
🌻🌻🌻
" Yang mana?" tanya Ay bingung.
Belum sempat Bumi menjawab, ketukan pintu mengalihkan fokus keduanya yang langsung menoleh, sudah ada Melisa disana sedang tersenyum manis kearah dua putranya.
"Mama bikin es degan kelapa, yuk kebawah" ajak sang mama yang membuat empat mata si kembar berbinar senang.
"Mau..mau..mau" Sorak si sulung kemudian di susul oleh si tengah yang hanya tersenyum kecil.
.
.
.
Satu wadah kaca berukuran besar sudah ada di atas meja ruang tv lengkap dengan enam gelas dan enam Sendok nya, siap di nikmati oleh para calon pewaris tahta RAHARDIAN grup yang sudah turun temurun.
"Mama beli kepala dimana?" tanya Ay yang terus mengaduk-aduk wadah tersebut.
"Kelapa, Kak" sahut Bumi.
"Iya, ih bikin aku mual tau! masa iya kepala"
Air hanya melirik sekilas lalu tertawa.
"Kan lidah kakak kepeleset dek" balas Ay di sela gelak tawanya.
"Kepeleset tiap hari, itu ngomong kerupuk aja sampe sekarang kepuruk mulu" protes si bungsu
"Ish, bawel banget! Bang, kawinin sana terus bawa pergi ke planet mars"
Cahaya yang kesal, tak lagi menimpali ucapan sang kakak ia malah memukul kepala Air dengan sendok sampai pemuda itu harus merintih kesakitan dan meminta ampun.
"Udah dong, dek"
"Enggak, ini sendok nya cinta sama kakak makanya mau deket sama nempel terus ke kakak"
Alasan si bungsu tentu mengundang gelak tawa dari semuanya, puas menganiaya Air ia pun melanjutkan kembali meminum es degan miliknya hingga habis bahkan gelas Langit pun ia Pindahkan isinya kedalam gelas miliknya.
*****
Reza datang sebelum jam makan malam tiba, masih ada sisa waktu untuk ia membersihkan diri dan santai sejenak di tengah kasur untuk merenggangkan otot otot tubuhnya
"Mas, makan dulu yuk" suara sang istri membuyarkan lamunannya
"Abang Lusa pulang ya, Ra" Tanya Reza yang belum juga bangun dari tidurnya.
Melisa yang sedari tadi hanya berdiri di ambang pintu kini melangkah masuk menghampiri sang suami.
"Gak apa-apa, kurang dari satu tahun lagi dia lulus kuliah, Tadi papa minta Abang buat tinggal disana"
Melisa hanya mengangguk, iapun bingung harus menjawab apa, papa mertuanya yang juga menyayangi Langit memang tak pernah membedakannya dengan tiga cucu kandungnya.
"Aku sih terserah, Mas"
"Langit akan ambil alih perusahaan papa, Papa udah nyiapin itu semua dari awal bahkan ada beberapa saham atas namanya juga, Abang tinggal nerusin aja karna papa udah bener bener mau lepas tangan"
Melisa menitik kan air matanya, bagaimana bisa anak kecil yang ia temukan di pinggir jalan kini begitu di cintai keluarga suaminya.
"Kenapa?" tanya Reza saat melihat sang istri sedang menghapus air Matanya.
"Aku bahagia, kalian bisa nerima Abang dengan tangan terbuka, padahal kita gak tau asal usulnya, Mas"
Reza bangun dari duduknya, meraih tangan sang istri Kemudian menciuminya berkali kali.
"Dengan tangan ini, kamu mengurusnya dengan baik, hingga dia menjadi sosok anak pintar, baik, sabar dan patuh. Semua karena berkatmu, sayang" ucap Reza dengan rasa bangga pada istri nya.
"Ini semua juga karna keihklasan mu, atas izin mu aku mengurusnya, Mas"
"Aku bahagia meski hanya menjadi ibu angkatnya, jika orang tua kandungnya tahu, mereka juga pasti bangga, Mas" tambah Melisa lagi.
.
.
.
.
.
.
.
"Enggak, Ra! aku gakan izinin keluarganya nyentuh Langit!!!"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Langit.....
dirimu anak siapa sih 🙄🙄🙄🙄
Anak tukang seblak ya.. pas emakmu beli ceker ayam kamu ilang ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Like komen nya yuk ramai kan