
🌻🌻🌻🌻
Bumi yang sedari tadi diam hanya duduk memperhatikan keributan Air dan Langit, sesekali tersenyum kecil saat kakaknya itu berteriak saat memasang umpan pancingan.
"Jangan berisik nanti ikannya kaget" seru Langit
"Nanti bisa jantungan ya Bang, terus pingsan tapi bagus dong jadi gak usah di pancing kita serok aja" kekehnya yang langsung membuat Langit mendelik.
"Macem-macem aja"
Dua jam berlalu tapi tak ada satupun ikan yang di dapat Air berbeda dengan Langit ember nya kini sudah terisi tujuh ikan mas.
"Abang dapet lagi?" tanya Air dengan kesal.
"Iya nih, lumayan buat nanti malem bakar bakar minta sama Buna"
Air bangun dari duduknya kemudian menghampiri Reza dan Melisa.
"Apa lagi?" tanya Reza sambil tersenyum melihat anak sulungnya itu merajuk.
"Ikannya gak ada yang mau sama kakak, padahal kan kakak ganteng ya Pah" rengeknya pada Reza dengan memasang wajah menyedihkan.
"Emang ngaruh ya kegantengan buat para ikan?" cibir Bumi pada Kakaknya.
"Gak apa apa gak dideketin ikan yang penting pacarnya banyak" Rayu Reza pada anak kesayangannya itu yang langsung mendapat pelukan dari Air.
"Eh, dukung banget ya kayanya punya anak playboy!" Dengus Melisa kesal.
"Biarin, aku kan dulu gak ngalamin, Ra" kekeh Reza yang sudah pindah tempat duduk karna sang istri hampir saja memukulnya dengan nampan.
"Yang penting udah nikah setia ya Pah" Tambah Air membela papanya.
"Setia banget, satu aja gak abis-abis"
Ayah dan anak itu tertawa bersama membuat Melisa semakin jengkel yang akhirnya menghampiri Langit yang masih berada di tepi danau.
"Bang..."
"Buna" jawabnya setelah menengok.
"Apa rencana kamu setelah ini?" tanya Melisa.
"Rencana?, paling kuliah kan?" anak itu balik bertanya sambil tersenyum.
Dada Melisa begitu sakit, Anak yang begitu di sayanginya itu tak pernah bisa memilih apa maunya karna semua Reza yang mengatur meski itu memang yang terbaik.
"Kuliah dimana?" Melisa pura pura tak tahu akan rencana suaminya.
Langit menggelengkan kepala, ada senyum kecil di ujung bibirnya
"Gak tau, om belum kasih tau Abang" jawabnya sambil menunduk.
"Abang mau terima dimana pun itu tempatnya?" Melisa meraih tangan lembut anak angkatnya itu
"Iya, Abang akan terima itu, tugas Abang cuma belajar sampai lulus dan kasih nilai terbaik untuk kalian jadi kebanggaannya Buna sama Om Reza"
"Dimana pun itu, Abang akan ikuti" tambahnya lagi setelah menarik nafas dalam-dalam.
Melisa meraih bahu Langit, duduk berdampingan dengan bocah yang lima belas tahun ini bersamanya, anak yang paling mengerti perasaannya saat ia lelah dan butuh teman, hanya Langit yang sering menghapus air mata yang kadang Melisa tumpahkan secara diam-diam.
"Hem, Abang tau itu, Bun!"
Keduanya menatap air danau yang begitu tenang, suara gelak tawa Reza dan Air masih terdengar oleh mereka ditambah rengekan Si bungsu yang pasti sedang di goda oleh kedua kakaknya
.
.
.
"Ra..." panggil Reza, sinar matahari semakin terik memasuki waktu tengah hari
"Raaaaaaaaaaaa" Melisa hanya menoleh melihat suaminya melambaikan tangan.
"Yuk, Bun. sebelum om Reza ngeluarin tanduknya" kekeh Langit sambil bangun dari duduknya.
"Raaaaaaaaaaaa...cepetan sini!" teriaknya lagi.
"Iya, sabar!"
Melisa menggandeng lengan Langit pun perlahan mendekat
"Apa, mas Reza mau apa?"
.
.
.
"Buah kedondong buah mangga!!!!"
"Cakeeeeeep!!" sahut Air sambil mengacung jempolnya.
.
.
.
.
.
.
Papa mau ngerujak, kak.. bukan mau pantun!!!
💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Bahas makanan Mulu, laper ya Thor,😂😂😂
Dari pada bahas mantan 😪😪😪
Like komen nya yuk ramai kan