
🌻🌻🌻
Reza meremat kemeja yang terlempar tepat di mukanya, tercium parfum yang memang bukan miliknya.
"Ayo jelaskan!" teriak Melisa lagi.
"Ra, ini gak kaya yang kamu fikirin" ucap Reza panik dengan kemarahan istrinya yang baru ia lihat untuk pertama kalinya.
"Apa? memang mas Reza tau yang aku fikirin, hah?"
wanita hamil itu berjalan mundur beberapa langkah, menyeka beberapa kali air mata yang membanjiri pipinya.
"Kamu tau, Mas. bagaimana aku harus meyakini diriku sendiri bahwa kamu disana tak melakukan hal diluar batas mu" ucapnya lirih dengan nada lebih pelan.
"Demi tuhan,Ra. aku tak melakukan hal konyol diluar sana"
"Apa kali ini aku harus percaya padamu lagi?" tanya Melisa di sela sela Isak tangisnya.
"Harus, Ra. Karna aku tak melakukan apapun"
"Kemana mas Reza tadi pagi?, pergi menemui wanita yang semalam denganmu kan?"
Reza terdiam, membenarkan ucapan sang istri hanya akan memperkeruh suasana.
"Ya, aku datang menemuinya lagi" jawab Reza setelah membuang nafas kasar.
Melisa duduk lemas disisi tempat tidur menenggelamkan kan wajahnya di atas tangan yang melipat di lututnya.
"Ra, kumohon jangan lakukan ini, aku tak pernah mengkhianati mu, percayalah"
"Aku lelah, Mas. kamu selalu meninggalkanku"
"Aku disini Sayang, aku disini"
Reza berusaha meraih tubuh istrinya, namun Melisa terus saja meronta.
"Mas Reza selalu membuatku menunggu" lirihnya sedih, hanya guncangan di bahu yang menandakan betapa hebatnya wanita hamil ini menangis.
"Maaf, aku takan mengulanginya lagi" ucap Reza sambil memaksa Melisa agar masuk kedalam pelukannya.
Ia dekap tubuh lemas itu, diangkatnya dan dibaringkan diatas tempat tidur.
****
"Istrimu tak turun untuk makan malam?" tanya mama saat Reza datang keruang makan.
"Enggak, Mah. kita makan dikamar malam ini" jawab Reza sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan.
"Iya, Pah"
Reza bergegas menaiki tangga dengan sangat hati hati karna tangannya membawa nampan berisikan makanan untuk Melisa.
Ia buka pintu dengan pelan, dilihatnya sang istri masih duduk bersandar di punggung ranjang.
"Makan dulu ya," rayu Reza yang sudah siap menyuapi Melissa.
KHUMAIRAHnya menggeleng, masih ada tetesan air bening yang jatuh dari matanya.
"Ra, ingat ini" Reza mengusap perut yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Makan ya, kamu boleh marah padaku tapi bukan berarti kamu menyiksa dirimu sendiri, apalagi anak kita" ucap Reza sedih, ia benar benar terpukul melihat keadaan istrinya yang kacau.
"Aku akan makan jika aku lapar" jawabnya ketus sambil membuang muka.
"Jangan egois, bukan hanya kamu yang lapar sayang, ayo buka mulut mu setidaknya ini untuk anak kita"
"Aku bilang gak ya gak!" kini nada bicaranya kembali meninggi.
Reza menyimpan kembali piring itu keatas nakas, tak ingin ada pertengkaran akhirnya Reza memilih mengalah, memaksa pun tak ada gunanya.
Ia biarkan istrinya merajuk, meluapkan rasa kecewa juga amarahanya, dan Reza sangat memaklumi hal itu.
Lama keduanya terdiam, tak saling bicara apapun tampak berbeda dengan malam malam yang biasanya mereka lalui selama ini, Reza tak berani menggoda apalagi mengeluarkan jurus gombalnya.
"Tidur Ra, sudah malam" ucap Reza saat melihat jam sudah hampir tengah malam.
Melisa tetap bergeming, ia masih duduk bersandar dan belum mau membaringkan tubuhnya walau Reza berkali kali menepuk Kasur disisinya agar sang istri cepat merebahkan tubuhnya yang sedari tadi hanya duduk bersandar.
"Aku harus berbuat apa lagi agar kamu mau memaafkan ku?" dengus Reza kesal
"Bicara, Ra.. jangan diam terus aku gak suka di giniin" kini Reza mulai menunjukan protesnya.
Diamnya sang istri membuatnya sangat frustasi, ia lebih memilih di maki maki daripada melihat wanita yang ia cintai diam membisu dihadapannya.
"Cepat tidur, atau aku akan memaksa hal yang aku tahu kamu tak ingin melakukannya" ancam Reza tak main-main.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
ngancem nya enak banget bang?
LIKE komennya yuk ramaikan ❤️