Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 23


🌻🌻🌻🌻


Usai makan malam yang di selingi drama hilangnya kue bolu nakal milik sang mama, Bumi langsung beranjak ke kamarnya dengan alasan mengantuk.


Ia duduk di kursi meja belajarnya dengan layar laptop yang menyala namun ia abaikan.


Tangannya terulur ke dalam laci mengambil satu kotak kecil yang tersimpan didalamnya.


Dengan pelan ia membuka kotak itu dan mengambil isinya.


kapan aku ketemu kamu lagi buat kasih kalung ini


Kebiasaan baru Bumi akhir-akhir ini adalah memandangi kalung putih itu tanpa bosan, kalung yang begitu elegan dengan liontin bernama yayang.


Fokusnya teralihkan saat ponselnya bergetar sekali menandakan ada pesan masuk.


Abang.


*BangLangit


[ dek, Chaca kemana? Abang chat belum di balas]


Bumi tersenyum simpul, meski Air banyak memiliki pacar dan gebetan namun Langit lah yang begitu bucin terhadap pasangan.


*Bumi


[ Masih dibawah kali, bang. Aku di kamar]


*BangLangit


[ Ngapain di kamar sendiri?, lagi mikirin seseorang ya]


Bumi terlonjak kaget, Abang angkatnya seperti detektif baginya.


*Bumi


[ enggak, lagi capek banget]


Langit di tempat yang jauh disana tersenyum kecil, sulit baginya untuk tahu isi hati adik keduanya itu jika Bukan Bumi sendiri yang bercerita, berbeda dengan Air yang selalu mengabsen pacar pacarnya itu padanya.


.


.


Bumi meletakan ponselnya saat dirasa tak ada lagi balasan dari Abangnya, ia malas membuka beberapa chat para gadis yang selalu menggangunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sangat tak penting, hanya sekedar menanyakan sedang apa dan dimana, Tentu Bumi tak ingin orang tau tentang kegiatannya.


Ia merebahkan tubuhnya di tengah kasur mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur, tangannya masih memegang kalung putih milik seorang gadis yang menabraknya di toko buku tempo hari, gadis dengan rambut hitam sepinggang yang entah sedari kapan menguasai otaknya.


Ada harapan dalam hatinya untuk bertemu dengannya lagi untuk mengembalikan kalung tersebut.


Gumaman dalam hati ternyata membawanya lebih cepat mengarungi mimpi, tidur terlelap di balik selimut yang menutupi separuh tubuhnya.


.


.


CEKLEK..


Ay masuk ke dalam kamar dengan pelan saat sadar adiknya sudah terbaring di tengah kasurnya.


"Wah, beneran tidur, pasti mabok sayur" kekeh Ay saat melihat adiknya itu sudah menutup matanya dengan rapat.


"Huh, doyan sih doyan tapi kalo sepanci di abisin sih bisa enek!" gumamnya lagi, ia tadi begitu takjub saat Melihat Bumi menghabiskan satu panci sayur saat malam malam.


Puas meledek adiknya, ia bergegas ke meja belajarnya, bukan untuk mengerjakan tugas melainkan untuk bermain game seperti biasanya, Ay seringkali tidur dini hari demi hobby nya itu, dan Reza sudah sangat bosan menghukumnya Karna seringnya ia bangun kesiangan Setiap pagi.


Air benar benar fokus pada layar komputer di hadapan sampai ia tak menyadari saat Melisa datang menghampirinya.


"Kakak belum tidur?" tanya wanita yang sudah melahirkannya itu lima belas tahun lalu.


"Eh, mama, nanti tanggung, mah!" sahutnya yang hanya menoleh sebentar.


"Udah jam sebelas, kak. nanti besok kamu kesiangan. emang gak bosen denger mama teriak teriak terus?"


"Haha, suara mama itu kan enak di denger jadi kakak mana mungkin bosen" kekeh Air.


"Awas besok pagi"


"Iya mah, sedikit lagi, kakak janji" ucapnya serius.


Melisa yang pasrah akhirnya bangkit setelah mengucapkan selamat malam dan menciumi wajah si sulung, kini langkahnya beralih ke ranjang si tengah yang sudah lebih dulu terlelap.


"Mama sayang kakak Bu"' ucapnya lembut sambil mengecup kening anak keduanya itu.


Melisa merapihkan selimut Bumi yang sedikit tersingkap, namun matanya tertuju pada benda yang di genggam anaknya itu.


.


.


.


"Apa ini?"


🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍***