Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 164


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Melisa yang sudah rapih dengan rambut sedikit basahnya datang ke kamar si sulung, waktu sudah hampir jam sepuluh siang tapi anak itu belum juga nampak batang hidungnya, bahkan ia melewatkan sarapan pagi bersama keluarga.


"Kak, ayo bangun!" ucap Melissa saat duduk di tepi ranjang, Ia usap punggung anak Kesayangannya itu dengan lembut


"Hmmm" sahutnya tanpa membuka mata.


"Bangun, udah siang. Kamu pasti bergadang ya?" tanya Melisa, ia tahu hal itu karna melihat perangkat game komputer Air masih menyala.


"Hmm." sahutnya lagi dengan nada lebih pelan.


Wanita cantik itu tak lagi berbicara, ia hanya memuaskan matanya untuk menatap wajah damai sang anak yang terlelap.


Esok bukan lagi dirinya yang akan menjadi sandaran saat anak itu lelah, mungkin Air tak kan mencarinya lagi saat ada masalah dan ingin menangis.


Melisa harus kuat, ia akan iklhas melepas sang buah hati pada gadis yang sudah di tetapkan menjadi jodohnya.


.


.


.


Air menggeliat pelan untuk merentangkan otot tubuhnya yang terasa begitu lelah, semalaman bermain game membuat leher dan tangannya sedikit keram dan nyeri.


"Laper" gumamnya sambil menghembuskan nafas.


Wajah berantakannya langsung menoleh ke arah nakas tempat ponselnya tergeletak begitu saja.


Ia raih benda pipih itu kemudian di usapnya dengan segera.


"Huft, kebiasaan! gada satupun yang di bales!" sungutnya kesal saat semua pesan yang ia kirim pada Hujan hanya di baca tanpa satu pun terbalas.


Air melempar asal benda itu ketengah kasur, ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, usai membersihkan diri tentu ia langsung turun kelantai bawah untuk mencari mamanya, hal wajib yang selalu ia lakukan.


"Mah... mamaaaaaa... mamanya kakak" teriaknya di ruang tengah.


"Iya, kak" sahut Melisa yang baru saja keluar dari kamar Langit.


"Sepi, pada kemana?" tanyanya manja sambil memeluk Melisa.


"Pada keluar, Abang sama adek chek-up, kalau Bumi sama Yayang ada perlu juga. Papa lagi kerumah Oppa" jelas Melisa sambil mengusap kepala si sulung.


"Mama gak ikut?" tanya Air dengan sorot mata polos seperti bayi.


"Enggak, kan kakak tadi masih tidur, sayang" jawab Melisa.


Air tersenyum haru lalu kembali mengeratkan pelukannya.


"Sayang mama banyak-banyak, cuma mama yang istimewa" ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Hahaha, anak mama besok sudah mau jadi suami orang loh" goda Melisa.


"Tapi kan kakak' tetep anak mama, anak Kesayangannya mama, iya kan?" jawabnya sambil merengut


"Selalu, sebesar apapun kakak, kakak tetep bayinya mama" kekeh Melisa lalu menciumi seluruh wajah Si sulung, hatinya kini banyak menyimpan rasa yang tak bisa ia ucapkan tapi sebagai seorang ibu, tentu ia ingin yang terbaik untuk anaknya.


*********


Usai makan malam, Air langsung pergi keluar untuk menemui beberapa teman-temannya, ada Bumi juga nanti yang sudah berjanji akan menyusul setelah menjemput Kahyangan dari tempat lesnya.


Sebuah cafe mewah sudah Air booking untuk acaranya malam ini, semua teman dekatnya berkumpul menjadi satu dalam sebuah ruangan yang begitu luas.


Tak ada wanita dan Alkohol tentunya, ini adalah pesta bujang untuk melepas masa lajang Air esok hari.


"Penasaran banget sama calonnya si, Ay" ucap salah satu teman satu tongkrongan.


Air hanya tersenyum kecil, Cantik baginya relatif karna semua wanita itu cantik tapi menurut anak manja itu wanita tercantik tetaplah sang mama.


"Cakep lah, kalo gak cakep mana mau ya ,Ay" timpal sahabatnya lagi sambil terkekeh.


"Yang penting cewek" sahut Air santai, ia menyandarkan punggungnya di salah satu sofa yang melingkar, ada dua belas pemuda yang duduk bersamanya menikmati minuman soda kaleng dengan beberapa cemilan di atas meja.


"Bumi, mana?" tanya mereka.


"Gak tau, belom sampe kayanya"


"Eh, tuh dia" tunjuk salah satu temannya pada sosok pemuda yang begitu sama persis dengan Air.


Air merogoh ponselnya, ia mengusap layar benda pipih itu dengan ibu jari dan kini terlihat lah foto ia dan Hujan.


"Gak di bales juga!" dengusnya pelan, lalu kembali memasukan Ponselnya ke saku celana.


Riuh suara musik dan teriakan teman-temannya tentu membuat Bumi tak nyaman, jika ini bukan acara kakaknya tentu ia takan pernah ada disini, ia akan memilih tidur atau bermain PS dengan Langit.


"Calon juga nih kayanya" tiba-tiba suara temannya membuyarkan lamunan Bumi.


"Calon apa?" tanya Bumi.


"Calon manten, kaya kakak Lo" ucapnya lagi sambil terkekeh.


"Gak, lah!" sahut Bumi Singkat tanpa menoleh.


"Cewek Lo anak sastra, kan?" tanya temannya lagi, kali ini dengan wajah serius, tentu itu membuat Bumi Langsung mengalihkan pandangannya ke arah temannya itu.


"Iya, kenapa?"


"Gak apa-apa, gue cuma mastiin aja. Gue pernah liat kalian di Mall dan pacar gue kebetulan kenal sama cewek Lo" jelas teman Bumi.


"Setau gue itu universitas non muslim, kan?" tambahnya lagi.


Pertanyaan pemuda di sebelahnya itu seakan menusuk dada Bumi, saat ia mati-matian menolak lupa akan hal itu dalam detik yang sama ada saja yang mengingatkannya akan sebuah perbedaan yang kini tengah ia dan Kahyangan jalani.


"Hem, iya"


"Ok, lah. perjuangin kalo Lo sanggup tapi mundur lebih baik. Meski kita bukan anak soleh tapi seenggaknya kita tau mana yang harus kita cintai, Bu" Ia menepuk bahu Bumi sekali sebelum pergi kearah teman-teman yang lainnya.


Bumi menghela nafasnya, ia pejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan gadis Kesayangannya itu walau hasilnya nihil justru senyum manis kahyangan terlintas dalam pelupuk matanya yang membuat ia ikut tersenyum juga.


.


.


.


.


.


.


"Kamu adalah kesalahan terindahku yang ku simpan dalam sebuah rasa!"


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Nanti salahnya di benerin lagi ya, kak 🤭🤭🤭


sampe bener pokonya 😂


Like komen nya yuk ramai kan