Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 204


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Mohon maaf.. pasien di nyatakan sudah meninggal dunia


Penuturan Dokter langsung membuat Diana Shock berat sampai tak sadarkan diri, Langit dengan sigap membopong tubuh ibu kandungnya itu menuju sofa.


"Mami, sadar Mam"


Langit yang panik lebih fokus pada Diana sampai ia harus mengabaikan panggilan Melisa yang ingin mengabarkan jika Cahaya telah sadar.


"Mami, Abang mohon buka matanya ya, jangan buat Abang takut kaya gini"


Langit menitipkan Diana pada salah satu suster selama ia berbicara dengan seorang dokter menyangkut soal permintaan Nana sebelum gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Pria dewasa yang kini begitu banyak memikul beban perasaan itu melangkah gontai menuju tempat Diana beristirahat.


"Mam.."


"Nana pergi. Nana tinggalin Mami, Bang" lirih Diana yang terisak dalam dekapan Putra tunggalnya.


"Mami yang ikhlas ya, jangan buat Nana justru berat untuk pergi" Langit terus mengusap punggung wanita yang sudah melahirkannya itu dengan lembut.


"Mami izinin Nana buat lakuin permintaan terakhirnya kan?, Abang akan bawa Nana kerumah sakit untuk di periksa jantungnya" Dengan ragu ia meminta izin pada Diana karna bagaimanapun Nana adalah tanggung jawab Diana semasa hidup walau Reza yang memilihnya untuk mengurus Diana.


"Ya, biarkan detak jantungnya tetap hidup bersama kita, semoga jantung Nana dan Cahaya cocok"


"Amiin, Mam.. Abang butuh doa Mami" ucap Langit, seburuk apapun masa lalu ibunya, ia akan tetap ingat jika surganya tetap ada disana.


.


.


.


Langit langsung menghubungi Reza untuk memberitahukan kabar duka atas meninggalnya Nana dan yang terpenting adalah tentang keinginan gadis itu yang mau mendonorkan jantungnya pada Cahaya jika keduanya berjodoh dalam hal kecocokan, mengingat selama ini si bungsu sulit sekali mendapat donor yang pas karna ukuran jantung yang kecil.


Reza bersiap mengerahkan seluruh team dokter terbaik di rumah sakit untuk kedatangan Almarhumah Nana yang akan di periksa lebih dulu.


Satu jam berselang semuanya kini tengah bersiap untuk melakukan pemeriksaan.


"Hasilnya bagus, kita bisa lakukan sekarang juga"


Semua orang yang berada di depan pintu ruang Pemeriksa langsung berucap syukur, berbeda dengan Melisa yang justru malah tak sadarkan diri saat mendengar penuturan dokter.


"Ra... "


"Buna.."


"Mama... "


Reza meminta si kembar menemani Melisa sedangkan ia dan Langit menemui Cahaya yang masih berada di ruang perawatannya.


"Adek banyak berdoa ya biar semua lancar" ucap Reza pada si bungsu.


Ini hari adalah hari yang paling di nanti oleh keluarga Rahardian selama lebih dari dua puluh tahun menanti.


Tak pernah terbersit dalam bathinnya jika Nana lah yang akan menjadi pendonor bagi gadis kecilnya.


"Tapi adek takut, Pah" jawab Cahaya yang nampak cemas.


"Ini kesempatanmu sayang, Papa mohon untuk kuat ya" Reza menciumi seluruh wajah si bungsu sambil menitikan air mata haru dan bahagia.


"Jangan takut, Impian kita sudah di depan mata" timpal Langit meyakinkan dan juga memberi kekuatan untuk kekasih hatinya itu.


"Kamu tahu kan, sebesar apa Abang mencintaimu, Berani dan percaya bahwa semua akan berjalan lancar"


Reza dan Langit kembali menciumi Cahaya hidup mereka secara bersamaan di kedua pipi gadis itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat berjuang little princess RAHARDIAN....


🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾


Sembuh ya cantik..


Biar mak othor gak di bilang jahat mulu, 🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan