
🌻🌻🌻
Melisa yang duduk di tepi ranjang masih memikirkan keputusan sepihak Suaminya yang mendadak, ia ingat bagaimana dulu iapun pernah mengalaminya saat harus di nikahkan secara tiba-tiba dengan pria yang tak di kenalnya.
Wanita berambut panjang terurai itu sesekali mendesah pelan Karna rasa resah dan khawatir yang berlebih, Ia belum sanggup melepas si sulung yang masih teramat manja padanya.
"Ra.."
"Ra... sayang" panggilnya lagi saat sang istri sama sekali tak menjawab dan menoleh.
"Hem.." Melisa yang terkejut menyahut dengan tergagap.
"Mikirin apa?, aku mau ke luar kota kalo kamu kaya gini aku gak tenang ninggalinnya" ucapnya sambil menciumi kedua pipi KHUMAIRAHnya.
"Aku mikirin kakak, dia gak mungkin lakuin hal itu kan?" tanyanya dengan suara tersendat di ujung kata-katanya.
"Ha-ha-ha, gak mungkin sayang, aku percaya sama kakak dia gak mungkin lakuin hal diluar batasnya, dari ujung kepala sampe kaki aku jamin semua masih ori" kekeh Reza menghibur istrinya yang mengkhawatirkan si sulung.
Melisa tersenyum kecil, rasa takutnya ternyata membuat ia secara tak sadar memikirkan hal buruk tentang anak kesayangannya itu.
Anak manja yang masih sering menangis dan menghancurkan barang-barang dirumah atau dimanapun karna kecerobohannya.
"Mas Reza yakin, gadis itu anak baik?" tanya Melisa.
"Kita bisa tahu jika kita mengenalnya secara perlahan, semua akan berjalan lancar bila memang semua sudah takdirnya"
Melisa mengangguk paham, bukan gadis itu yang sebenarnya ia pikirkan tapi wanita berkacamata mata tadi yang membuat Melisa mengeram kesal.
Tatapannya begitu mendamba sang suami, terlihat jelas ada kerinduan dari matanya. Cara ia memanggil dan bercerita seperti tak sungkan lagi.
"Ada hal lain yang mengganjal di hatimu, Ra?" tebak Reza, ia tahu jika penguasa jiwa raganya itu sedang tak baik-baik hatinya.
"Gak ada, Mas. Aku percaya padamu" lirih Melisa, ia tak mau berdebat apapun dengan sang suami.
"Ya, memang hanya itu yang aku butuhkan, percaya padaku karna aku hanya melihat ke arahmu" Rayunya sambil mendekap tubuh sang istri yang sudah menemani hari-harinya selama lebih dari dua puluh tahun.
"Jangan tinggalkan aku demi hal baru yang mungkin lebih menantangmu, Mas." pintanya lirih, ujung matanya bahkan sudah ada buliran cairan bening.
Reza tertawa sambil mencium pucuk kepala Melisa, ia selalu menjadi pria yang paling beruntung dan bahagia jika sedang di cemburui oleh pemilik hatinya.
"Hal baru apa maksudmu?, tak ada yang lebih menantang ku selain kamu, Ra" bisiknya pelan.
"Kamu selalu nikmat bagiku" tambahnya lagi sambil menyentuh dagu Melisa agar keduanya bisa saling memandang.
" Tapi aku sudah terlalu lama bagimu, Mas"
me lu mat bibirnya dengan begitu pelan, keduanya terpejam menikmati rasa manis dari kedua bibir yang sedang bertukar Saliva.
"Masih ada satu jam lebih, nyicip lagi ya"
Melisa merebahkan tubuhnya saat sang suami sudah bersiap melayangkan aksi seperti biasanya.
Tangan besar itu membuka satu persatu apapun yang menghalangi kemolekan tubuh sang istri.
Mulai dari kening ia mencium dengan sangat dalam dan lama penuh perasaan, beralih ke kedua pipinya yang sudah merah merona menahan malu dan akhirnya berakhir ke leher jenjangnya untuk meninggal kan beberapa jejak kemerahan disana.
Pria yang masih gagah dalam urusan ranjang itu tersenyum puas saat melihat hutan belantara sang istri yang siap menyambut miliknya yang sudah siap bertempur mengacak acak goa di dalamnya.
"Sekarang ya"
Melisa mengangguk pasrah sambil memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mah, paket pancinya dateng nih"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Timpuk aja bang pake panci 😂😂😂
Like komen nya yuk ramai kan ❤️