Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 177


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Masuklah... di dalam ada ibumu!


Bagai ada Ribuan batu menghimpit tubuhnya, Langit seakan lemas tak lagi bisa menompang dirinya sendiri.


"Ibu?" gumam pemuda tampan itu.


"Iya, ibu Abang ada didalam" jelas Reza lagi.


"Abang cuma punya Buna" jawabnya lirih.


Langit mengggeleng kan kepalanya kecil, yang ia tahu ibunya hanya Melisa selama ini, Langit tak pernah mencari tahu jati dirinya meski ia bisa melakukannya sendiri jika ia ingin. Hidupnya sudah sangat bahagia dan lengkap meski hanya dengan keluarga angkatnya saja. Tak pernah terbersit dalam pikirannya hal seperti ini terjadi karna yang ia takutkan adalah ia di tinggalkan keluarga Rahardian maka itu ia tak pernah mencoba ingin tahu keluarga aslinya.


"Bang" sapa Reza yang membuyarkan lamunannya.


"Pulang yuk, Om. Adek butuh Abang"


Reza menarik tangan putra angkatnya itu saat Langit sudah membalikkan tubuhnya untuk pergi, bayangan Melisa tiba-tiba terlintas di pelupuk matanya.


Hati wanita itu pasti terluka jika tahu, Hipertensinya pasti akan naik bila melihatnya bersama ibu kandungnya, dan Langit hanya ingin menjaga hati wanita terbaiknya itu agar tak sedih.


"Abang..temui dulu" pinta Reza lagi, ia tahu jika Langit masih belum bisa menerima kenyataan yang sungguh sangat mendadak baginya.


"Buat apa? Om mau balikin aku ke keluarga kandung ku, iya?" tanya Langit dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca siap untuk menumpahkan tangisnya.


"Bukan begitu, kamu cukup temui ibumu dan selanjutnya itu terserah padamu, Bang."


"Abang gak mau, buat apa?" tanya Langit yang kini tangisnya sudah pecah, ia bersandar di dinding rumah sakit sambil membenturkan kepalanya ke dinding.


Ia tak suka dengan takdirnya saat ini.


Ia tak ingin tahu apapun tentang masa lalunya.


"Buna.. Abang anak Buna, kan?" lirihnya sambil meremat baju bagian dadanya yang terasa begitu sesak.


Reza yang tak tega melihat putra kebanggaannya itu langsung meraih tubuh lemah Langit, ia dekap pria yang semakin dewasa itu, Reza biarkan Langit menangis dia atas bahunya, guncangan tubuh Langit sudah jelas menandakan bagaimana terlukanya ia sekarang.


"Abang, kita gak akan kemana mana. Abang tetep Anak Om sama Buna, Abangnya si kembar" bisik Reza mencoba menenangkan Langit.


"Masuk dulu ya, temui ibumu"


Langit masih menggelangkan kepalanya lagi.


"Abang pengen pulang" pintanya di sela Isak tangis.


Reza mengurai pelukannya, ia tangkup wajah tampan anak angkatnya yang kini banjir air mata oleh kedua tangannya.


"Semua akan sama seperti biasanya, gak ada yang berubah, Ok" kata Reza meyakinkan.


Langit menarik nafasnya dalam-dalam setelah Reza menghapus derai air mata Langit.


Langit menoleh lagi ke arah Reza, dan pria itu hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.


CEKLEK...


Seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya, matanya tertutup rapat.


Ada satu orang dokter dan dua perawat lainnnya sedang memeriksa kondisi wanita tersebut.


Ketiganya menoleh saat Langit datang.


"Bagaimana?" tanya Langit pada si dokter saat ia sudah memasukan kembali stetoskopnya ke dalam saku jas putih yang ia kenakan.


"Sudah jauh lebih baik, Tuan" jawab dokter yang memeriksa.


Langit mengangguk kecil saat ketiga orang yang bertugas menangani wanita itu berpamitan.


Ia tak langsung mendekat, Langit masih berdiri di tempatnya. Ia bingung harus apa saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"BUNA... Abang takut!!!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***


Sini bang, neng temenin kalo takut 🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan ❤️