Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 112


ðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧ


Bumi keluar dari ruangan rapat setelah hampir satu jam ia mengadakan meeting dengan beberapa clientnya untuk membahas tentang penerbitan salah satu komik lokal yang sedang booming di salah satu aplikasi Online.


Harusnya ia bertemu langsung hari ini dengan sang komikus yang Karyanya akan di terbitkan langsung oleh perusahaan Bumi, tapi sayang, orang itu yang entah siapa iapun belum mengenalnya ternyata berhalangan untuk hadir.


"Siapkan aku teh hangat" pinta Bumi pada asistennya yang jauh lebih tuan lima tahun darinya.


"Baik, Tuan"


Bumi masuk ke ruangannya yang terletak di lantai paling atas, bangunan yang tak begitu besar jauh dari perusahaan keluarganya tapi ia cukup bangga karna ini miliknya sendiri.


Senyum tersungging saat ia meraih foto Kahyangan di atas meja kerjanya, berjejer dengan dua foto keluarganya dan juga oppa ommanya.


"Aku merindukan kalian" gumam Bumi.


Lamunannya buyar saat terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya"


"Masuk, kak Nell"


CEKLEK


Nella masuk dengan nampan di tangannya, selama enam bulan ini, Nella membantu Bumi mengurus pekerjaannya jika ia sibuk kuliah, kedewasaan Nella dan kepintarannya membuat pemuda pendiam itu nyaman dan bisa berlama-lama dengannya .


"Makasih ya, Kak" ucapnya sebelum menyesap teh hangat yang di bawa Nella.


"Ada masalah?" tanya Nella saat wajah Bumi terlihat tanpa senyum sama sekali.


" Gak ada, cuma lagi gak enak perasaan aja" jawabnya sambil menggeleng.


Nella menarik kursi agar lebih dekat dengan Bumi, ia menyadarkan tubuhnya dengan tangan melipat di dada.


" Sudah menghubungi kedua adikmu?" tanya Nella.


" Kak Ay entah dimana, bahkan dua hari ini ia tak masuk kuliah meski dari rumah ia berangkat" Bumi menjawab sambil tergelak.


" Lalu adikmu?"


" Adek ada dirumah karna Abang sama papa pergi ke luar kota, dan aku rasa dia baik-baik saja meski tadi pagi matanya begitu sembab"


Nella mengangguk paham, sedikit banyaknya ia mengenal siapa saja keluarga Bumi.


Keluarga harmonis yang menerima siapapun dengan begitu hangat dan terbuka tanpa memandang latar belakangnya.


"Besok aku mau ke luar kota juga, aku titip kantor ya kak" pintanya pada Wanita itu.


"Ada urusan apa?, tumben"


"Aku mau jemput seseorang, kak" ujar Bumi dengan senyum kecil di ujung bibirnya, dari raut wajah Bumi yang berbeda Nella sudah bisa tahu dan mengerti tanpa banyak bertanya.


Dalam waktu satu Minggu Ia hanya datang dua sampai tiga kali itupun jika ada pertemuan penting atau acara lainnya, selebihnya ia akan menyerahkan semua pekerjaan pada Nella.


Bumi dan Nella akan bersikap seprofesional mungkin jika di luar ruangannya, berbeda jika keduanya sedang bersama, Bumi akan banyak bercerita atau bertanya pada wanita itu.


"Kak Nell, aku mau tidur sebentar ya, bangunkan aku dua jam lagi" pintanya sembari mengambil bantal kemudian ia susun di sofa panjang.


"Siap, Tuan muda" kekeh Nella dengan tangan sibuk merapikan tumpukan berkas yang baru di tanda tanganinya tadi.


"tapi kepalaku sedikit pusing" Keluhnya dengan mata sedikit terpejam.


"Tidurlah, kakak akan menemanimu sebentar"


Tak ada jawaban dari Bumi membuat wanita itu yakin jika pemuda tampan pendiam itu sudah terlelap.


Nella membawa semua pekerjaannya ke ruangan Bumi, duduk di salah satu sofa Single tepat didepan dimana pria itu terlelap begitu damainya.


Namun konsentrasinya buyar saat dering telepon sangat bising di telinganya, sekali dua kali tiga kali bahkan sampai empat kali ia mencoba mengacuhkan tapi untuk panggilan ke lima ini ia mencoba menerima nya walau ragu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


" Ya, hallo"


"Bumi?, dia sedang tidur!"'


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Awas Bumi Ngamuk ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ


Like komen nya yuk ramai kan âĪïļ