
🌻🌻🌻
Melisa yang mengekor di belakang eyang akhirnya ikut duduk disebelahnya, walau ada sedikit keraguan tapi Melisa mencoba untuk tetap tenang.
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah kearahnya membuat Melisa canggung dan hanya menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa cemasnya.
"Apa kamu tak ingin eyang kemari?" tanya eyang memecah keheningan.
"Enggak, Eyang" jawab Melisa cepat.
"Kemarilah," eyang meraih tangan dingin Melisa untuk ia bawa ke pangkuannya.
"Kamu cantik" ucap eyang dengan senyum hangatnya.
"Terimakasih, Eyang"
"Reza pasti sangat mencintai mu"
"Semoga, eyang. aku berharap begitu" jawab Melisa malu-malu.
"Eyang bisa merasakannya, kalian pasti bahagia"
Drrrtttt drrttt..
terdengar ponsel Melisa bergetar diatas nakas, ia meminta ijin pada eyang untuk menerima telepon.
"Iya,By" jawab Melisa saat tersambung.
"Lagi apa?" tanya Reza langsung.
"Lagi sama eyang"
"Ngapain?" Reza seperti menyelidik.
"Ngobrol aja,"
"Udah cepetan kesini" titahnya dan langsung menutup teleponnya.
Melisa menatap layar ponselnya yang mati sambil menggelengkan kepalanya.
Eyang yang melihat ekspresi Melisa langsung beranjak menghampiri dan mengusap punggung Melisa.
"Pergilah, temui suamimu" ucapnya lalu pergi.
Melisa hanya menatap punggung eyang yang berjalan keluar dari kamarnya.
"Ada apa sih dengan kalian!" gumam Melisa.
*********
Sampai di sebuah gedung pencakar langit kaki Melisa langsung tertuju pada sebuah lift VVIP, kotak besi itu langsing mengantarnya menuju ruangan seorang presiden direktur siapa lagi kalau bukan suami dadakannya.
"Siang, Vi" sapa Melisa pada sekertaris cantik Reza.
"Siang, Bu" jawabnya sopan dan langsung berdiri.
"Bapak, ada?" tanya Melisa.
"Ok, saya tunggu didalam ya"
Viana hanya mengangguk dan mempersilahkan istri dari bos besarnya itu melangkah memasuki ruangan Reza.
Ceklek..
Harum parfum suaminya langsung menyeruak ke dalam Indra penciumannya,
Harum yang menenangkan yang mampu membuat siapapun didekatnya akan selalu betah.
"Huft, sendirian lagi" gumamnya setelah menghempaskan bokongnya di sofa tempat biasa ia menunggu Reza.
"Udah lama gak kesini, eh malah ngantuk" kini ia justru melangkah masuk kedalam sebuah kamar yang ada dibelakang lemari besar.
"Huuaaaaaaaaa"
Melisa yang sudah menguap akhirnya merebahkan dirinya di tengah kasur berukuran king size itu, matanya tak lagi bisa ia tahan dan akhirnya terlelap.
*****
Reza yang baru menyelesaikan urusan pekerjaannya langsung masuk kedalam ruangannya melewati meja Viana yang kosong.
"Tumben, keluyuran kemana sih dia?" gumam Reza pada sekertarisnya itu.
dengan langkah gontai akhirnya ia sampai di sofa untuk menyandarkan tubuhnya, Reza memijit pelipisnya yang sedikit pusing, karena pekerjaan yang menguras otak dan energinya.
"Ini apa?" Reza meraih tas kecil diatas meja.
"Haha, umpan Dateng..piknik ah, tau aja lagi mumet butuh traveling" kekeh Reza dengan senyum jahil penuh kemesemuman.
Kali ini ia langsung bangun dari duduknya berjalan kearah sebuah pintu yang ia yakini istrinya berada di dalam sana.
Ceklek..
Reza membuka pintu dengan sangat pelan, senyum langsung mengembang saat melihat sang istri sedang meringkuk memeluk bantal.
Langkah kakinya berhenti di tepi tempat tidur, diusapnya kepala Melisa kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
Tak membuang waktu lama, Reza langsung membuka jas dan dasinya.
perlahan ia merangkak naik keatas ranjang merapat kan tubuhnya agar lebih leluasa mendekap sang istri.
"Padahal aku laper loh, tapi liat kamu begini aku makan kamu aja dulu" satu kecupan mendarat sempurna di kening Melisa, membuat Reza semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya, tangannya sudah merayap kemanapun yang Ia suka dengan bibir yang sudah menjelajahi Tebing putih istrinya
GUBRAK.....
🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Nah kan? pelan-pelan bang?
apa yang jatoh noh 😂😂😂😂..
LIKE KOMENNYA YUK RAMAIKAN..
hari ini niatnya mau crazy upðŸ¤..