Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 76


🌻🌻🌻


Reza terus menggandeng tangan istrinya sampai dimana lift berhenti, namun bukan di lantai ruangannya berada.


"Selamat siang, Pak" sapa dua orang pria yang berdiri tepat di depan pintu besar.


Melisa yang tak mengenali tempat ia berada terus saja menggengam erat lengan suaminya.


"Kita dimana?" bisik Melisa,


"Kandang singa!" sahutnya ikut berbisik.


Melisa yang kaget semakin meringsek di balik punggung suaminya membuat Reza harus menahan tawa karna lucu melihat raut wajah paniknya.


CEKLEK..


Dengan Pelan ia membuka pintu, namun hanya lima langkah ia masuk lalu berhenti.


Melisa yang mengintip di balik badan sang suami dibuat takjub dengan apa yang ia lihat.


Ruangan yang mewah dua kali lipat lebih besar dari ruangan suaminya.


"Ini dimana?"


"Sssttt, diem" sahut Reza meletakan jarinya di bibir.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Empat detik


Sebuah kursi besar memutar bersama seorang pria paruh baya yang sudah menampakkan sisi lain yang biasanya begitu hangat dan ramah.


"Jam berapa ini?" tanyanya dengan begitu tegas tanpa senyum.


"Setengah dua belas" sahut Reza.


"Jam berapa rapat di adakan?"


"Sepuluh pagi, Pak" Kini Reza menundukkan kepalanya, sedangkan Melisa yang masih berdiri dibelakangnya semakin bingung.


"Pah," akhirnya Melisa menyapa pria yang duduk dihadapannya dan juga dihadapan suaminya itu.


Pria itu menghela nafas berat, ia bangun dari duduknya dan menghampiri Melisa.


"Duduklah"


Belum Reza membalik tubuhnya, sang papa sudah menunjuknya lebih dulu.


"Mau kemana kamu?" tanya papa.


"Duduk, kan papa nyuruh duduk tadi" sahut Reza.


"Yang duduk itu istrimu! sedangkan kamu berdiri di pojok sana"


Melisa melirik Reza yang mengangguk padanya.


"Sudah makan siang?" tanya papa.


"Hmm, belum pah" jawab Melisa pelan, ia hanya memainkan kuku jarinya.


"Huh, ngapain aja kalian Jam segini belum makan siang, kalian tidak ingat di didalam perut itu ada kebanggaan papa!"


Melisa semakin menunduk , tangan nya mulai bergetar dengan sesekali ia melirik Suaminya yang berdiri di pojokan sedang menghadap tembok.


Papa bangun menuju meja kerjanya menekan tombol dan berbicara entah dengan siapa, lalu kembali lagi ke sofa duduk bersama dengan sang menantu.


Tak ada obrolan sama sekali sampai suara ketukan terdengar dan ada seorang wanita datang dengan berbagai bungkusan ditangannya.


"Makanlah," kata papa setelah banyak makanan tersaji diatas meja.


"Mas Reza?" ucap Melisa dengan ragu.


"Biarkan anak singa itu tetap berdiri disana"


Melisa ternganga dengan kata kata papa mertuanya.


"Kenapa?, bukankah anak itu bilang kalo papa ini singa? jadi tentu ia anak singa" ledek papa mencebikkan bibirnya kearah anak sulungnya itu.


Sudah di pastikan kini Reza sedang mengumpat dalam hatinya.


"Mas Reza boleh makan ya pah?" pinta Melisa mengiba pada mertuanya itu.


"Kamu habiskan saja sendiri" jawab papa yang masih kesal dengan anaknya.


"Hem, tapi aku gak laper, yang laper pasti mas Reza"


"Benarkah?" tanya papa sambil mengernyitkan dahinya.


"Coba aja papa tanya" kekeh Melisa yang sedang membayangkan sang suami sedang menahan godaan makanan.


"Kamu laper, Za?" tanya papa kemudian.


Reza hanya mengangguk tanpa menoleh.


"Laper banget apa laper aja?" goda papa.


"Banget pah, perut aku udah bunyi kurucuk kurucuk sebelum papa buka bungkusan itu. papa pake nanya lagi!" oceh Reza dengan mata terus menatap hamparan makanan di atas meja.


"Terus mau makan?"


"ENGGAK!!!" dengus Reza kesal.


"Habiskan, Mel tanpa ada yang tersisa"


"PAPAAAAAAAHHHHHHHH" teriak Reza frustasi mengacak rambutnya sendiri.


🍁🍁🍁🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


laper ya bang??? 😂😂😂😂😂


Like komennya yuk,👍👍👍👍