Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 42


🌻🌻🌻🌻


"Maaaaaaah.... ngapain sih? gak lagi di gigit gajah kan!!" Teriak Air di luar kamar membuat Reza dan Melisa saling pandang dengan tatapan tak percaya.


"Gajah?, kamu bilang aku Gajah?" tanya Reza.


Istrinya menggeleng kan kepalanya, raut wajah bingung jelas sekali terlihat.


Melisa melepas pelukannya lalu memunguti bajunya yang tercecer dimana-mana.


"Mas, ih! ini kenapa nyangkut disini sih!" dengusnya kesal saat menyambar penutup gunung nya yang tersangkut di sisi meja rias.


"Masih bagus disitu, gak diatas genteng tetangga" kekehnya yang malah memeluk bantal guling


"Maaaaaaaaaa, kakak pingsan nih ya depan pintu!" ancam Air yang tak sabar.


"Kamu pingsan nanti papa ceburin ke danau biar di makan sama ikan teri" sahut Reza sengaja berteriak.


"Mas ,ih!"


****


Melisa yang sudah membersihkan dirinya langsung keluar dari kamar meninggalkan suaminya yang terkapar lelah usai mengeluarkan keringat saat mengobrak Abrik lahan hutan belantara nya.


Tap tap tap.


Deru langkahnya yang tergesa membuat kedua anak kembarnya menoleh, ada Bumi dan Cahaya.


"kakak mana?" tanya Melisa yang ikut duduk disisi si bungsu.


"Cari makan sama Abang" jawab Cahaya sambil memanyunkan bibirnya.


"Kemana?, emang gak minta sama mbak yang disini?"


"Enggak, Kakak pengen jajan katanya" gantian Bumi yang menjawab.


Melisa hanya mengangguk paham, rasa bersalah mulai menggelitik hatinya.


"Terus adek kenapa ini malah cemberut?" goda Melisa pada anak perempuannya itu.


"Adek pengen ikut, tapi gak boleh kata Abang takut hujan soalnya udah mendung" Kata Cahaya dengan raut wajah kecewa, Keinginannya benar benar di tolak oleh Langit dan Air.


"Mendingan dirumah tinggal nunggu mereka datang terus makan" Balas Bumi yang memang tak pernah mau ribet dalam segala hal.


.


.


.


Di Pertigaan jalan Air dan Langit ribut memilih makanan, ada saja yang mereka debatkan sampai akhirnya tak jadi dan melanjutkan laju motornya.


Langit yang memang sering kali mengalah hanya pasrah saat Air tak jadi dengan pilihannya.


"Cari aja terus tar juga ketemu sama yang enak!" sahutnya santai.


"Masalahnya nanti nyasar, kan ini baru pertama kali kesini, nanti kalo di tilang gimana?, kamu gak pake helm tuh!"


"Iya... iya.. di depan coba deh liat ada apaan!"


Langit kembali menarik gas motor maticnya saat lampu berubah menjadi hijau ia masih menuruti keinginan adik pertamanya itu untuk mencari apa yang yang ia ingin kan.


"Apa ya?, kok kakak gak liat ada yang aneh gitu yang bisa di makan" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Langit.


Kesabaran anak angkat Melisa itu selalu Air lah yang menguji, apapun yang ia inginkan harus segera di turuti hal yang kadang diluar akalnya.


"Ya udah cepetan pengen apa, ini udah jauh loh, Abang nanti lupa jalan pulang"


Air hanya diam saat Langit bertanya padanya, ia menengok ke kanan dan ke kiri, jejeran para pedagang di pinggir jalan tak ada satupun yang menggoda seleranya.


"Bingung kakak, bang" ucapnya yang nampak pasrah.


"Terus gimana?, pulang atau mau ke restauran cepat saji aja"


"Enggak!" jawabnya sambil menggeleng.


"Lalu mau apa?" tanya Langit setelah membuang nafas kasarnya karna Cahaya tak hentinya menelepon tapi tak ada satupun yang ia angkat, sudah bisa di bayangkan bagaimana marahnya gadis itu nanti saat ia pulang.


"Kita kesan aja, bang" Air menunjuk sebuah kedai, Dan Langit menoleh dengan tatapan bingung juga heran.


"Ngapain kesana?"


.


.


.


.


.


.


.


Makan mie instan aja sama telor!!!


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Gue guyur pake Aer comberan Lo kak 🤧🤧🤧


Kelakuan lebihin orang lagi ngidam😪😪😪


Like komen nya yuk ramai kan