
🌻🌻🌻🌻🌻
Fix... kita main nikah nikahan ya!!
PLAAAAAAKKKK
Hujan memukul kepala Air dengan sendok ketoprak yang ia ambil dari piringnya.
"Nih otak gak ada akhlak" cerca Hujan.
"Woy, kepala gue kotor"
Gadis itu melipat tangannya di dada setelah genggaman mereka terlepas.
"Ya terus mau gimana? kita tetap nikah sah secara hukum sama agama kok, cuma ya gitu" ucapnya bingung yang ia sendiri bingung mengartikannya.
"Gitu gimana?, pernikahan bukan mainan, Ay" protes Hujan.
Air kembali menarik tangah Hujan, ia tahu gadis itu pasti marah padanya dengan ajakan konyol yang ia ucapkan tadi.
"Kita masih muda, Jan Hujan. Apa Lo mau masa depan kita berantakan gara-gara nikah kaya gini?, lagian ini kan salah Lo! salah mulut Lo tuh" dengusnya kesal jika mengingat kejadian di kamar panti jompo tempo hari.
" Tapi pernikahan bukan mainan, Lo ajakin gue nikah nikahan emang Lo pikir itu wajar?, terus mau dibawa kemana!" tanya Hujan penuh emosi.
"Kita pikirin itu nanti, nikah aja dulu"
"Gue gak mau kalo caranya gini, gak apa-apa gue di omelin Bunda atau di usir sekalipun yang penting gue gak mainin pernikahan!" ucap tegas Hujan, ia tak setuju dengan ajakan Air.
"Gue juga gak mau, ya udah Lo kalo di usir Bunda Lo lari ke rumah gue ya" Air malah menggoda gadis itu
"Ngapain gue kerumah lo! males banget"
"Tetep aja kita di nikahin" tambahnya lagi dengan nada semakin ketus di dengar.
"Itu namanya kita jodoh, udah lah gak usah di bikin ribet, Jan"
Hujan menggelengkan kepalanya, ia tetap dengan pendiriannya untuk menolak ajakan Air menikah secara pura-pura yang tak jelas akhirnya nanti.
Ia yang tak memiliki keluarga lain tentu takut hal buruk terjadi di masa mendatang, ia yang hanya orang dari kalangan biasa tentu akan merasa sangat di rugikan nantinya.
Tapi jika mengingat sang Bunda, ingin rasanya ia pun ikut Berbakti dan menerima permintaan wanita yang sudah membesarkannya itu.
"Gak, Ay. Gue gak mau" kali ini ia berkata lebih tegas dari sebelumnya.
"Lo harus mau, gue maksa loh, Jan Hujan!"
"Cih, bodo amat!" gadis itu kembali membuang muka, ia sedang bertekad untuk tida termakan rayuan Air yang mungkin saja akan mengeluarkan jurus andalannya yang selama ini begitu terkenal bisa membuat para gadis bertekuk lutut di hadapannya.
"Kalo Lo pinter, Lo gak akan bikin keputusan kaya gitu, Lo cowok kok kaya gak gentleman banget sih" Cibir Hujan dengan mencebikkan bibirnya.
Air yang mulai terpancing emosinya mulai memicingkan mata namun dengan cepat ia bisa kembali meredam emosinya demi rencananya berjalan lancar.
"Gak gitu, Jan" Air melembutkan Suaranya agar gadis itu berhenti merajuk.
"Udah lah, gue mau pulang!" Hujan yang sudah sangat kesal bangun dari duduknya dengan cepat karna tak ingin di cekal lagi oleh Air.
"Eh Lo mau kemana?, gak inget Sama pesan gue barusan!" sentak Air saat melihat hujan bergegas untuk pergi darinya.
Air yang ikut bangun langsung reflek menarik tangan gadis itu, kini tubuh langsing Hujan ada dalam pelukan nya, ia mendekapnya dengan sangat erat sambil berbisik di telinga kanan Hujan..
"Jangan pergi, atau.....?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kalian sedang apa?"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Di grebek lagi kan 🤦🤦
Lo bikin malu gue kak.
Sumpah 🥱🥱
Gue Kawinin Lo Beneran!!
LIKE komen nya yuk ramai kan ❤️