
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Usai oprasi yang memakan waktu beberapa jam akhirnya Cahaya di pindahkan ke ruangan rawat inap.
Langit tak sejengkal pun meninggalkannya, ia masih tetap setia di sisi si bungsu yang masih belum sadarkan diri.
Ia memilih menjaga Cahaya di saat semua keluarga besarnya dan juga Diana sedang mengikuti prosesi pemakaman almarhumah Nana sebagai penghormatan terakhir mereka atas kesediaan gadis itu memberikan jantungnya untuk Cahaya Rahardian Wijaya.
"Abang masih berasa ini mimpi, Gak nyangka kalau hari yang kita tunggu akan benar-benar terjadi"
"Abang sayang adek, Abang akan terus dampingin adek sampe sembuh total"
Langit terus saja berbicara pada Cahaya yang masih menutup rapat kedua matanya. Ia belai dan ia ciumi tanpa henti.
Cek lek..
Langit menoleh kearah pintu yang terbuka, Ada Reza dan Melisa yang lebih dulu masuk kemudian Diana serta Bumi yang paling akhir sedangkan si sulung langsung pulang kerumah bersama Omma dan Oppa.
"Belum sadar?" tanya Melisa
"Belum, Bun"
Diana yang berdiri di samping Langit harus pandai untuk menjaga sikapnya jangan sampai menyinggung perasaan Melisa yang selama ini mengurus putra semata wayangnya itu.
Tangan halusnya hanya bisa mengusap punggung Langit dan sekedar berbasa basi mananyakan kondisi Cahaya meski jauh di dasar hatinya ia ingin menyandarkan kepalanya yang terasa berdenyut menahan rasa sakit selepas seharian menangisi Nana yang telah pergi dan tak akan kembali lagi padanya.
"Abang udah makan belum, kok makanannya masih Utuh?" Melisa bertanya sambil melirik keatas meja.
"Belum, Bun. Belum pengen" jawab Langit dengan tangan msih menggenggam Cahaya.
"Makan ya, Mami suapi" timpal Diana pelan yang di jawab gelengan kepala.
"Abang gak laper, nanti aja"
"Ajak Mami mu makan dulu, Bang." titah Melisa seraya menoleh ke Arah Diana yang bermata sembab karna masih ada buliran cairan bening di ujung matanya.
Langit pun ikut melirik Ibu kandungnya, tak ada respon apapun dari wanita itu tapi dari sorot matanya ia seperti mengiyakan ucapan Melisa.
"Ya, Abang ke kantin dulu sama Mami, Abang titip adek ya, Bun. Kalau nanti sadar tolong cepat hubungi Abang" pinta Langit pada Melisa untuk memohon agar wanita itu tak mengabaikannya.
"Pasti, Sayang"
Langit dan Diana keluar dari ruang perawatan Cahaya, langkah mereka terhenti di lorong yang nampak sepi di dekat Lift khusus keluarga Rahardian.
Diana tentu tak menyia-nyiakan hal itu, ia langsung berhambu kedalam pelukan putra kesayangannya.
"Abang.... "
"Maafin Abang ya, Mam. Abang baru bisa peluk Mami" lirih Langit yang membuat tangis Diana pecah sejadi jadinya di dalam dekapannya.
"Mami ngerti, begini saja sudah cukup bagi Mami. Mami hanya bingung kepergian Nana membuat Mami sendirian tanpa teman lagi"
Langit menghela nafasnya dalam-dalam, itu juga yang ia pikirkan sedari tadi karna ia sendiri pun tinggal dan pulang kemana saja sesuka hatinya.
"Mami pindah ke apartmen Abang ya, tapi Mami juga kan tahu kalau selama ini Abang gak selalu pulang kesana karna seringnya di apartemen Buna atau di rumah utama" jelas Langit yang kebingungan.
"Tak perlu, Mami bisa tinggal di apartemen yang sekarang. Jalani hidupmu seperti biasa"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mami sabar ya, setelah Cahaya sembuh aku akan membawanya tinggal dengan Mami, kita akan bersama"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Emang di Acc sama gajah beserta pawangnya? 😛😛😛
Cahaya kesayangannya Babang ganteng, nyumak aja langsung di sleding deket2 dia 🤣🤣🤣
Like komennya yuk. ramaikan.