
π»π»π»π»π»
Cahaya yang sedikit membaik akhirnya bisa di tinggalkan berdua dengan Melisa atas perintah Reza yang tak mengizinkan anaknya sendirian lagi dalam kamar.
Langit yang nampak gelisah akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Cahaya, tak perduli jika Reza harus tau yang ia ingin saat ini hanya meminta maaf pada gadisnya itu.
Tok tok tok
"Dek..." panggilnya pelan.
"Masuk Bang" sahut Melisa dari dalam kamar, Langit langsung membuang nafas lega.
CEKLEK
Pemuda tampan itu masuk atas izin Melisa, meski ragu tapi rasa penasarannya membuat dia akhirnya mantap melangkah.
"Ada apa?" tanya Melisa.
"Abang mau liat adek, boleh?" ucapnya sambil menunduk malu dan takut.
"Kemarilah, Beruntung kamu datang karna Buna lupa sesuatu" ucap Melisa yang mengerti maksud dari anak angkatnya itu.
"Terimakasih, Bun"
Langit semakin mendekat ke sisi ranjang, menarik kursi meja rias untuk ia duduk.
"Temani sebentar ya, Buna mau ke kamar sebentar dah ingat, jangan berisik ya karena adek baru tidur" pesan Melisa sambil berusaha melepas pelukan anak bungsunya itu.
"Iya, Bun, Abang cuma pengen liat adek aja, Abang janji gak akan ganggu"
"Pegang tangannya, karna tadi dia mengeluh takut"
Langit yang tadi sudah duduk di kursi meja rias akhirnya turun duduk bersimpuh di lantai, sebab tak mungkin baginya untuk lebih dekat dengan Cahaya.
Melisa yang sudah keluar kamarpun menutup pintu dengan sangat pelan.
"Yank, maafin Abang ya" ucapnya lirih, meski bukan yang pertama namun selalu saja menyesakkan dada.
"Abang pasti bikin kamu kesel kan hari ini, sampe bikin kamu pusing"
"Abang gak tau kalo kakak bakal bawa Abang muter muter begitu"
"Lain kali, Abang bakal luangin waktu sebentar buat balas chat kamu"
"Oh, iya ponsel Abang juga tiba-tiba mati tadi habis baterei, maaf ya yank"
Langit terus saja meminta maaf meski entah Cahaya mendengarnya atau tidak, yang penting rasa bersalahnya sudah ia utarakan saat ini.
Ia bagai pria paling jahat yang membiarkan gadisnya menunggu tanpa kabar.
"Adek, kok bangun?, Abang berisik ya?"
"Enggak, Abang malah lucu aku sampe hitungin kata maaf yang Abang ucapin tadi" kekeh pelan Cahaya.
Wajah pucat dengan bibir kering namun tak mengurangi kecantikan juga keimutannya.
"Jadi kamu denger dari tadi?" tanya Langit tak percaya.
"Tentu, aku mau tau setulus apa Abang meminta maaf"
Langit mencium punggung tangan Cahaya berkali kali, rasa kesal dan malu bercampur jadi satu, tapi rasa lega tentu yang paling utama ia rasakan
Melihat Cahaya tak sadarkan diri sungguh menjadi hal yang paling hindari selama ini, Ia ingin melakukan apapun asal gadis kesayangannya bisa lekas sembuh, bahkan setahun lalu ia pernah berniat memberikan jantungnya jika saja cocok dalam pencakokan kelak.
"Abang gak mau liat kamu begini lagi, yank"'
"Aku cuma capek, bang"
"Kalau marah sama Abang, kamu bisa pukul Abang ya, gak usah diem di rasain sendiri" pinta Langit.
"Aku gak marah, aku cuma capek dan takut, Bang"
Langit mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa yang kamu takutin, Abang disini sama kamu yank"
Pemuda itu semakin erat menggenggam tangan cahaya saat gadis itu tersenyum begitu cantik.
.
.
.
.
.
Aku takut Abang pergi dan tak kembali atau mungkin aku tertidur dan tak bangun lagi...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Ay kamu dimana sayang.
ngelawak sini kak, othor gak kuat ah sedih bgt ππ
Like komen nya yuk ramai kan