Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 103


🌻🌻🌻


"Raaaaaa"


Reza kembali berteriak, rasa paniknya berkali-kali lipat saat ini, dengan sigap ia menekan tombol darurat yang menempel di dinding sisi brankar pasien.


"Sayang, kamu kenapa? ayo bangun!"


Tiga menit kemudian dua orang suster datang bersama dokter Rissa.


"Kenapa, Za?" tanya Caca saat masuk kedalam kamar.


"Tadi udah sadar, tapi pingsan lagi"


Dokter Rissa langsung memeriksa Melissa dengan sangat cekatan juga teliti, semua nampak serius terlihat jelas dari raut wajah sang dokter bersama para suster.


"Mana, sus?" kata Rissa pada salah satu perawat yang ikut bersamanya tadi.


"Ini, dok"


Rissa memberikan satu suntikan yang ternyata itu penguat kandungan, ia benar-benar cemas akan bayi didalam perut istri sahabatnya itu, terlebih ia juga adalah menantu dari pemilik rumah sakit.


"Ca," ujar Reza masih nampak panik, tangan istrinya tak sedikitpun lepas dari genggamannya.


"Udah, jangan panik, gak apa-apa"


"Dia pingsan lagi, dan Lo nyuruh gue gak panik?" sungut Reza kesal.


"Kita lihat satu jam kemudian, nanti kita cek bayinya lewat USG" kata dokter Caca.


"Kenapa gak sekarang?" tanya Reza mulai emosi.


"Semua ada prosedurnya, Za, kita gak boleh gegabah pokonya Lo tenang gue yang urus semuanya"


Rissa dan kedua suster pun pergi meninggalkan Reza yang kalut bersama sang istri yang kembali tak sadarkan diri di dalam kamar VVIP bak hotel bintang lima.


Sampah...


Apa maksud dari kata Sampah, Ra?


Kenapa tiba tiba kamu bicara aneh kaya gini


Reza terus saja bergumam dalam hatinya, sikap tak biasa sang istri membuat banyak pertanyaan di kepalanya.


***


Satu jam berlalu.


Melisa kembali sadar dan Reza belum sedikitpun berpaling darinya.


"Raaa," lirih Reza saat melihat mata istrinya sedikit demi sedikit terbuka.


Masih tampak tak ada senyum di wajah pucatnya.


"Minum lagi, sayang?" tanya Reza.


Melisa menggeleng pelan, ia mengusap perutnya sendiri dan kembali lelehan air mata membasahi wajahnya.


"Ada apa sayang?" tanya Reza dengan sangat sangat lembut.


"Aku takut dibuang" jawabnya sedih dan mulai terisak lagi.


"Aku gak punya siapa-siapa, tolong jangan buang aku karna aku gak bisa menjaga pewaris keluarga kalian"


Reza benar benar tak habis fikir jika istrinya mempunyai fikiran seperti itu, ia ingin sekali mendesak namun Reza juga sadar akan kondisi sang istri yang masih sangat lemah.


"Aku mencintaimu, aku akan selalu bersamamu. Percayalah" kata Reza mencoba menguatkan.


Kini ia kembali memencet tombol darurat sesuai pesan dokter Rissa.


"Masih tinggi banget tekanan darahnya, pusing ya?" tanya dokter usai memeriksa.


Melisa hanya mengangguk, kepalanya memang bagai tertindih batu besar.


"Kita pindah dulu ya sebentar, buat cek Dede bayinya" kata Caca lagi.


Kini Melisa di bawa keruang USG, tempat dimana semua orang akan tahu kondisi dari pewaris Rahardian group.


Dokter Rissa menyingkap sedikit baju bagian atas Melisa, memberikan sedikit gel yang terasa dingin dipermukaan kulit. Setelah rata barulah ia mulai menggerakkan alat untuk mengecek detak jantung si cabang bayi.


"Bagus, masih normal walau lemah banget ya," kata Caca dengan mata masih fokus pada layar LED di hadapannya.


"Itu apa, Ca?" tanya Reza penasaran.


"Ini anak Lo, kecebong Lo udah gede nih" kekeh Rissa, tangannya masih berputar putar diatas perut Melisa


"Yakin semua baik, dok?" kini Melisa yang bertanya dengan nada pelan bahkan nyaris tak terdengar.


"Iya, Mel, akan jauh lebih baik kalau kamu gak stress ya,.kasian Dede bayinya ikut stress juga di dalam sana" pesan Rissa.


Melisa akhirnya mengangguk paham.


"Jangan memikirkan hal yang tidak terlalu penting, anakmu akan lahir dengan sehat jika kamu bahagia, bukankah kamu adalah wanita paling beruntung di dunia ini? semua orang menyayangimu, terlebih kamu mempunyai suami yang amat mencintaimu," Rissa melirik sekilas pada Reza, sudah terlihat bagaimana cara Reza memperlakukan sang istri itu bentuk dari perasaan cintanya.


Melisa menitikkan air matanya, menoleh kearah suaminya yang tak sedetikpun meninggalkannya.


"Mas, maafkan aku" lirihnya kemudian.


"Iya sayang, kembalilah tersenyum dan kembalilah menjadi KHUMAIRAHku" pinta Reza tak kalah lirih saat mengucapkannya.


"Aku salah, aku terlalu takut saat ini" kata Melisa, ia mengusap perutnya yang sudah kembali dirapihkan suster.


"Tak ada yang kamu harus takutkan, kami akan menjagamu, Ra"


"Terima kasih,Mas"


Aku takan membiarkan orang lain mengganggu rumah tangga kita, Ra.


aku takan tinggal diam saat ada orang yang akan mengusik kebahagiaan kita.


aku akan cari tau penyebab rasa takutmu hingga kamu seperti ini. bathin Reza


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Cari dikolom komentar, bang nanti ketemu deh penyebabnya🀭🀭🀭


like KOMENNYA yuk RAMAIKAN β™₯️β™₯️


yang punya poin lebih bisa vote dan kasih hadiah yaπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°