Suami Dadakan

Suami Dadakan
Rebutan


🍂🍂🍂🍂🍂


Denting suara garpu dan sendok seakan seirama dengan perbincangan yang kini sedang di lakukan ayah dan anak, siapa lagi jika bukan Reza dan Bumi.


Membicarakan tentang masa depan yang sudah di rancang seindah mungkin untuk semua anggota keluarga Rahardian.


"Papa sama mama terserah kalian, mau di manapun sama saja asal semua berkumpul" ucap Reza setelah meneguk air putih di gelas kacanya yang berukuran sedang.


"Ya, itupun kalo mereka mau, yang ribet banget kan adek, Pah" sahut Bumi. Ia tahu betul kebiasaan adik perempuan satu satunya akan banyak alasan dan drama yang ujung-ujungnya pasti semua akan berkumpul di kediaman Biantara.


"Chaca memang begitu, karna kalau kumpulnya di rumahmu atau di rumah utama dia tak mungkin bisa sangat sibuk. Sedangkan adik kalian itu senang sekali berbelanja hal yang tak penting" kekeh Reza, senyum terukir di sudut bibirnya mana kala mengingat bayangan wajah cantik anak bungsu perempuannya. Nyonya besar Biantara yang selalu di anggap gadis kecil yang manja oleh Reza.


Perjuangannya sebagai ayah sekaligus cinta pertama sang putri tak sia-sia saat Cahaya sembuh total dari penyakit jantung yang di deritanya sedari bayi, kini ia bisa melihat sang Little Princes hidup normal tanpa takut terjadi sesuatu padanya secara tiba-tiba. Pengorbanan dan rasa sabarnya seakan di bayar tunai saat melihat ia tertawa bahagia di samping suami dan dua anaknya. Ia hidup sebagai Tuan Puteri Rahardian dan Biantara.


"Padahal gak penting banget ya tiap kalo kumpul harus ganti sofa sama meja makan" ujar Bumi yang tak pernah habis pikir dengan kelakuan si bungsu.


"Untung yang jadi suaminya itu Abang, coba kalo engga, duh mama gak bisa bayangin" timpal Melisa, ada kebanggaan tersendiri baginya saat melihat anak angkatnya mampu memberikan apapun bagi putrinya, Langit yang sedari awal menjadi anak angkat kini berganti menjadi menantu di keluarga Rahardian yang sudah membesarkannya selama lebih dari dua puluh tahun.


"Tuhan tak hanya menyatukan hati dan juga cinta, tapi segala kurang dan lebih manusia itu sendiri, Mah" balas Kahyangan, wanita bergamis ungu muda yang tak pernah banyak bicara kecuali dengan suaminya sendiri. Hanya Bumi satu-satunya tempat Khayangan meluapkan isi hati mulai dari masalah pribadinya hingga hal receh yang ja lalui dalam kesehariannya.


.


.


.


Perbincangan terus mereka lakukan dan terhenti saat Air dan Hujan datang, baru satu hari kedua orang tuanya pergi, si sulung sudah mampir menjenguk.


"Kakak gak usah rese ya!" cetus Bumi yang mulai kesal karna belum apa-apa pasangan baya itu sudah di minta pulang kerumah utama.


"Rumah sepi, Pah. Kakak kalau bangun tidur bingung mau ngapain" Ucap Air yang tak perduli dengan ocehan adiknya.


Reza dan Melisa hanya terkekeh, Kebiasaan Air memang setiap pagi kadang kadang melanjutkan tidur di kamar mereka. Makan itu tak jarang Hujan sering mengomel deni untuk membangunkan sang suami lagi.


"Perjanjian awak satu minggu, aku gak mau tahu" cetus Bumi dengan menatap kakaknya tajam, wajah yang sembilan puluh persen mirip itu kini saling melepar ekspresi dingin.


"Cih, siapa yang ngizinin. Itu kan kamu yang mau. Kakak gak denger tuh papa bilang iya pas kamu mau jemput"


"Pokonya Satu minggu!" tegas Bumi lagi.


.


.


.


Duh.. kakak ngapain pada ribut sih? karna yang adil itu sekarang mama sama papa ikut Adek!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Yang bungsu biasanya menang banyak 🤣🤣🤣