
🌻🌻🌻🌻🌻
"Mas Reza memintaku untuk ikhlas?" tanya Melisa yang mulai menitikan air matanya lagi.
"Bukan, sayang" jawab Reza, Keduanya masih berada di pinggir pantai dengan hembusan Angin yang dinginnya sampai menusuk ke tulang.
"Aku hanya ingin kita menjalaninya seperti biasa, Diana tak akan merebut Abang dari kita, Ra" ucap Reza lagi meyakinkan KHUMAIRAHnya.
"Aku percaya pada Abang, tapi aku tak percaya dengan wanita itu, Mas" ketus Melisa yang belum bisa menerima kedatangan Diana yang tiba-tiba dalam kehidupan rumahtangga nya.
"Dia ada sedari dulu, sudah sangat lama sekali, Ra"
Reza menghela nafas sambil terus menciumi pucuk kepala belahan jiwanya yang kini sedang ia peluk dengan begitu eratnya.
"Maksudmu sedari lama itu apa?" tanya Melisa mulai penasaran, ini adalah saatnya ia meminta Suaminya itu menjelaskan semuanya.
"Dulu, saat Abang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, aku pernah menjemputnya secara tiba tiba di sekolah karna adek masuk rumah sakit, kamu tau kan, bagaimana gadis kecilku itu sangat bergantung pada Langit" Reza mulai mengawali ceritanya namun dengan nada kesal.
"Hem, aku tak ingat, Mas"
"Saat itu jam Istirahat. Aku mencarinya ke kelas namun tak ada. Sampai ada seorang temannya yang memberitahuku jika Abang ada di taman samping sekolah. Dan benar saja, Ia ada disana duduk di kursi besi dengan sebuah kotak makan di atas pangkuannya"
Reza menarik nafasnya dulu dalam-dalam sebelum kembali meneruskan ceritanya.
Tanpa ia sadar jika sang istri ternyata sudah sangat tak sabar menunggu ia melanjutkan penjelasannya.
"Aku mendekat ke arahnya kemudian duduk bersebelahan dengan Abang, saat itu mataku hanya tertuju pada kotak makan tersebut yang terlihat belum di sentuh sama sekali olehnya, semua masih utuh dan rapih" sambungnya lagi.
"Isinya apa?" tanya Melisa.
"Kentang goreng dan apa ya, aku lupa" jawab Reza meski ragu.
"Aku tak menjawab pertanyaannya yang menanyakan Kedatanganku yang tiba-tiba, karna aku penasaran dengan makanan yang Abang pegang"
.
.
*Flash back.
"Om, ada apa?" tanya Langit kecil, bingung.
"Itu apa?, kamu lagi makan?" tanya Reza penasaran karna ia tahu betul jika itu bukan bekal yang di siapkan Melisa tadi pagi untuk anak-anaknya.
"Oh, ini. aku dapet dikasih, Om" jelas Langit dengan raut wajah santai, bahkan ada senyum di ujung bibirnya.
"Dikasih siapa?"
Langit menggelengkan kepalanya.
"Entah"
Reza meraih kotak makanan itu dan memeriksa isinya, rasa takut dan khawatir mulai hinggap dalam hati pria tiga anak itu.
"Belum kamu makan, kan?" tanya Reza memastikan yang langsung di Jawab anggukan kepala oleh Langit.
"Iya aku belum Makan, aku masih kenyang abis makan bekel dari Buna" Sahut Langit jujur.
"Dari kemarin ada yang titipin makanan terus, aku sampe bingung" jelas Langit.
"Tapi gak aku makan, kata Buna gak boleh makan sembarangan. Aku tetep makan bekel dari Buna" sambungnya lagi.
Reza mengusap kepala Langit Sambil tersenyum.
***
"Jadi selama itu dia ada?" gumam Melissa, rasa marahnya kini berubah jadi rasa cemas.
"Ya, akhirnya aku dan papa menemuinya. Kita bicara baik-baik dengan Diana saat kami tahu siapa Diana sebenernya. Awalnya Diana tak mengakui perbuatannya karna dia pun tahu siapa aku dan Papa, tapi setelah bernegosiasi panjang akhirnya dia mengakui semuanya"
"Papa tahu?"
"Hahaha, mana mungkin papa gak tahu, Ra"
Melisa tersenyum kecil sambil menunduk.
"Kalian membuat kesepakatan apa?" tanya Melisa semakin di buat penasaran.
"Kami membuat kesepakatan, kalau aku dan papa akan melindungi Diana asal dia tak menampakkan dirinya di hadapan Abang" jawab Reza sambil menangkup wajah takut KHUMAIRAHnya
Mereka berciuman dengan di iringi suara deburan ombak, selama kejadian ini hubungan suami istri itu sempat merenggang, Melisa yang merajuk sama sekali tak ingin di sentuh oleh Reza, ia diam seribu bahasa membuat Reza yang sangat bergantung padanya tentu di buat pusing dengan sikap dingin istrinya.
"Lalu dia menyetujuinya?" tanya Melisa lagi.
"Ya, kami memberi dia keamanan dan jaminan dari kejaraan Ayah Abang"
Melisa sedikit mengurai pelukannya, ia menautkan kedua alisnya semakin bingung.
" Ayah kandung Langit saat itu ada di dalam penjara, Ia di hukum lima belas tahun karna kasus barang haram dan senjata ilegal, semua bar dan club'malamnya di sita polisi. Dia di tahan bersama dengan anak buahnya tapi tidak dengan tangan kanannya, alias orang kepercayaannya"
"Ayah Abang orang seperti itu?"
"Hem, saat ia keluar dari penjara makanya aku kirim Abang keluar kota, saat itu Abang sudah delapan belas tahun dan ia ingin mengambil Abang dari kita, Ra. Mulai dari permintaan halus dengan cara ia baik-baik datang ke kantor menemui ku, sampai datang kerumah utama bertemu dengan papa. karna kami tak juga melepas Abang akhirnya ia mulai melakukan penyerangan. Dan kasus terbesarnya adalah membakar Gudang perusahaan di cabang kota X"
Reza sungguh geram jika mengingat itu semua, tapi tentu Langit lebih berharga dari harta yang ia punya.
Langit kebahagiaan anak istrinya, Ia tak bisa membayangkan jika anak yang ia besarkan selama lima belas tahun menjadi penerus usaha ayah kandungnya yang jauh dari kata halal.
"Ayah Abang kok jahat?" dengus Melisa kesal.
"Abang belum tahu hal ini, Ra. Ayahnya belum berani muncul di hadapan Abang karna aku pegang semua barang bukti kejahatannya. Tapi entah sampai kapan dia juga akan bungkam karena yang aku tahu, Anak pertamanya sudah meninggal jadi harapan dia cuma Abang, Ra"
"Diana punya dua anak?" tanya Melisa.
"Bukan, Diana hanya punya Langit" Jawab Reza, ia tertawa melihat raut wajah istrinya.
"Lalu anak yang meninggal anak siapa?" tanyanya lagi semakin penasaran.
.
.
.
.
.
.
"Anaknya yang meninggal adalah anak dari istri sahnya sedangkan Diana, hanya wanita simpanan!!"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Masih lanjut ya...
Jadi mohon sabar wkwkwk...
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗