
🍂🍂🍂🍂
Pernikahan yag awalnya dari sebuah perjodohan siapa sangka akan bertahan lebih dari setengah abad. Di karuniai tiga orang anak kembar sekaligus tentu adalah anugerah terindah bagi Reza dan Melisa. Kini tak hanya anak yang mereka miliki tapi cucu dan dua cicit sudah mewarnai kehidupan pasangan baya yang selalu terlihat romantis di mata keluarganya.
"Aku mencintaimu, Ra" rangakaian kata sederhana namun tak sekalipun pernah absen dari mulut Reza selama ia menyandang status menjadi Suami Dadakan.
Kebahagiaan terus ia rasakan di penghujung sisa sisa hidupnya. Melihat gelak tawa anak dan cucu, dan jerit tangis kedua cicitnya seakan membuatnya tak henti bersyukur masih ada sampai detik ini.
.
.
.
"Minum dulu air putihnya"
Reza datang dengan dengan segelas minuman di tangannya. Melisa tersenyum kecil lalu menegaknya hingga habis setengah.
"Masih pusing?" tanya Reza.
"Ini sudah jauh lebih baik" jawab Melisa yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari sang suami.
Tangan yang selalu saling menggenggam itu seakan pertanda jika keduanya tak pernah ingin terpisah satu sama lain.
"Jika aku pergi lebih dulu, bagaimana?" pertanyaan sederhana lolos begitu saja dari mulut wanita yang sudah melahirkan si kembar ke dunia.
"Tunggu aku disana, karna kapanpun itu Waktunya kamu tetap menjadi tujuan akhirku, Ra" pelukan yang semakin erat di lakukan oleh Reza untuk Khumairahnya yang selalu merona kedua pipinya saat ia bicara.
"Tapi aku takut, Mas".
" Kalau takuit, kita pergi bersama, Ok" satu pilihan yang sebenarnya sudah di pikirkan masak masak olehnya selama ini.
"Asal kamu tahu, Ra. Gimana beruntungnya aku bisa ketemu sama kamu, dengan kamu yang sederhana inilah kamu selalu punya cara sendiri buat aku bahagia bahkan dengan hal kecil yang belum pernah aku rasain sebelumnya. Terima kasih banyak ya, darimu aku merasa benar-benar dihargai" ucap Reza yang langsung membuat Melisa tersenyum kecil dalam dekapan pria yang selalu memberinya rasa aman dan nyaman itu.
"Aku pun sama, aku yang bahkan tak punya pegangan hidup kalau itu, kini bisa manjadi sempurna karnamu, tetaplah saling melengkapi, jangan hanya mencari cari kesalahanku tapi kamu justru harus bisa membuat ku memperbaikinya" balas Melisa dengan suara parau siap menumpahkan tangis bahagia.
"Ternyata seindah ini ya saling mencintai, cukup ada kamu dan aku yang tak pernah terbagi."
.
.
.
Rumah utama Rahardian yang tak pernah sepi itu kini di kelilingi oleh si kembar yang masing-masing bersama keluarganya.
Jangan tanyakan Air dan Hujan tentu mereka sudah sangat bahagia bersama kedua cucunya yaitu Embun dan Rain hasil pernikahan Samudera Biru.
Lalu Bumi dan Kahyangan, mereka yang dulu pernah berjuang belasan tahun demi satu keyakinan akhirnya bisa menikmati indahnya satu Aamin bersama kedua anak kembar mereka, Galaksi dan Aurora yang tumbuh menjadi sosok yang selalu di banggakan karna rasa sabar yang turun dari kedua orang tua mereka.
Sedangkan si bungsu yang ternyata sudah memiliki jodoh sedari dalam rahim pun selalu di perlakukan layaknya Ratu oleh sang suami, limpahan harta dan kasih sayang yang Langit berikan pada Cahaya membuat anak dan cucu perempuan satu-satunya keturunan Rahardian itu tak pernah tahu dimana letak garam di dapurnya.
.
.
.
Sesederhana ini ternyata bahagia? hanya cukup menatap mereka yang tertawa dan bertukar cerita, tak ada kata yang mampu ku ucapkan padamu yang telah memberiku rasa yang luar biasa.