Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra Bab 109


🌻🌻🌻🌻🌻


" Kita ke kos'an"


Hujan yang tadi sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa mendengar jawaban dari Air, kini menegakkan tubuhnya lagi.


"Pegangan, tar Lo ketinggalan di jalan" kekeh Air yang sudah bersiap menarik gas Motornya.


Gadis dengan rambut sebahu itu diam sesaat ketika Air mengulurkan tangannya kebelakang, dengan ragu akhirnya ia pun menerima uluran itu, tangannya kini sudah melingkar memeluk pinggang Air.


Gadis itu merasakan debaran yang luar biasa saat tubuhnya begitu menempel di punggung orang yang selama ini selalu memancing emosinya, bahkan seringnya mereka berdebat seperti sudah menjadi makanan sehari-hari.


Motor berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua dengan pagar berwarna putih yang sedikit terbuka, ada seorang satpam yang langsung membuka pintu gerbang saat Air menekan klakson motornya


"Wah, baru kesini lagi, Den" sapanya Ketika Air membuka helm.


"Iya, baru sempet, Mang" jawabnya sambil membuka helm di kepala Hujan yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


"Ngapain ke sini?" tanya Hujan yang bingung bercampur takut.


"Lo gak inget tadi gue minta Lo buat nemenin gue tidur"


Hujan membulatkan matanya, tanpa mau berkata lagi ia sudah bersiap untuk pergi


"Heh, Lo mau kemana?" tanya Air sambil menarik lengan baju Hujan .


"Pulang, ngapain gue nemenin Lo tidur, emang gue cewek apaan!" sentaknya dengan wajah merah padam menahan kesal.


"Cih, otak Lo lagi gak mikir mesum kan?"


Gadis itu membuang muka untuk menutupi rasa malunya yang sudah berpikiran terlalu jauh.


"Mang, ketoprak dua ya" teriak Air pada pria paruh baya yang tadi membuka pagar.


Air kembali menggenggam tangan Hujan menuju bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan jejeran pintu berwarna putih.


"Lo gak mau nanya sama gue?" kata Air sambil terus berjalan.


"Nanya apa?, ini pasti punya Lo, kan?"


Air menoleh sembari tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.


Di lantai satu nampak begitu sepi, Beberapa pintu masih tertutup rapat namun ada juga yang terbuka.


"Tante Susi" sapa Air sambil mengetuk pintu bernomor kan tujuh.


"Eh, si kakak" sahut seorang wanita dewasa berpenampilan sangat terbuka membuat para lelaki mungkin akan menelan Salivanya jika melihat, tapi tidak dengan Air ia malah menertawakan wanita itu.


"Si Tante masih belom beli baju juga"


"Haha, hareundang, Kak" sahutnya sambil menepuk bahu Air.


"Tunggu dulu ya"


Wanita itu masuk kedalam kos'annya dan kembali setelan dua menit.


"Nih, hitung dulu" ucapnya sambil menyerahkan amplop berwarna coklat pada Air


"Enggaklah, kakak percaya sama Tante. Tante kalo bayarnya lancar makin cantik loh auranya Laen gitu di liatnya" puji Air sambil tersenyum lebar.


"Heh, dasar berondong nakal, kamu muji apa nyindir tante sih"


Air tertawa sambil menghindari serangan wanita yang merasa gemas dengannya.


Air memang selalu ramah pada siapapun termasuk orang-orang yang tinggal di kos'annya, ia tak pernah marah saat para penghuninya telat membayar uang sewa jika benar-benar tak ada.


"Sepi ya , Ay" kata Hujan saat menaiki tangga menuju lantai dua.


"Hem, kalo pagi ya gini kan pada kerja atau kuliah" Sahutnya sambil berjalan pelan.


"Gada yang rumah tangga?"


Air menggelengkan kepalanya.


"Ada, tapi bukan yang disini, yang bagian lima pintu, agak jauh dari sini" jelasnya pada Hujan.


"Mbak, Nuri" Panggilnya pelan.


"Mbak... mbak Nuri"


CEKLEK


Seorang gadis cantik berambut coklat keluar dari balik pintu, parasnya begitu manis dan anggun, terdapat lesung pipi juga saat ia tersenyum.


"Mbak tungguin dari kemarin, kak" ucapnya langsung.


"Kemarin banyak urusan, baru bisa kesini" jawab Air sambil menerima amplop berwarna putih dari tangan mbak Nuri.


" Makasih ya, Mbak"


"Sama-sama, kak" balasnya yang Lagi-lagi tersenyum


"Kakak ke kamar dulu ya, gak kuat lama-lama disini di senyumin sama Mbak" goda Air sambil terkekeh.


"Huh, Dasar"


Keduanya melanjutkan langkah sampai kamar paling ujung dengan nomor dua puluh, Air langsung membuka pintunya dengan kunci yang ia bawa sendiri.


"Yuk masuk, gak usah takut" ajak Air.


Hujan masih mengekor dibelakang pemuda yang sudah melemparkan tasnya ke atas sofa, begitupun dengan Hujan yang langsung meletakkan tasnya di atas meja kecil.


"Gue masih ngantuk, gak apa-apa ya disini dulu"


Hujan masih diam bergeming, bingung harus menjawab apa.


"Sampai kapan?" Tanyanya.


"Sampai sore, tagihan gue masih banyak" jawab Air Sambil menghampiri Hujan, gadis mundur saat Pemuda yang sedang tersenyum kepadanya semakin mendekat.


Deg.


Jantung Hujan seakan berhenti berdetak ketika tubuhnya sudah merapat ke tembok.


"Lo mau apa?" tanyanya panik, Karna Air kembali mengungkungnya dengan kedua tangan yang menempel di tembok.


"Gue mau kenalin Lo disini jadi IBU KOS " bisiknya dengan bibir menempel di telinga kanan Hujan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Den, ini ketopraknya!!!!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gak usah marah kalo di ganggu.


Othor cuma mau bilang....


KARMA di bayar.......


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️