
🌻🌻🌻🌻
Langit datang dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampan yang kian semakin dewasa, tubuhnya semakin tinggi dan putih terlihat aura yang jelas lebih berbeda dari sebelumnya.
Target tiga tahun menyelesaikan kuliahnya di luar kota benar-benar ia buktikan. Tiada hari tanpa belajar dan belajar semua tugas yang diberikan dosen selalu ia selesaikan dengan baik dan lagi-lagi ia menyandang predikat mahasiswa terbaik di campus nya.
"Bunaaa...." Langit merentangkan kedua tangannya siap memeluk Melisa sang ibu angkat yang ia agungkan lebih dari apapun, jika dulu ia yang selalu di dekap lain hal dengan sekarang yang justru Melisa lah yanh tenggelam dalam pelukan putra angkatnya.
"Kamu makin tinggi aja disana makan bambu ya" ejek Reza pada Langit yang merasa tak dianggap.
"Haha, enggak dong Om" sahut Langit yang sudah mengurai pelukannya.
"Apa kabar, Om" sapa Langit pada Reza, keduanya pun berpelukan hangat, hubungan keduanya semakin dekat karna Reza sering membicarakan perihal perusahaan pada Langit, pemuda tampan itu selalu merespon dengan baik membuat Reza semakin percaya padanya.
"Baik, harus baik demi menjaga calon istrimu itu yang semakin manja dan hobby tidur"
Langit tertawa, bayangan Cahaya terlintas di pelupuk matanya, kepulangannya kali ini memang hanya kedua orang tuanya saja yang tahu, ia sengaja tak memberi kabar apapun pada si kembar.
"Biarkan ia tidur, Om. karna kalau keseringan main yang ada aku banyak saingan" kekeh Langit yang mendapat pukulan kecil dari Melisa.
"Saingan apa?, ada Abang kurir Dateng kasih pesanan Buna aja di senyumin dia ngumpet"
"Adek jadi takut sama cowok semenjak gak ada
Abang" tambah Melisa lagi.
"Abang pun melakukan hal yang sama disana, Bun" jelas Langit. Pasangan muda itu berjanji untuk menutup hati pada siapapun.
"Ngobrolnya lanjut nanti, aku laper" Reza menarik tangan istrinya menuju mobil, ketiganya meninggalkan Bandara menuju sebuah restauran.
.
.
.
"Padahal aku kangen masakan Buna" bisik Langit saat ketiganya sudah duduk menunggu Pelayan datang melayani mereka.
"Buna gak masak, isi kulkas kosong" Melisa balik berbisik membuat Reza menatap keduanya dengan tajam.
"Ngapain sih bisik bisik?" tanya Reza kesal.
"Haha, enggak, Mas. Abang kangen sama masakan ku tapi di kulkas udah gak ada apa-apa" jelas Melisa jujur
"Aku lupa, By"
Pesanan tiba, semua terhidang rapih di atas meja berbagai menu tersedia dari lauk, daging bahkan seafood begitu pun dengan sayuran sebagai pelengkap.
"Makan yang banyak, jagain adek itu harus extra tenaga" Goda Reza pada calon menantunya itu.
"Siap, Om. Aku kuat lahir batin untuk itu" balas Langit sambil mengulum senyum.
"Lahir aja dulu, bathinnya nanti aja kalau udah sah"
Melisa dan Langit langsung tertawa, tapi tidak dengan Reza ia hanya mengulum senyum di hadapan keduanya.
Mereka makan begitu lahap sampai habis setelah nya bersantai sambil menunggu pesanan yang lain datang. Melisa sengaja memesan beberapa makanan untuk anak-anaknya nanti dirumah..
Wanita itu hanya diam memperhatikan suami dan anak angkatnya itu berbicara banyak hal, mulai dari kuliah hingga nanti dua hari ini dirumah Langit wajib ikut dengannya di kantor.
"Kamu kuliah tinggal beberapa bulan lagi, jadi harus siap dari sekarang" ucap Reza setelah meneguk air putihnya.
"Kenapa gak lanjut lagi sih, Mas?" tanya Melisa pada suaminya.
.
.
.
.
.
.
"Itu gampang, Ra, Ambil alih salah satu perusahaan dan buktikan kamu mampu, ingat ya! anak gadis Om gak kenyang makan cinta!"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Kasih batu bang kalo gitu 😂😂😂
Like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗