"


"Bahagia!. gue cuma mau liat anak istri gue selalu senyum, simple kan?" Reza kini menoleh kearah Ardi.


"Gue udah sering bikin dia nangis, dan itu rasanya sakit banget, beda rasanya kalo liat dia senyum seakan dunia cuma ada gue doang sama dia, model manusia kaya Lo mah gak gue anggap ada!" kekeh Reza, Ardi yang tadinya serius mendengarkan langsung memukul pelan bahu kanan Reza.


"Kampret Lo ya" dengusnya kesal.


"Gua gak cari yang sempura karna gua takut kehilangan yang terbaik" lirih Reza.


***


Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah mewah keluarga Rahardian, saat mobil masuk Reza sudah melihat kedua orangtuanya dan juga sang istri berada di depan pintu.


"Best moments" ujar Reza penuh haru.


Pintu mobil terbuka, Reza yang di bantu dua orang dan juga Ardi akhirnya bisa keluar dari mobil dan duduk di kursi roda yang sudah disiapkan.


"Mas.." Melisa langsung bersimpuh di hadapan suaminya, genangan air mata kini runtuh juga membasahi kedua pipinya.


"kangen ya?" goda Reza , kemudian mencium kening KHUMAIRAHnya lama.


"Banget, jangan pergi lagi ya"


Reza hanya mengangguk sambil mengusap air mata istrinya.


Mama dan papa yang masih berdiri pun langsung memeluk Reza secara bergantian, tangis wanita paruh baya itupun pecah saat melihat keadaan anak kebanggaannya.


"Mah, maaf ya" bisik Reza dalam pelukan mama.


"Jangan ulangi, mama gak sanggup" sahut mama sambil mengusap punggungnya Reza.


"Dasar anak nakal, setelah ini persiapkan dirimu, kamu pilih tembok mana yang akan jadi hukuman mu" kata papa.


"Pah, aku belom masuk loh, udah maen hukum aja" gerutu Reza.


"Itu hukuman mutlak" jawab papa tak mau kalah.


"Aku mau ngadep tembok China, biar sekalian honeymoon lagi buka segel" sahutnya sambil melirik ke arah Melisa.


( Ke Cina ada Corona bang, ke tembok rumah othor aja, biar sekalian di Ketawain cicek)


.


.


.


.


Ada baby Ay yang mulai bisa menggerakkan tangannya keatas, Baby Bu yang asik memainkan lidah sedang Cahaya hanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan mata lentiknya.


"Wah, NaGa papa lagi main ya?" goda Reza saat sudah disisi ranjang.


"Hallo tuan putri" sapanya pada si bungsu, walau tak begitu di respon karna cahaya memang sedikit terlambat di banding kedua kakaknya.


"Perasaan makin gede aja ya, padahal aku cuma seminggu pergi"


"Masa sih, Sama aja ah" sahut Melisa yang kini sudah memangku Ay karna mulai terisak.


"Ini nih yang bikin aku gak kuat nahan kangen sama kamu, Ra"


"Apa?," tanya Melisa yang sudah membuka dua kancing dress nya untuk menyusui Ay.


"Lihat kamu ngurus anak-anak" jawabannya penuh rasa bangga.


Kini Reza meraih Baby Bu yang mulai bosan bermain sendiri, di pangkunya si tengah sambil terus menciumi kedua pipi bulatnya.


"Kangen banget sama Bu, kangen godain kalo lagi bobo"


Reza terus saja mengajak bermain ketiganya tanpa bosan, sampai pada saat eyang datang membawakan makan malam untuk mereka, kini keduanya makan malam di sofa dengan Melisa menyuapinya.


Usai makan malam keduanya memilih untuk langsung menaiki tempat tidur, melepas rasa rindu yang tak lagi bisa mereka bendung.


"Terima kasih sudah menungguku" ujarnya setelah semua makanan tandas mereka nikmati.


"Aku yang harusnya berterima kasih, karna mas Reza sudah bertahan dan pulang"


"Aku mencintaimu, Ra"


Reza langsung menarik tengkuk istrinya, menikmati bibir ranum kemerahan itu dalam Setiap luma tannya, pelan namun pasti hingga akhirnya semakin menuntut lebih dan lebih, gairah kelelakian nya memuncak saat menikmati leher putih yang selalu menggoda.


Meninggalkan jejak kemerahan yang lama tak ia lakukan.


"Mas" bisik Melisa di tengah aksi liar suaminya.


"Belum boleh"


"Aku tahu, traveling mah gak apa-apa, transit sana sini sebentar" jawabnya dengan senyum menggoda.


"Gak ah, nanti kelepasan, tunggu tiga hari lagi ya"


"Ish, aku gak ngapa-ngapain, percaya deh"


Reza semakin mengeratkan pelukannya, menciumi seluruh wajah istri yang sangat ia rindukan.


"Pake sayang jangan dulu pake nafsu" cibir Melisa saat tangan Reza sudah bermain di area favoritnya.


"Kalo gak pake sayang gak gini maennya" bisik Reza dengan nafas yang mulai berat.


"Tuh kan, udah mulai gak beres" kata Melisa yang langsung membetulkan piyamanya yang mulai terbuka.


"Ya udah maen pantun aja, aku gak bisa tidur nih" ajak Reza pasrah.


"Apa?, gak usah aneh aneh ya"


"Pantun mana ada yang aneh, Raaaa"


"Ya udah cepetan, bentar lagi Ay pasti nangis udah mau waktunya ASI" ujar Melisa setelah melirik jam di dinding.


"Ehem" Reza berdehem kecil.


"Cakeeeeeeep!!" balas Melisa


"Belom, Ra!" oceh Reza saat istrinya mulai meledek..


"Haha, aku kira udah mulai" kekeh Melisa.


"Ish, nyebelin"


"Ya udah cepetan atuh ih"


"Satu itik... satu ayam!!! "


"Cakeeeeeeep..."


"Punya istri cantik.. ternyata susah tidur malam"


Eeeeaaaaaaa 🀭🀭🀭🀭🀭🀭


bisa ae lu bang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


gue masukin musium rekor lama lama lu bang kategori Raja gombal dunia haluπŸ™„..


Like komennya yuk ramaikan β™₯οΈπŸ€—πŸ€—