
🌻🌻🌻
Tak berbeda dengan pasangan pengantin baru lainnya, Reza dan Melisa selalu menghabiskan waktu bersama meski dengan rutinitas masing masing, hari ini tepat seratus hari mereka menjadi suami istri tak ada perayaan khusus hanya ada makan malam seperti biasanya di apartemen namun kali ini dengan hidangan yang berbeda.
"Kamu yang masak ini semua?" tanya Reza saat keduanya sudah berada di meja makan.
"Mas Reza fikir ada siapa lagi? tadi eyang cuma anter aku belanja aja" jawab Melisa.
"Gak cerita apa apa kan?"
"Mas Reza tanya begitu terus bikin aku jadi penasaran deh, lain kali aku yang tanya sama eyang deh"
"Eh, jangan macem-macem kamu ya"
Ancaman Reza justru membuat Melisa tertawa, ia selalu gemas dengan ekspresi Suaminya yang selalu panik jika membahas soal eyang, bahkan Reza sempat merengek agar papa tak mengirim eyang ke apartemen untuk menemani Melisa.
Entah ada rahasia apa antara Reza dan eyang yang tak boleh Melisa ketahui.
"Aku juga gak mau tau tuh" ledek Melisa santai, ia menyendokkan nasi untuknya dan juga suaminya.
Reza melahap semua makanan yang tersaji di meja makan, baginya masakan istrinya lah yang paling nikmat.
"Enak gak? ini pertama kalinya aku masak masakan begini"
"Enak, Ra. mau kamu masakin goreng tepung juga enak Haha" tawa Reza dengan mulut yang penuh.
"Kalau terong lagi?"
"Enak, cuma aku gak ketelen, lain kali kalau masak itu di potong potong jangan satu selonjoran gitu, mana dibakar kan keriput" oceh Reza sambil terkekeh.
"Huh, dasar aja otak mas Reza tuh mesum terus" sahut Melisa.
Selesai makan malam keduanya menghabiskan waktu bersama, meski hanya menonton film yang berujung Reza harus menggendong istrinya masuk kedalam kamar, berkali-kali Melisa meminta untuk menonton film dikamar saja karna jika ia tertidur, Reza tak perlu memindahkannya, namun berkali-kali juga Reza menolaknya mungkin sudah jadi kebiasaan di keluarganya jika selepas makan malam semuanya akan berkumpul di ruang tengah. Dan satu lagi alasannya adalah Reza menyukai hal itu, ia suka jika harus menggendong istrinya yang tertidur pulas.
*******
"Mas ayo bangun" ucap Melisa yang sudah bergeliat didalam peluk kan suaminya.
"Cepet banget sih pagi" sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.
CUP CUP CUP.
Tiga kecupan manis sebagai ucapan selamat pagi sudah mendarat di wajah suaminya sebagai tanda meminta ijin untuk lebih dulu beranjak dari tempat tidur karna jika ia tak melakukannya sudah bisa dipastikan Reza akan merajuk sepanjang hari.
"Raaaaaa" teriak bayi besar dari dalam kamar.
"Iya, By" sahut Melisa dari arah dapur masih menyiapkan sarapan.
Melisa langsung masuk kedalam kamar, dilihatnya Reza sedang duduk di tepi ranjang menunggu KHUMAIRAHnya datang mengurusnya.
"Ayo sini, cepat pakai"
Melisa menyerahkan satu stel baju kantor untuk Reza kenakan hari ini.
"Aku mau ke panti ya , Mas" ijin Melisa setelah selesai sarapan.
"Hem, tapi jangan pulang sore ya, aku hari gak ada meeting jadi bisa pulang cepet,"
"Ya udah Mas Reza sekalian jemput aku ya" pintanya dengan memohon lewat matanya.
"Iya, sayang" sahutnya dengan mencium pipi istrinya sekilas.
_______________
Setelah kepergian suaminya, Melisa bergegas merapihkan rumah dan dirinya sendiri sambil menunggu pak Agus datang menjemputnya.
Rasanya ia tak sabar ia ingin cepat bertemu dengan semua anak asuhnya, para pengasuh dan juga Umi, ibu angkatnya
Sampai tak sadar bahwa mobil sudah berhenti tepat di gerbang panti asuhan.
"Terimakasih, Pak. saya turun dulu" ucap Melisa sebelum menutup pintu.
"Mau saya jemput,Non?" tanya pak Agus.
"Gak usah, pak. nanti mas Reza yang jemput" balas Melisa yang kemudian langsung turun.
Langkah kakinya langsung menuju dapur karna waktu memasuki jam makan siang, ikut membantu menyiapkan dan Merapihkan perlengkapan makan.
"Lama gak kesini,Mel?" tanya kak Ilham.
"Iya, kak baru sempet hehe" jawab Melisa tak enak hati.
"Hem, sibuk ya jadi istri?" goda Ilham, walau Perkataannya menyakitkan dirinya sendiri.
"Iya, kak aku punya bayi besar"
"Ayo, Mel siapkan semuanya" pinta mbak Asih yang sudah bersiap menunju ruang makan.
Melisa mengangguk dan setelahnya ia berpamitan pada Ilham.
Bocah laki-laki dengan mata coklatnya sudah bersiap untuk menerima pelukan Melisa, siapa lagi kalau bukan, Langit.
"Kangen gak sama Buna?" tanya Melisa sambil menciumi seluruh wajahnya.
"Tangeun banet" jawabnya dengan cadel.
Melisa tersenyum gemas, sembari mengusap kepala anak itu, entah kenapa hanya Langit yang bisa membuatnya merasa nyaman.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Awas bayi besar mu cemburu Ra..
Like KOMENNYA yuk ramaikan..