
🌻🌻🌻🌻🌻
BRAAAAAKKKK
Reza melempar Ponselnya ke atas meja kerja setelah menutup telepon dari orang suruhan yang bertugas menjaga Langit di luar kota, kepalanya langsung berdenyut pusing saat menerima beberapa laporan tentang anak angkatnya itu.
Abang!!!
Apa jadinya kamu nanti kalo sampe mereka nemuin kamu, sejauh apapun kamu di pisah in tapi darah juga yang akan menyatukan.
Pria berjas hitam itu mendesah, yang dipikirkan tentu adalah anak bungsunya kelak yang mungkin akan terkejut jika tahu asal usul kelurga pemuda yang ia cintai itu, terlebih istrinya juga tak mungkin melepas Langit begitu saja.
Reza sedang bersusah payah membuat Langit hanya fokus pada kelurga RAHARDIAN, bukan yang lain.
Meski kelak takdir harus mengarahkan nya pada sebuah kenyataan yang sudah delapan belas tahun Reza dan papanya simpan rapat.
.
.
Tok..tok..tok..
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk" ucap Reza malas.
Seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu masuk dan menunduk hormat kemudian mengangguk saat Reza menyuruhnya untuk duduk.
"Terimakasih, Tuan"
"Kamu yakin?" tanya Reza tanpa basa basi lagi yang langsung ke inti permasalahannya.
"Yakin, Tuan. ini lebih cepat dari yang kita duga" ucapnya serius.
Reza membuang nafasnya kasar, ia menyadarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Terus awasi dan perketat semuanya tapi jangan sampai Langit curiga kalau Kalian ada di sekelilingnya" titah Reza penuh penegasan tak ingin di bantah
"Siap, Tuan. Kami akan terus mengawasinya dua puluh empat jam penuh"
Reza mengangguk kemudian menyuruh pria itu keluar dari ruangannya.
.
.
.
*****
"Gue balik duluan ya" seru Langit pada tiga temannya saat di parkiran mobil universitas tempat ia mengemban ilmu hampir tiga tahun ini
Mobil hitam mewahnya membawa ia kembali ke apartemen setelah hampir delapan jam ia berada di campus.
"Iya, Den" sahut Neni dari dalam gudang kosong.
"Mbak ngapain disini?" tanya Langit bingung.
"Ah, enggak" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mbak hari ini masak gak?, aku laper banget"
"Masak dong, Den. Saya angetin dulu ya" ucapnya sambil berpamitan menuju dapur.
"Ya udah, saya mandi dulu"
Langit bergegas ke kamarnya, ia melempar tas punggungnya ke sofa kemudian berbaring di tengah kasur untuk merebahkan sejenak tubuhnya yang terasa begitu lelah, matanya mulai ia pejamkan namun baru dia detik lamanya dering ponsel di saku celana mengagetkannya
Sayang...
Mata yang tadinya ingin terpejam pun kini terbuka lebar saat tahu siapa yang meneleponnya saat ini.
"Hallo yank" Sapa Langit, ia tersenyum simpul seperti biasanya seakan sang kekasih sedang ada di hadapannya.
"Hallo, Abang dimana?" tanya si bungsu.
"Dirumah, baru sampe pulang kuliah"
"Aku kangen, kangen, kangen, kangen!" ucap Cahaya dengan manjanya, jika gadis itu ada didekatnya sudah pasti Langit akan menciumi kedua pipi kekasihnya itu.
"Iya, Abang juga kangen. Tapi masih lama ya ketemunya"
"Ya kali aja, kaya kemarin Abang tiba tiba pulang gitu" rengek Cahaya.
"Kemarin karna urusan penting, yank. kalo gada hal mendesak ya Abang pulang kaya biasanya dua bulan sekali"
"Hem, asal jangan tiga tahun sekali ya ya" kekeh Cahaya.
.
.
.
.
"Ini kan Abang Langit, bukan Abang Toyib!!!"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Yang penting pulang, setor 🤣🤣🤣🤣
karna akan lanjut disini, mungkin kalo ada waktu bisa sering up buat ceritain 3 cebong.
Moga kuat dan sehat 🙏🙏
Like komen nya ya jangan lupa biar makin seneng buat up 😪