
🌻🌻🌻🌻
Reza dan Melisa yang keluar dari kamar si bungsu langsung turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan dua anak laki-lakinya.
Pria itu langsung menautkan kedua alisnya saat melihat si sulung berada di dapur dengan celemek di tubuhnya.
"Kamu mau masak apa malem-malem?" tanya Reza yang masih merangkul kan tangannya di bahu sang istri.
"Bikin mie, Pah aku laper" sahutnya dengan tangan sibuk memotong bakso dan sosis, sedangkan Hujan hanya duduk manis di kursi meja makan.
Melisa langsung menghampiri Kahyangan yang sedang mengobrol dengan Bumi, entah apa yang mereka bicarakan tapi sungguh terlihat Sangat serius.
"Mah, aku anter Yayang pulang ya" pamit Bumi namun di balas gelengan kepala oleh Melisa.
"Kenapa?" tanya si tengah bingung.
"Makan dulu, kakak akan buatkan mie untuk kalian, kita makan sama-sama" ucap Melisa dengan tegas.
Wanita itu langsung bangun dari duduk menuju dapur dimana anak Kesayangannya itu masih berkutat dengan alat masak yang memang sudah tak asing bagi Air.
"Bikin buat semua ya kak" titah Melisa sambil menarik kursi meja makan di sisi Hujan, tentu gadis itu langsung salah tingkah.
"Aku mau bantuin Air dulu, Mah" ucapnya sambil bangkit namun di tahan oleh Melisa.
"Gak usah, kakak udah biasa masak dan gak pernah mau di gangguin, kita tinggal makan aja"
.
.
Kini beberapa mangkuk berisi mie dengan bermacam-macam toping berbeda sudah tersedia di atas meja makan, Bumi dan Kahyangan pun sudah ikut duduk bersama siap menikmati makanan yang di buat si sulung.
"Punyaku kebanyakan, Ay" ucap Hujan saat mengaduk makanannya yang begitu penuh di dalam mangkuk.
"Biar cepet gede, Jan" jawab Air sambil sambil menarik mangkuk gadis itu untuk memindahkan sebagian isinya ke dalam mangkuknya.
"Tapi ini emang banyak banget"
Air hanya tersenyum sembari menggeser lagi mangkuk milik Hujan agar gadis itu cepat bisa menikmati mienya yang masih mengepulkan asap.
Semuanya makan dengan lahap tanpa sisa dengan di selingi obrolan ringan dan candaan candaan kecil yang akhirnya mengundang gelak tawa.
" Abang mau makan?" tanya Melisa saat Langit turun dari kamar Cahaya.
" Iya, Bun. Adek juga mau makan ini udah waktunya minum obat lagi" jawabnya sambil duduk dan ikut bergabung dengan yang lainnya.
Melisa langsung menghangatkan masakannya, kemudian menatanya di sebuah nampan yang ia isi dengan lauk dan sayur serta dua piring nasi hangat.
"Habiskan ya" titah Melisa pada anak angkatnya yang merangkap sebagai calon menantunya itu.
"Siap, Bun" kekeh pria tanpan itu, kini tak ada lagi guratan khawatir di wajahnya.
Melisa menatap punggung Langit dengan perasaan haru, bagaimana pun ia begitu sangat bahagia bisa menitipkan putri cantiknya yang begitu lemah pada pemuda yang penyabar dan penuh kasih sayang.
.
.
.
*****
Bumi dan Kahyangan yang sudah saling bergandangan tangan kini berjalan menuju lift setelah berpamitan pada kelurga untuk pulang, tak ada senyum di wajah Cantik Yayang seperti saat di dalam rumah.
"Kumohon jangan pikirkan itu lagi" pinta Bumi yang menarik tubuh langsing gadisnya kedalam pelukan.
"Beri aku waktu untuk mengatakan semuanya, aku berjanji kita akan melewatinya bersama"
"Bukankah lebih cepat lebih baik, Bu?" ucap Kahyangan yang masih dalam dekapan Bumi.
"Aku tau, sayang"
TRIIIIIIIIING
Bunyi lift dan terbukanya pintu kotak besi itu membuat pasangan muda yang sedang dimabuk cinta langsung mengurai pelukannya.
"Besok aku ada kuliah pagi, habis itu akan menemui anak-anak seperti biasa, tapi aku belum tau apakah Ay akan ikut atau tidak" ucap Kahyangan yang nampak sedikit Kebingungan.
"Aku akan menemanimu, Aku dan kakak sudah mengajukan cuti beberapa hari"
Kahyangan menoleh sambil menautkan kedua alisnya tentu itu membuat Bumi terkekeh karna gemas melihat raut wajah gadis itu
"Wajahku sama dengan kakak, anggap saja aku kakak, bagaimana?"
Kahyangan tersenyum simpul sambil mengusap pipi kiri Bumi dengan tangan lembutnya.
"Kamu ya kamu, Air ya Air. kalian tentu berbeda bagiku" ucap Kahyangan.
Bumi mengusap kepala Kahyangan, ia sedang menahan rasa ingin mencium kening gadis itu karna merasa bahagia sebab tentunya hanya ia yang ada di hati gadis itu tak perduli sedekat apa hubungan Kahyangan dengan sang kakak.
Kereta besi mewahnya kini sudah berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang nampak selalu sepi, karna memang Kahyangan hanya tinggal berdua dengan sang ibu.
"Masuk dulu yuk, ibu juga belum tidur kayanya" ajak gadis itu setelah melepas setbelt.
Bumi hanya mengangguk, kini keduanya turun dari mobil kemudian berjalan bergandengan menuju pintu rumah.
Kahyangan langsung membuka pintu yang memang belum terkunci.
"Bu, Yayang pulang"
Gadis itu segera memeluk wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi meja makan dengan setumpuk kertas di atasnya.
"Iya, sayang" jawab Ibu.
Bumi hanya tersenyum tipis saat melihat betapa manisnya Ibu memperlakukan anak semata wayangnya itu sama persis dengan mamanya.
"Bu" sapa Bumi.
Ibu pun langsung memeluk hangat pemuda yang kini menjadi sandaran hati putrinya itu.
"Apa kabar, Bumi?" tanya Ibu setelah mengurai pelukannya.
"Baik, ibu sendiri bagaimana?"
"Seperti yang kamu lihat, semua baik-baik saja" sahutnya dengan senyum khas memancarkan aura keibuan.
Hatinya kembali berdebar hebat saat lagi dan lagi menangkap sebuah pajangan yang menempel di sisi jam dinding, matanya mulai memanas seakan ingin menolak takdir yang sedang ia hadapi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada cinta segitiga diantara kita!
Aku.. kamu.. dan Tuhan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Bertahan sakit melepaskan sulit ya kak..
Sini pegangan sama Mak othor aja 🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan ♥️